CERPEN: Kue Lapis

Lily Yulianti Farid

KALAU sore ini aku sengaja mampir ke pasar memborong sebanyak mungkin kue lapis yang tersisa di sebuah lapak yang tampaknya kurang laku, itu semata untuk memberi penghormatan kepada Nek Halimah.

Bila ia selamat, akan kumakan kue itu bersamanya. Bila ia celaka, akan kulahap sendiri untuk merayakan hidupnya.

Kami dalam perjalanan ke bandara, hendak bergabung dengan barisan kekalutan dan duka cita. Petaka telah disiarkan televisi sejak tadi. Kuminta pak sopir berhenti di pasar sementara ibu lunglai di jok belakang. Ia seperti berenang di tengah air mata dan kalimat penyesalan. Ini salahku, ini salahku, ini salahku….

Di seberang lapak kue, kubeli dua dos tisu, minyak angin dan balsem di toko obat yang dijaga seorang tauke yang sedang main gaple bersama karyawannya. Di mulut pasar, penjaja VCD bajakan berebutan menggamit lenganku, menawarkan paksa dagangan mereka. Pasar tua yang bangkrut, dengan lapak berdebu dan penjaja berwajah memelas. Sebuah hypermarket menjulurkan lidah, mengejek si pasar, tepat di depannya.

Demi Nek Halimah, tak akan kusemburkan kemarahan kali ini kepada orang-orang pasar yang enteng menyentuh kulit dan menghadangku dengan jualan mereka!

Ibu mengenakan kaca mata hitam. Hidungnya merah. Kulitnya pucat tapi tampak berkerut. Kerut oleh rasa menyesal. Ia meremas sebungkus tisu bergambar Mickey Mouse. Pak sopir gelisah, tak tahu bagaimana menenangkannya. Radio yang berteriak-teriak, membuat ibu semakin meraung.

Ini salahku, ini salahku, ini salahku.

Tisu lusuh berhamburan di kakinya.

Satu jam yang lalu berita televisi membuat rumah kami jadi hitam seketika. Dari dalam kotak persegi itu seperti bermunculan cumi-cumi raksasa yang menyemprotkan tinta tebal ke segala penjuru. Ibu melentingkan suara jerit. Lehernya memanjang dan tegang. (Ia memang sering berteriak-teriak dalam susah dan senang.)

Televisi terus menyemburkan kekalutan lewat mulut penyiar berambut cokelat, bermata besar dengan wajah yang dibuat seprihatin mungkin. Pesawat yang ditumpangi Nek Halimah terbakar saat mendarat di Yogyakarta siang tadi. Aku menjerit. Ibu menjerit lebih keras lagi, disusul tangis yang menggetarkan seluruh dinding.

Ibu melolong dan melempar-lemparkan air mata ke seluruh rumah. Ini salahku, ini salahku, ini salahku….

Tapi mengapa aku tidak menangis?

Mungkin karena semalam aku telah menghabiskan air mata, cekikikan mendengar segala pengakuan yang disebut Nek Halimah sebagai sisi gelap yang perlu diungkap.

Tapi bukankah aku seharusnya menangis?

Mungkin karena Nek Halimah telah menghidangkan isyarat kepergiannya dan memintaku menjadi orang yang paling siap menghadapi kematian dan menjaga rahasianya. Omong-omong, apakah malaikat sempat mampir membisiki Nek Halimah, besok pagi maut akan datang dengan cara yang mengerikan?

Kue lapis duduk manis dalam bungkus plastik bening. Wajah Nek Halimah yang manis memantul-mantul di permukaannya. Perjalanan ke bandara membuatku seperti melesat ke dalam terowongan kenangan. Pak sopir mematikan radio setelah ibu kembali menjerit keras mendengar kabar, hampir dipastikan puluhan penumpang tewas seketika saat ledakan ketiga membakar separuh badan pesawat.

Waktu menjelma permen karet yang ditarik lentur di antara telunjuk dan ibu jari. Aku berjalan di atas permukaannya yang lengket dan membuat langkah tertahan. Tak mudah meluncur begitu saja menarik diri kembali ke kini, saat kemarin, kemarin dulu, dan masa lalu dengan bau tubuh dan harum tawa Nek Halimah mengepung.

Ibu terus berenang dalam genangan air mata. Tisu, balsem, minyak angin bertumpuk di pangkuannya. Kulirik perempuan itu. Saat ini ia barangkali menyesal menjadi si pelit, yang hanya membelikan tiket penerbangan murah untuk Nek Halimah. Sebuah liburan yang ternyata dibayar dengan nyawa.

“Tapi belum tentu Nek Halimah termasuk yang tewas kan, Bu?” Pak sopir menyuntikkan harapan ke seluruh kabin mobil.

Ibu tak menjawab. Aku juga merasa tak perlu menjawab. Pak sopir barangkali juga tak mengharap jawaban.

Lalu lintas mulai padat. Mulut jalan tol menuju bandara adalah leher botol yang tersumbat dan tercekik pengguna jalan yang kalap.

NENEK paling keren di dunia!

(Kami memang bergulingan di tempat tidur semalaman dengan suara tawa yang memantul-mantul dan kaki-kaki yang menendang-nendang udara.)

Lekat sekali bayangan tangannya yang memamerkan cincin emas putih di jari manisnya. Lekat sekali betis keriputnya yang mengintip di balik piyama biru bergambar bulan dan bintang, saat Nek Halimah mengikuti gayaku berbaring di ranjang dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Lekat sekali tangisku disekap sisa tawa semalam.

Kalian mabuk?

Ibu sempat menegur kami. Diketuknya pintu kamar. Suara langkah ibu terdengar berat dan bergema dari ruang tengah. Seperti sipir penjara di lorong-lorong sel gelap. Kami merendahkan percakapan dan mengusir rasa geli yang sejak tadi menciptakan gelombang di perut dan bahu.

Setelah langkah ibu menjauh kami mulai cekikikan lagi. Nek Halimah menjelma gadis muda dalam suara dan kenangan yang dibaginya. Gambar bintang dan bulan di piyamanya bersinar-sinar, menari-nari, menyala-nyala. Lampu di atas kepala menjelma sinar laser yang membuang semua keriput dan noda di pipi, dahi dan kantong matanya.

Malam itu aku percaya, siapa saja yang menuturkan cinta sejati yang dirahasiakan, akan terlihat cantik dan bersinar.

Jadi kisah cinta ini dimulai dari satu loyang kue lapis. Kuantar ke tembok pembatas. Di sana, ada Burhan menunggu. Kupikir lelaki itu mencintaiku. Kubaca dari sikap kikuknya, juga matanya yang bersinar senang setiap kali melihatku. Aku, tentu saja mencintainya. Kurasakan sesuatu mendorong jantungku bekerja lebih cepat dan membuatku panjang akal mencari segala alasan untuk menemuinya.

Malam itu aku percaya, jantung, hati dan segala degup serta denyut di dalam tubuh Nek Halimah adalah keriangan yang muda, gairah yang meletup-letup, mengalahkan usia yang mencetak jejak di sekujur wajahnya.

Cinta terlarang?

Hihihi….

Nek Halimah cekikikan dengan istilah itu.

Cinta yang membuat matahari terlambat terbit?

Hihihi lagi. Nek Halimah menelungkupkan badan menutup kepala dengan bantal guling.

Burhan memberiku cincin emas putih. Katanya, pakailah! Waktu itu, pertemuan kami yang kesembilan belas. 16 Juli 1989. Kuberi ia seloyang kue lapis yang masih hangat. Maaf, tak ada daun pandan di pasar. Lapis hijaunya pakai kesumba. Tak apa kan? Tembok pembatas tempatku bersandar, dijalari rasa indah. Lumut di dua sisinya berkilau. Kami sama-sama jatuh cinta. Sebentar saja Burhan menyentuh jariku. Sungguh sebentar. Dan kau tahu? Keindahannya melingkari hidupku!

POHON keluarga kami memang ajaib. Nek Halimah adalah istri ketiga kakek. Usianya hanya bertaut lima tahun dengan ibuku, anak tunggal istri pertama. Istri kedua, Nek Maipa adalah perempuan paling subur, dengan delapan anak. Di Jalan Kenari Nomor 1, 3 dan 5 keluarga besar kami menyebar seperti merpati atau kelinci yang dibuatkan kandang berdempet-dempet. Kakek adalah pejantan penyebar benih yang tangguh, yang membuat pertemuan keluarga besar kami dua generasi berikutnya senantiasa didominasi kekacauan kecil menjelaskan tautan kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan dan cucu. Tiri dan kandung.

Di hari lebaran, setiap kali berfoto keluarga, tukang potret cemberut, panik dan kebingungan mengatur kami. Sementara kakek yang duduk di kursi paling tengah, senantiasa terkantuk-kantuk menunggu yang lainnya berjejer.

Ibuku, anak pertama sekaligus anak tunggal dari istri pertama, terkenal paling membenci Nek Halimah. Katanya, ia perempuan siluman yang datang paling belakangan dan jelas-jelas membahayakan keluarga. Kakek di usia 57 kala itu, menggendong masuk ke tengah-tengah hiruk pikuk keluarga kami seorang perempuan 30-an tahun yang kemudian aku panggil “nenek”. Aku langsung suka lesung pipi Nek Halimah sejak di hari pertama melihatnya. Segar dan senantiasa membuatnya tampak seperti bocah kecil. Dekik pipinya berbentuk bulat penuh, terangkat sempurna setiap kali ia tertawa.

Di mana kakek menemukannya? Bagaimana kakek menaklukkannya? Mengapa kakek perlu istri baru? Mengapa istri baru yang sedemikian muda mau saja ikut kakek?

Tiga rumah di Jalan Kenari seperti balon gas yang terus ditiup dan siap meledak. Penuh isu, bisik-bisik, analisa, berita sumir, kebencian, kepura-puraan sekaligus rasa maklum atas kehadiran nenek baru.

Pohon keluarga kami terus menjadi pokok pertalian kekerabatan yang ajaib. Aku yang senang mencatat silsilah, kemudian menemukan ada cabang yang saling bertaut dalam rahasia, ada juga dahan yang patah.

Dahan yang patah: ibuku.

Ibu menikah lalu bercerai dengan ayahku setelah hanya bertahan tiga tahun. Ibu menikah lagi dengan pelukis, bercerai lagi dua setengah tahun berikutnya. Untuk ketiga kalinya, ibu menikah dengan lelaki yang kupanggil Om Subur, duda pengusaha kayu hitam dengan dua anak dan seorang cucu.

Dahan yang bertaut menjalin rahasia: Nek Halimah.

Dua tahun setelah menjadi istri muda kakek, ia mengaku diam-diam menjalin cinta dengan Burhan, anak ketiga istri kedua kakek.

Tapi di rimbun pertalian keluarga yang hiruk pikuk dengan ranting dan dahan yang terus tumbuh, yang sekaligus sering dicibiri tetangga sepanjang Jalan Kenari sebagai “kompleks rumah lelaki tukang kawin dan keluarga berantakan”, hanya Nek Halimah yang menaruh perhatian pada silsilah yang kususun. Ia meluangkan waktu mengamati pohon keluarga yang kulukis.

Persahabatan kami juga bermula dari pertukaran rahasia di rumah nomor 5, yang ditempatinya. Di ujung sebuah subuh ia yang menyelamatkanku dari gempuran amarah ibu yang mengamuk mendapatiku berkencan dengan anak sulung suami ketiganya. (Apa salahnya kencan dengan kakak tiri dan menakar-nakar sensasi hubungan kami?)

Nek Halimah menyembunyikan aku di kamar tidurnya. Tiga hari aku mendekam sambil memandangi lesung pipi dan dekik pipinya saat ia bercerita tentang percintaannya dengan Burhan.

Ia menyungkup rahasiaku sambil meniup-niupkan rahasianya sendiri ke telingaku.

Bagaimana rasanya ciuman pertama?

Bagaimana rasanya dicium kakek yang tua bangka? Bagaimana Paman Burhan?

Bagaimana anak tiri ibumu itu?

Eh tidakkah kau ingin belajar membuat kue lapis untuk pacarmu? Santannya harus asli. Daun pandannya juga harus segar. Lapisan sempurna hanya bisa terbentuk oleh kesabaran. Cari kukusan yang agak besar….

Hahaha. Aku dan Kak Adika hanya kencan di kafe, Nek! Kadang di McDonald’s yang buka 24 jam.

Batang pohon keluarga kami bisa meledak terguncang menanggung percintaan serba rahasia seperti ini. Tapi kami adalah dua burung kecil yang keras kepala, yang mematuk-matuk ranting tergelap dan memilinnya di tempat yang tak tersentuh.

Kulupakan bila ia istri ketiga kakekku (yang seharusnya kubenci atas anjuran ibu dan bibi lainnya, karena kemudaan dan kecantikannya). Kutempatkan ia sebagai perempuan dengan peta petualangan terberani, yang membuatku mendongak ke langit dan berpikir, aku bisa seperti dirinya, memahat kisah cinta yang dapat mengacaukan tata surya dan harmoni alam.

Burhan membawa ranting itu. Ia menanam dan memelihara cintanya. Ia memang telah lama terbang, keluar dari rumah di Jalan Kenari. Tapi tahukah kau, surat-suratnya datang satu-satu. Gigitan kue lapis yang legit dan gurih, terus menerus kami perbincangkan. Berpuluh-puluh tahun. Tembok pembatas di Jalan Kenari 3 dan Jalan Kenari 5 ditumbuhi lumut yang menyejukkan lapisan-lapisan kenangan kami yang serba sesaat menjadi ingatan yang abadi dan begitu dekat. Lihat, lihat cincin ini.

Kami tertawa dan terus bertukar rahasia. Sementara kakek yang terserang infeksi kandung kemih, lebih banyak tidur di rumah Nek Ratiah, istri pertamanya. Keluarga besar kami semakin sering berkumpul setelah dokter membawa kabar yang lebih muram, kakek terkena kanker prostat stadium awal.

Di subuh hari kami memilih menjadi burung yang memilin-milin ranting rahasia di pohon keluarga yang rimbun.

Eh, Nek Halimah, Adika, kakak tiri itu ternyata serius dengan cintanya.

Eh, ini rencana lebih dahsyat lagi. Burhan mengajak bertemu di Yogya. Dua puluh tahun setelah perpisahan itu.

Di malam hari, Nek Halimah seperti masuk ke kapsul waktu, mengenakan kembali usia muda dan puncak gairahnya, lalu berbaring di sampingku, membagi khayalannya.

Naya, ada pohon beringin rimbun di halaman Keraton Yogyakarta. Aku ingin ke sana, membayangkan salah satu sulurnya adalah rahasia yang menggelantung di pohon keluarga yang kau susun.

Malam itu, aku sungguh percaya, seluruh khayalan, harapan dan bahkan fantasi paling liar yang dipendam Nek Halimah adalah vitamin E, asam DHA dan collagen yang mengencangkan wajahnya, mengembalikan kemudaannya, membuatnya tampil sangat cantik saat merentang penantian dua puluh tahun di hadapanku. Percintaan yang harus tetap menjadi rahasia agar seisi dunia tidak mengutuknya, agar alam semesta tidak terguncang dan meledak.

KAMI tiba di bandara.

Ibu masih berenang dengan air matanya. Dua dos tisu tidak mampu membendungnya. Mobil dipenuhi bau balsem. Kami gamang melihat pelataran ruang keberangkatan dan informasi yang juga telah menjadi kolam air mata.

Ini salahku. Ini salahku. Ini salahku.

Ibu mulai mengutuk dirinya lagi. Lima belas kilometer perjalanan yang kami tempuh, tak cukup bagi ibu untuk mengulang kalimat penyesalan itu.

Aku paham ibu membenci Nek Halimah. Rasa benci yang diterjemahkan dalam berbagai tindakan, termasuk membelikan tiket penerbangan murah ke Yogyakarta. Tapi yang tidak aku pahami, mengapa ibu begitu terpukul dengan musibah ini?

Katakanlah, bila ia memang tak rela melihat Nek Halimah terbang ke Yogya dengan alasan kakek yang sedang sakit (meski ia tak tahu alasan keberangkatan yang sebenarnya, bukan sekadar ingin liburan melihat candi dan berbelanja batik), ibu sebagai penguasa di keluarga besar kami bisa saja melarang.

Atau jangan-jangan ibu justru mendorong Nek Halimah pergi? Atau jangan-jangan ibu bahkan sempat membayangkan Nek Halimah kena celaka saja dengan penerbangan penuh risiko itu?

Bukankah kecelakaan pesawat memang beruntun beberapa tahun terakhir? Mengapa baru kali ini ibu tidak keberatan dengan usulan liburan ke Yogyakarta yang diminta Nek Halimah? Bukankah selama ini ibu berseberangan dengan apa saja perkataan, pandangan dan usulan perempuan itu?

(Oh, Naya. Berbaik hatilah pada ibumu yang malang. Mungkin ia menyesali niat jahat yang sempat terbersit untuk ibu tirinya yang berlesung pipi dan cantik itu. Atau sekarang, ibumu mengingat semua kebenciannya yang berakhir dengan keputusan di tangannya: menawarkan Nek Halimah tiket murah itu dua hari lalu. Mungkin saja, mungkin saja.)

Pak sopir dan aku menuntun ibu ke meja informasi di terminal keberangkatan. Orang-orang berteriak. Gaduh. Muram. Bau keringat. Bau air mata. Orang-orang berpelukan, saling menguatkan. Ada yang pingsan, ada yang berteriak, ada yang menelungkupkan badan di lantai, ada yang berulang kali menyebut nama Tuhan.

Siang itu, di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, pesawat yang membawa Nek Halimah menemui Paman Burhan itu memang terbakar, lalu meledak tiga kali. Televisi di bandara memutar terus-menerus adegan yang persis dengan yang telah kami saksikan di rumah. Dari kotak kaca itu bermunculan cumi-cumi raksasa menyemburkan tinta hitam pekat. Duka. Marah. Penyesalan.

Orang-orang mengutuk. Petugas-petugas bandara terpaku tak berdaya.

Di meja informasi, aku mendekati seorang petugas. “Belum ada kabar lengkap dari Yogyakarta. Tapi ini daftar sementara yang tiba satu jam yang lalu.”

Di tangan petugas bertubuh tambun itu ada kertas putih dengan nama-nama yang tersusun dan dipenuhi coretan dengan berbagai kode yang tak kupahami.

Halimah Sari Dahlan. Aku lihat nama itu ada di sana. Nek Halimah memang meninggalkan rumah pagi tadi. Diantar pak sopir ke bandara, dengan degup jantung berpacu keras membayangkan Paman Burhan yang menanti.

Di depan pagar ia membagi sinar-sinar riang yang melesat dari mata dan senyumnya. Hanya aku, ya hanya aku yang tahu sumber nyala kebahagiaan yang sebentar lagi disambutnya. Orang-orang rumah melambai sekadarnya. Ibu masih di dalam kamar, tak ikut melepas Nek Halimah. Ia hanya menitip pesan agar pak sopir segera kembali untuk mengantarnya ke salon.

Nek Halimah mencium dahiku lama sekali sebelum naik ke mobil. Ciuman yang sangat berbekas itu menjadi sebentuk penanda untuk sisa tawa yang kami dekap sejak semalam. Juga untuk rahasia kami, yang tidak diketahui penghuni lain di rumah Jalan Kenari Nomor 1, 3, dan 5.

Aku membaca sekali lagi namanya di daftar manifes penumpang. Halimah Sari Dahlan.

Aku akhirnya menangis. Untuk mengenang percintaan rahasia berusia lebih dari dua puluh tahun yang telah dijalin dengan sungguh-sungguh. Untuk kisah rahasia yang dibagi dengan cara-cara terbaik di malam sebelum keberangkatannya.

Aku membuka bungkusan kue lapis dari pasar. Kugigit perlahan. Legit. Gurih. Sedikit asin. Ia terdorong ke dalam mulut bersama air mata dan kenangan tentang lesung pipi, dekik pipi yang sempurna dan nasihat yang selalu diulang, “Membuat kue lapis menegaskan kesabaran. Nasib yang tak begitu baik, jangan dikeluhkan….”

Kutelan satu demi satu potongan kue lapis, terdorong masuk ke mulut, seperti hendak memendam rahasia Nek Halimah ke dalam tubuhku.

Dan kini, aku merasa telah benar-benar siap menerima kabar dari Yogyakarta. Seburuk apa pun. (Koran Tempo, Minggu, 6 September 2009)

Explore posts in the same categories: Cerpen

Tag: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: