KAMU PASTI BISA SEPERTI ANDREA HIRATA!

Membaca tiga berita Harian Kompas pada Minggu, 2 Agustus 2009, hlm. 17 dan 18, saya senang dan bahagia. Andai ada novel lain yang mampu berpengaruh seperti Laskar Pelangi…, begitu mungkin kata hati kamu. Melalui Bintang Writing School, kamu bisa memulai untuk melangkah ke sana. Kamu pasti bisa seperti Andrea Hirata!

ENERGI DARI NEGERI LASKAR PELANGI

Ilham Khoiri

Belitung, pulau kecil penghasil timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sedang ”booming”. Kawasan yang dulu terisolasi itu kini masyhur, didatangi banyak wisatawan, dan masyarakat lokal bergairah menyambut harapan baru. Inilah momentum kebangkitan yang tercipta, antara lain, berkat tetralogi novel ”Laskar Pelangi” beserta filmnya.
”Negeri Laskar Pelangi”. Begitu masyarakat setempat menjuluki Pulau Belitung—dalam ejaan lama disebut Belitong. Julukan itu kini jadi buah bibir di mana-mana, termasuk menjadi tagline Belitung Pos, koran setempat.
Semua itu tak lepas dari sukses tetralogi novel karya Andrea Hirata (pemuda asal Gantung, Belitung Timur): Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Novel itu berkisah perjuangan anak-anak di pulau tersebut untuk bersekolah di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan. Setelah melewati berbagai hambatan, beberapa anak sukses melanjutkan studi ke Jakarta, bahkan di Eropa.
Seperti diketahui, novel yang pertama kali diterbitkan Bentang Pustaka tahun 2005 itu meledak dengan mencetak angka penjualan lebih dari sejuta eksemplar. Karya ini menjadi fenomenal dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.
”Mungkin karena ceritanya adalah kisah semua orang, yang harus berjuang mengatasi buruknya pendidikan di Tanah Air,” kata Andrea Hirata, pekan lalu.
Saat diangkat jadi film tahun 2008, Laskar Pelangi dengan sutradara Riri Riza juga sukses di pasaran. Selama beberapa bulan tayang di bioskop, film garapan Miles Films dan Mizan Productions itu ditonton sekitar 4,6 juta orang. Kualitas film itu juga diapresiasi secara internasional, termasuk dengan masuk dalam seksi panorama di Berlinale International Film Festival awal tahun 2009.
Novel dan film itu tentu saja mengangkat popularitas Belitung. Pulau kecil yang dulu hanya dikenal sebagai penghasil timah menjadi masyhur di seantero Nusantara, bahkan mancanegara. ”Film sangat mudah mempromosikan suatu kawasan karena memotret secara hidup pemandangan, budaya, dialek, dan masyarakatnya,” kata Riri Riza.

Kebangkitan
Sukses novel dan film Laskar Pelangi segera memicu harapan baru bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Dengan pasang julukan ”Negeri Laskar Pelangi”, mereka berusaha mendorong kebangkitan Pulau Belitung—yang kini terbagi dalam dua kabupaten: Belitung dan Belitung Timur. Itu terlihat dari penyegaran wajah kota, peningkatan wisatawan, dan gairah masyarakat menyambut harapan baru.
Perubahan terbesar tampak di Manggar, ibu kota Belitung Timur, yang kini memiliki kompleks perkantoran yang bagus. Hampir semua jalan raya penting di pulau itu, misalnya, sudah beraspal mulus, bahkan hingga masuk ke pelosok menuju pantai yang dijadikan obyek wisata. Jalan raya di tengah kota diperlebar. Beberapa gedung baru tengah dibangun, termasuk beberapa yang dikabarkan akan dijadikan hotel.
Perubahan di sektor wisata tampak di sekitar Tanjung Pandan, ibu kota Belitung. Pantai Tanjung Tinggi dan Tanjung Kelayang—dua pantai indah berjarak sekitar 25 kilometer dari Tanjung Pandan, yang dijadikan tempat shooting Laskar Pelangi—kini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.
Rod Swift (61), warga Inggris, contohnya, sangat menikmati pantai itu karena punya pasir putih, air jernih, dan batu susunan granit indah luar biasa. ”Rasanya saya ingin mati tua di sini saja,” katanya dengan mimik serius.
Meski belum ada catatan resmi, masyarakat lokal, para pedagang suvenir, dan pengelola penginapan merasakan lonjakan wisatawan setelah ledakan novel dan film Laskar Pelangi. Mereka itu bisa wisatawan biasa, kelompok fotografer, atau turis asing. ”Dulu, pantai ini sepi. Sekarang ramai sekali dan puluhan tamu menginap di sini,” kata Rudi Helwansa, manajer Kelayang Beach Cottages di Tanjung Kelayang.
Di Belitung Timur, efek novel dan film pada wisata lebih kentara lagi. Sebagian turis sengaja datang demi menelusuri jejak Laskar Pelangi di Gantung. Mereka menengok sekolah bekas pembuatan film yang hampir roboh, mengunjungi rumah Ikal dan Bu Muslimah (dua tokoh penting dalam cerita), dan melihat pasar Gantung.
”Bahkan, ada paket tur khusus Laskar Pelangi,” kata Yusmawandi, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur.
Pemilik rumah yang dijadikan shooting film pun merasakan kunjungan wisatawan. ”Lebih dari 200 orang yang bertamu. Rumah ini masuk majalah,” kata Ahmad Ismail (70), pemilik rumah untuk shooting rumah Ikal dan Pak Arfan.
Tentu saja proses produksi film itu sendiri—seperti film Sang Pemimpi yang digarap selama 1,5 bulan di Belitung—juga memberi efek ekonomi tersendiri. Dari total Rp 11 miliar biaya produksi, kata Mira Lesmana dari Miles Films, hampir Rp 4 miliar dihabiskan di Belitung, antara lain untuk honor kru lokal, katering, penginapan, dan rental mobil.

Karya kreatif
Kebangkitan Belitung mencuat menyusul sukses tetralogi novel dan film Laskar Pelangi. Situasi ini mirip dengan Kota Wellington di Selandia Baru yang tumbuh cepat setelah dijadikan markas utama pembuatan film trilogi The Lord of The Ring. Begitu pula sukses film Slumdog Millionaire yang segera menarik perhatian dunia pada kehidupan kaum miskin di tengah kota Mumbai, India.
Semua itu seperti meneguhkan tesis Richard Florida, ahli studi kota asal Amerika Serikat: kemajuan kota didorong kelas kreatif yang berdaya inovasi tinggi sehingga bisa menggerakkan perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Di Belitung, tetralogi novel dan film Laskar Pelangi telah memompa energi memajukan pulau itu. Masyarakat berharap, energi itu segera diikuti program nyata, seperti menyiapkan infrastruktur wisata, seperti transportasi, promosi, dan penginapan—yang masih sangat minim.
”Jika pemerintah masih terus gagap, momen ini bisa hilang,” kata
Saderi (68), tokoh masyarakat di Gantung.

SEJARAH: SEPERTI TEBU YANG JADI SEPAH

Sejarah Pulau Belitung seperti kisah tebu yang dibuang setelah jadi sepah. Semasa zaman Belanda hingga Orde Baru, pulau itu ditimang-timang lantaran menghasilkan timah yang memberi untung besar. Saat harga timah merosot dan tak lagi jadi primadona ekspor, kawasan itu pun ditinggalkan.
Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah besar pada tahun 1851, yang dikenal dengan nama Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB). Belitung memberi kentungan besar dengan timah yang diekspor ke Eropa. Untuk memperbesar usaha, didatangkanlah para pekerja tambang dari China.
Belanda memenuhi kebutuhan makanan bagi para pekerja dan membuat perumahan bagi karyawan dan pejabat tambang timah, antara lain di Bukit Samak di Manggar (sekarang Belitung Timur). Meski para pekerja timah mendapat kesejahteraan, tetapi buruh dari kalangan Melayu tetap dianaktirikan. ”Ada strata kelas sosial ciptaan Belanda, yaitu pejabat timah dari Eropa, kuli China, suku Laut, dan masyarakat Melayu lokal,” kata Salim.
Kelas itu sangat ketat membatasi gerak-gerik masyarakat. Pergaulan pejabat timah tinggi dan rendah yang beda kelas dipisahkan. ”Masyarakat yang tak terlibat dalam tambang timah sama sekali tak bisa menikmati kemakmuran itu,” kata Sa’ei MS (73), Ketua Lembaga Adat Belitung Timur di Manggar.
Ketika Indonesia merdeka, Belitung jadi bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Namun, timah masih dikelola elite Belanda hingga tahun 1959. Selepas itu, perusahaan timah dikeola PN Timah, lantas menjadi PT Timah Tbk. Semasa itu, timah masih menjadi primadona meski keuntungannya banyak diangkut ke pusat.
Pertengahan tahun 1980-an, harga timah merosot, kemudian pertengahan tahun 1990-an, pemerintah resmi menutup penambangan tersebut. Belitung pun ditinggalkan sebagai kawasan telantar.
Setelah reformasi 1998, masyarakat ramai-ramai mulai menambang timah. Ada yang melimbang secara tradisional dengan memunguti pasir dan tanah di bekas tambang timah. Ada lagi tambang timah inkonvensional (TI) yang mengerahkan alat berat menyedot pasir secara besar-besaran. Akibat penambangan ini, tanah di Belitung kini rusak parah.
Bekas penambangan yang tak direklamasi meninggalkan lubang alias kolong bekas galian. Galian itu merusak jalur air, bahkan mengancam kelestarian lingkungan pantai yang indah. Penyedotan dan lumpur timah mencemari sungai.
”Kalau penambangan liar ini dibiarkan terus, kami tidak tahu bagaimana nasib Belitung 20 tahun lagi? Jangan-jangan sudah tenggelam,” kata Khairil Musridiyanto, warga Manggar yang juga Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung Timur.
Tahun 2000, wilayah itu memisahkan diri dari Sumatera Selatan dan masuk dalam Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Belitung kemudian terbagi dua, yaitu Belitung (induk) dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibu kota Manggar. Meski sudah dimekarkan, nasib kawasan belum jauh berubah, masih tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
”Untunglah muncul novel dan film Laskar Pelangi. Semoga karya itu menandai kebangkitan Belitung,” kata Saderi (68), tokoh masyarakat di Gantung, Beli- tung. (iam)

KETIKA ANAK PULAU JADI ARTIS

Ilham Khoiri

Tetralogi novel serta film ”Laskar Pelangi” dan ”Sang Pemimpi” telah memoles citra Pulau Belitung. Lebih dari itu, karya kreatif itu juga berhasil menghidupkan potensi lokal. Seiring sukses layar lebarnya, para bintang film dari pulau timah itu pun meraih impian yang tak terbayangkan.
”Ikal, Arai, siap! Camera… roll.. action!” Teriakan Riri Riza, sang sutradara berambut keriting, itu menggema berulang-ulang sepanjang shooting, Senin (27/7). Adegan diambil di tengah semak belukar bekas penambangan timah di Gantung, Belitung Timur. Terik matahari menyengat kulit.
Begitu mendengar aba-aba, dua bocah kecil berkaus kumal tersebut meloncat dari balik semak, lantas berlari. Juru kamera pun sigap menyorot suasana itu. Adegan diambil berulang-ulang sehingga kedua bocah tersebut tampak kelelahan.
Pengambilan gambar film Sang Pemimpi, sekuel dari Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengisahkan perjuangan pendidikan dan mimpi anak-anak muda di Belitung, tengah berlangsung di Pulau Belitung.
Hampir sebulan ini puluhan kru dan pemain film produksi Miles Films dan Mizan Productions itu berkutat di sana, untuk kemudian melanjutkan shooting di Bogor, Depok, dan Jakarta. Mereka berjibaku siang dan malam.
”Kadang, kami shooting dari subuh sampai dini hari berikutnya,” kata pemeran Ikal, Zulfani Passa (13), siswa kelas III SMPN II Tanjung Pandan, Belitung. Siang itu, bocah tersebut tetap bersemangat berakting meski salah satu jempol kakinya dibebat kain akibat terluka sebelumnya.
Remaja berambut keriting itu memerankan Ikal pada film Laskar Pelangi yang sukses tahun 2008. Pada Sang Pemimpi, yang bakal beredar akhir tahun 2009 ini, dia terpilih lagi untuk memerankan tokoh yang sama. Kali ini dia berpasangan bersama Sandy Pranata (12), siswa SMPN I Manggar, Belitung Timur, yang memerankan tokoh Arai. Keduanya bersahabat dengan Jimron, tokoh unik yang dimainkan Rizky Syahrial Djaja (11), remaja asal Jakarta, tetapi ayahnya asli Belitung.
Salah satu keunikan film Sang Pemimpi, juga Laskar Pelangi, adalah keterlibatan para pemain lokal. Dalam sekuelnya, kita bakal menemukan Vikry Septiawan, Ahmad Syaefulloh, dan Azwir Fitrianto, masing-masing memerankan tokoh Ikal, Arai, dan Jimron remaja. Ketiganya remaja asli Belitung yang berkulit sawo matang—sama sekali tak mirip para pemain sinetron di Jakarta yang berwajah indo dan berkulit putih bak pualam.
Selain ketiga karib itu, sebagian pemain lain juga masyarakat lokal. Mereka itu dari kalangan yang jauh sekali dari dunia film: tukang ojek, petani, pedagang, atau rakyat biasa. Tokoh tukang pos, misalnya, diperankan Karyawandi (40), seorang tukang ojek asal Tanjung Pandan. Tokoh ustadz dipercayakan pada Fridaus (63), petani padi di Gantung.
”Dari 15 pemeran utama, lima di antaranya asli Belitung. Be- lum lagi sekitar 2.000 pemain figuran untuk 27 hari shooting. Semuanya orang lokal,” kata Mira Lesmana, produser dari Miles Films.
Mereka berbaur dengan para pemain terkenal dari Jakarta. Sebut saja Lukman Sardi (sebagai Ikal dewasa) dan vokalis grup musik Peterpan Nazril Irham (Arai dewasa). Ada juga artis Rieke Diah Pitaloka (jadi ibu Ikal), aktor Mathias Muchus (ayah Ikal), penyanyi Nugie (Pak Balia), dan penyair Landung Simatupang (Pak Mustar).

Neo-realisme
Bagaimana orang-orang lokal itu bisa terlibat? Itu bermula dari niat untuk membuat film Sang Pemimpi, sebagaimana juga Laskar Pelangi, sebagai karya neo-realis: film yang sebisa mungkin menghadirkan gambaran menyerupai kehidupan nyata. Untuk itu, film mengambil lokasi pengambilan gambar di Belitung (tempat cerita itu berlangsung), dengan setting budaya lokal, dan melibatkan masyarakat setempat sebagai pemain utama.
Untuk memperoleh pemain lokal, kru film mendatangi sekolah. Setelah memotret banyak siswa, mereka menyeleksi pemain lewat wawancara, kemudian melakukan casting. Para pemain terpilih lantas digembleng selama beberapa bulan.
”Ajaib sekali, anak-anak itu punya rasa percaya diri tinggi, bahkan punya sense of camera. Saat film Laskar Pelangi diputar di beberapa festival di Eropa, acting mereka dinilai otentik,” papar Riri Riza.
Tentu, semua itu awalnya tidak mudah. Bayangkan saja, anak-anak sekolah di pelosok desa atau orang-orang kampung pekerja kasar, tiba-tiba harus memainkan peran di bawah sorot kamera di depan khalayak.
Vikry Septiawan (15), siswa Kelas II SMA I Kelapa Kampit, Belitung Timur, contohnya, merasa grogi ber-acting jadi Ikal remaja, apalagi di tengah sejumlah artis terkenal. ”Setelah berlatih, saya baru berani,” kata remaja pemalu itu.

Mobilitas
Sukses film Laskar Pelangi mengubah kehidupan para pemain lokal, terutama para re- maja itu. Mereka sibuk ikut promosi ke beberapa kota dan memperoleh beberapa penghargaan. Popularitas teraih seakan tanpa sengaja.
Para remaja itu masih berusaha bersekolah, hidup wajar, dan membantu orangtuanya bekerja. Zulfani, pemeran Ikal, misalnya, masih mau membantu ayahnya jualan sebagai padagang kaki lima di Tanjung Pandan.
Hanya saja, popularitas dalam film telanjur membuat anak pulau terpencil itu kini kerap dielu-elukan bak artis terkenal. ”Banyak orang memanggil, minta berfoto, dan tanda tangan,” katanya.
Di daerah asalnya, remaja kalem ini memang sudah dianggap sebagai anak berprestasi. Bersama sejumlah pemain lain, dia memperoleh beasiswa studi hingga ke perguruan tinggi. Begitulah, setidaknya nasib mereka tak setragis seperti anak-anak Laskar Pelangi yang harus bersusah payah belajar di gedung sekolah yang hampir roboh.

Ketiga tulisan di atas dikutip dari Harian Kompas (Jakarta), 2 Agustus 2009.

Explore posts in the same categories: REFERENSI

Tag:

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: