IN MEMORIAM

Radhar Panca Dahana
Majalah Gatra, 13 Agustus 2009
1982, Teater Tertutup, Taman Ismail Marzuki, terhelat Temu Sastra Nusantara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Sastrawan terkemuka Indonesia saat itu hampir semua hadir. Ada Taufiq Ismail, Leon Agusta, Ikranagara, Romo Mangunwijaya, dan banyak lainnya. Suasana hangat. Pembicara banyak cerita tentang pengalaman hidup dan kreatifnya.

Di sebuah sesi, seorang anak muda, 17 tahun, maju ke mimbar dan bicara dengan suara bergetar. Seperti protes, acara yang begitu besar dan berharga hanya membicarakan hal-hal yang bisa didapatkan di balik setiap buku mereka, para pengarang itu. Sementara ada tema atau persoalan lain yang lebih penting dan genting untuk dibicarakan, katakanlah soal “sastra nasional”, “peran sosial sastra”, dan sebagainya.

Sebagai jawaban, salah satu pembicara, Sutardji Calzoum Bachri, menukas pendek, “Tak perlu jawaban besar untuk pertanyaan kecil”. “Penyair kapak” itu mengiringi jawabannya dengan mengajukan sebuah buku berjudul besar, Write and Writers, plus satu pemungkas yang mematikan, “Lebih baik bacalah buku yang mungkin sudah terbit sebelum Anda lahir.” Buku itu terbit tahun 1964.

Jawaban khas dari sastrawan yang kala itu sangat dikenal ketajam lidahnya itu, memang sukses –seperti biasa—memancing gemuruh dan tawa yang hadir. Anak muda yang baru memulai karir kesenimanannya itu, terpaku kaku di kursinya. Sampai seorang pria bertumbuh tambun, setengah tua, maju ke mimbar dan “menegur” sang pembicara, “Tidak seharusnya saudara Sutardji menjawab pertanyaan saudara kita yang muda tadi (dengan cara) seperti itu.” Hadirin terdiam. Nampak takzim. Semua mengenal sang “penegur” itu. Salah satu dedengkot yang pernah menjadi anggota DPR dan Dirjen Kebudayaan, Umar Kayam.

Anak muda itu merasa sedikit terhibur. Terlebih saat seorang teman memberitahu bahwa Romo Mangunwijaya mencarinya, mengucapkan salam. Dan di luar gedung, bersama teman wartawan dari koran di mana anak muda itu bekerja sebagai freelancer, Kristanto JB dan Efix Mulyadi dari Kompas, ia ditemui seorang lelaki 40-an, yang kurus, tegak, rambut panjang berkilau perak dan setelan jins biru.

Sambil mengulurkan tangan ia menukas pendek, “Begitulah cara anak muda bertanya.” Lalu ia pergi bersama tiga orang yang tampak seperti pengawalnya. “Main ke rumah,” serunya di kejauhan.
Aku, anak muda itu, tak kenal siapa lelaki macho itu. “Itu Rendra,” bisik Kristanto JB. Aku berkerjap, memandang mas Kris. Dalam kelebat pikirannya nama Rendra adalah sebuah kata yang terpatri di sebuah nisan, bersama Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan lainnya.

Ia belum tahu, dari kelebat bayangan nisan itu, akhirnya ia mendapatkan nisan sesungguhnya, dari sahabat, guru, teman berdebat, kakak yang penuh perhatian, dan bapak yang hangat tapi juga pencemburu: Rendra.

***

Kamis, enam Agustus 2009, sepuluh malam kira-kira, Wahyu Sulaiman Redra, d/h Willybrordus Surendra Broto Rendra, kelahiran Solo, 07 November 1935, memberitahu pada kita semua, pada dunia: ia memulai perjalanan baru, yang lebih panjang, yang abadi, yang selama ini dirasanya begitu dekat, sedekat kata-kata yang dicintainya. Di perumahan Pesona Kahyangan Depok, blok AV 6 no. 5, di rumah putri terkasihnya, Clara Sinta, jenazah mengundang ratusan mobil dan manusia yang takluk pada keheningan, pada sepi tengah malam, membiarkan warga seputar perumahan tetap tidur tenang. Membiarkan sang jasad dirapikan arwahnya, dalam khusyuk dalam do’a.

Perjalanan baru Rendra ini, sebenarnya adalah perjalanan yang almarhum tunggu, jika bukan perjalanan yang sebenarnya. Itulah kerinduan yang sejak lama ia tuliskan, sebagai sebuah pertanyaan, sebagai satu pencarian…

Wahai kamu yang bergerak di cakrawala
……………………………………………………………………
Siapakah kamu?

Mungkin teriakan itu melulu Nyanyian Orang Urakan (1985), tapi lebih terdengar sebagai seorang anak bernama “Suto” yang selalu “Mencari Bapa”. Anak yang gelisah dan begitu sadar betapa kekurangannya sebagai manusia, membuat ia merasa takluk pada sebuah kekuatan, dimana semua makhluk mengacu, pada “kamu yang bergerak di cakrawala”.

Wahyu, sebagai nama depannya –betapapun kita lebih akrab dengan “mas Willy” untuk menyebutnya—adalah sebuah pilihan yang bukan tak sengaja. Buat seorang manusia yang “payah oleh dosa”, nama itu sungguh menjadi impian waktu di lebih setengah abad pengabdiannya pada seni, pada negeri, kebudayaan dan manusia. Waktu di mana tersimpan dalam wahyu, adalah entitas yang membuatnya benar-benar menyerah, dibanding senjata, penjara, intimidasi, ancaman peluru sniper, hujatan, hingga kegelisahan yang tak pernah henti.

Manusia sama saja dengan cerutu
bistik atau pun whiski soda
berhadapan dengan waktu
jadi tak berdaya

Dalam satu perjalanannya di tahun 60-an yang terhenti di sebuah restoran di Moskwa (Sajak-sajak Sepatu Tua, Jakarta, 1972), mas Willy terhenyak oleh sebuah ketakberdayaan. Melihat dirinya sebagai makhluk atomik di tengah semesta yang gigantik. Mendapat bukti dari keyakinannya sendiri, bahwa manusia bukanlah apa-apa jika ia tidak menyelaraskan diri dengan alam: kedaulatan manusia adalah hasil harmoni antara kedaulatan alam dan kedaulatan kebudayaan.

***

Itulah wahyu yang sesungguhnya. Tapi dalam kebudayaan, dalam kesenian khususnya, ia tidak begitu yakin dengan adanya “wahyu”. Seniman kebanyakan bilang “mencari inspirasi” untuk memulai dan mencipta sebuah karya. Sebuah apologia yang baginya tak lebih dari: “ngeluyur malam-malam, duduk lama-lama di kedai kopi dan menghabiskan waktunya dengan obrolan-obrolan kosong, ngelayap sepanjang daerah-daerah mesum, dengan berpakaian kotor duduk di teras toko di waktu sudah jauh malam…(dst)”.

Tulisan yang dibuatnya untuk majalah Basis tarikh 1959 itu, adalah sebuah penegasan dari semangat dan prinsip kesenimanan yang berpihak bukan pada khayalan kosong dan tema-tema romantik, namun pada realitas yang hidup di lingkungan sekitar. Karenanya, ia meneguhkan perlawanannya pada etos romantik “sebagai warisan dari Angkatan ‘45, terutama Chairil Anwar”.

Romantisme hidup dan kesenimanan itu hanyalah “kebengalan tanpa guna”, “karikatur yang cengeng”, “sebuah gambaran yang berlebih-lebihan”, sejenis “eksintrisitas” yang benjol-benjol, dan “hanyalah menuntun pengarang untuk berat sebelah”. Penyair jadi sibuk hanya untuk menjadi wakil dari hidup di belahannya yang hitam saja. Sementara Rendra, mencari jalan yang lebih terang. Jalan bermuka-muka, langsung, dengan manusia, dengan masalahnya, dengan kekuasaan, dengan realita.

Untuk pemahaman dan prinsip itu, aku tahu, mas Willy tidak hanya harus berhadapan dengan kekuasaan dan senjata. Tapi juga harus berhadapan dengan sejawatnya sendiri, kalangan seni yang kerap memandangnya dengan curiga, iri, remeh, politis, oportunis, dan sebagainya.

Namun bukan Rendra, bila ia merasa terganggu karenanya. Ia malah mengolah semua itu menjadi tenaga kreatif. Itu yang aku rasakan –dalam keterbatasan seorang remaja yang kabur dari rumah dan patah hati oleh sekolah—sebagai dorongan terkuat untuk menyelesaikan SMA. Bukan karena aku anggota Bengkel Teater kala itu, bila mas Willy dan mbak Ida berkomitmen membantu hingga soal bayaran SPP, transportasi bahkan sepatu baru.

Tak lama, di tengah persiapan pertunjukan teater pertamanya setelah keluar penjara, Panembahan Reso, 1986, aku keluar setelah berdebat keras karena tradisi berteaternya yang menurutku otoriter. Namun kubawa banyak dari diri dan rumahnya. Bukan hanya buku-bukunya yang kutelan isinya tanpa rasa kenyang, kehangatan istrinya yang hampir seperti ibu, isolasi seminggu di ruang gelap dengan hanya sepiring nasi-telur tanpa garam dan segelas air dalam sehari, atau perbincangan intens hingga pagi tentang sastra, wanita, ah…apa saja.

Apa saja, yang mengisi memori hati dan pikiran kita, yang dalam satu kejap dapat lenyap tanpa apa pun pertanda. Siapa mengira, saat mengiring sahabat S(urip) Aryanto yang dilahatkan, 200 m dari kediaman mas Willy, kabar gembira tiba, “Mas Willy sehat dan pulang ke Depok jam lima tadi.” Ya, mas Willy gembira, menjalani terapi cuci darah, tertawa, banyak cerita, makan banyak, tapi…tapi gelap semua tanda.

Kini, 20 m saja dari gundukan tanah mbah Surip, nisan itu kutemukan dalam bentuknya yang nyata. Aku merasa, seakan berkenalan kembali dengan lelaki yang tambun, agak bungkuk, dengan setelan putih, tampak tenang dan bahagia. Siapa dia? “Dia wahyu,” ujar seseorang yang entah kenapa bersisianku denganku di tepi liang lahat itu.

Pamulang, 8 Agustus 2009

Explore posts in the same categories: Indonesia

Tag: , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: