ESAI: Digital Imaging

Samuel Mulia

Penulis Mode dan Gaya Hidup

Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah majalah gaya hidup. Saya berhenti pada seorang sosok. Awalnya saya enggak ngeh sosok itu seorang yang saya kenal. Saya pangling kok bisa muda sekali dan kulitnya bersih dan halus.

Saya membaca sepintas artikel itu dan yaa… saya tak keliru, ia seorang yang saya kenal. Saya curiga wajahnya sebegitu halusnya. Lha wong beberapa hari sebelumnya saya bertemu dengan dia dan masih melihat wajahnya yang sebelas dua belas dengan saya. Hancur, maksudnya. Yaa… mirip-mirip peta kawah gunung berapi.

Kemudian saya baru sadar itu gara-gara hebatnya teknologi. Bisa menghapus yang jelek dan mengubah menjadi indah. Menghilangkan segala cacat dan cela kemudian kelihatan kinclong seperti berlian. Kadang bahkan rambut tipis bisa ditebalkan. Yang gemuk bisa kelihatan kurus langsing. Kalau foto dan mau memiliki latar belakang gedung pencakar langit atau kota Paris, tak perlu harus susah-susah terbang. Semua bisa diatur lewat teknologi digital imaging.

Bohong

Waktu saya kaget melihat sosok itu, pada saat yang bersamaan nurani saya yang sudah ikut selama empat puluh enam tahun langsung berteriak. Nurani saya itu sudah tahu gelagat saya perlu mendapat teriakan. ”Udah deh… enggak usah sok mau nuding orang. Inget enggak waktu lo difoto sama majalah sebuah mal, bukan lo minta ama fotografernya, ’Mbak, mukanya saya dibersihin ya.’”

Yaa… saya pernah melakukan hal sama. Dan saya tak merasa malu meminta kepada sang fotografer untuk melakukan penipuan itu. Sekarang saya malah jadi merasa bersalah sudah menjerat orang menjadi kurang ajar, turut dalam penipuan besar-besaran itu. Bagaimana tidak besar? Lha wong muka saya seperti jalan rusak—nyaris semua orang yang mengenal saya tahu kondisi wajah saya—kok tiba-tiba sehalus kain sutra. Yaa… pastinyalah kebohongan saya begitu besarnya. Tak hanya terhadap diri saya sendiri dan fotografer, tetapi juga teman-teman saya yang lumayan banyaknya dan ada juga yang badannya besar.

Demikian juga kalau saya melihat lembaran-lembaran indah di banyak majalah mode. Di mana halaman modenya begitu menakjubkan. Bukan karena fotonya bagus, tetapi kehebatan manipulasinya yang luar biasa. Pencahayaan dimanipulasi, wajah disapu bersih halus tanpa kerut yang mengingatkan saya pada wajah model produk kecantikan.

Setelah selesai membaca majalah itu saya berniat melihat foto-foto di netbook saya. Tentu foto-foto penipuan itu. Kemudian saya memerhatikan foto sebelum dan sesudah ditusir habis. Saya tertawa tergelak melihat wajah saya begitu mulusnya. Alis saya yang tak seperti semut beriring sekarang beriring bener. Hidung saya yang pernah dijuluki sebagai pengganti tutup botol anggur, sudah dilangsingkan. Kerut di wajah saya yang seperti gorden dan kelopak bawah mata yang hitam dan membengkak, lenyap seketika. Tetapi, hasilnya saya seperti orang lain. Itu bukan saya.

Menipu

Nah, pada saat-saat seperti ini nurani saya mencari peluang untuk memukul. ”Lo tuh, ya, maunya apa, sih?” Ditanya seperti itu saya tak bisa menjawab. Saya sendiri tak tahu maunya apa.

Selang sekian detik saya mendapat jawabannya. Saya merindukan muda lagi, saya rindu punya kulit kinclong, dan teknologi membuat saya senang. Meski semuanya sebuah penipuan dan sesaat saja. Mungkin begini rasanya orang korupsi. Merindukan jadi kaya secara cepat, meski menipu tetapi hati senang.

Akankah saya menyalahkan teknologi? Atau saya yang sepantasnya dipertanyakan? Beberapa hari lalu saya membuka Google dan menuliskan nama saya dan ternyata banyak sekali situs mengenai diri saya. Saya baca satu per satu meski tak habis semuanya, sampai pukul dua pagi dari sejak pukul sepuluh malam. Ada yang menghujat kok saya cuma bisanya nyindir mulu, sangat sarkastis, dan yang membuat jantung saya berdenyut lebih keras adalah yang mempertanyakan tampang saya itu seperti apa.

Kemudian, saya ingat lagi foto-foto hasil kemajuan teknologi alias rekayasa yang saya miliki. Kalau seandainya saya memuat foto hasil rekayasa itu dan mereka yang melihat merasa itulah saya yang sesungguhnya, bukankah itu penipuan? Mereka memiliki pemikiran, saya bebas kerut dan bintik-bintik, muka sehalus sutra. Bayangkan kalau suatu hari saya bertemu mereka dan mereka tahu saya yang sesungguhnya, tidakkah itu membuat orang kecewa? Mungkin awalnya saya bisa mengatakan it’s only a game. Tetapi, permainan macam apa yang bisa sampai mengecewakan dan menipu? Dan saya mengaku beragama. Beragama kok nipu?

Sama seperti halaman-halaman mode yang saya buat dan kemudian dimanipulasi, tidakkah saya akan dikagumi karena orang pikir saya hebat? Yang hebat bukan hanya saya, teknologi rekayasa itu kan juga membantu. Tetapi, apalah gunanya kalau hasil karya foto saya cuma bagus karena teknologi? Bukankah otentisitas itu diperlukan? Dan otentisitas itu adalah saya, bukan teknologi. Saya yang harus kelihatan dan diingat, bukan teknologi dan bukan saya dan teknologi juga. Saya, titik. Atau itu sudah tak diperlukan lagi? Atau itulah otentisitas sekarang ini? Memanipulasi, maksudnya.

Pertanyaan macam-macam timbul di kepala saya. Gara-gara teknologi, hasil foto saya tak ada bedanya dengan yang lain. Maksud saya bukan obyeknya, tetapi teknik rekayasanya. Mungkin saya bisa saja menyalahkan teknologi, sama seperti mudahnya saya mengatakan cinta itu buta, padahal yang buta saya. Teknologi boleh ada, boleh membuat orang sampai membuat DVD bajakan, bisa membuat barang bermerek palsu, bukankah yang salah adalah yang memanfaatkan teknologi itu? Teknologi boleh ditemukan, tetapi yang bertanggung jawab kan yang memanfaatkan.

Yaaa… sama seperti waktu saya tidur berdua di dalam kamar hotel dengan teman pria. Teman wanita saya menasihati sambil menggoda begini. ”Hati-hati, ya, di kamar”. Kok hati-hati di kamar? Kamarnya sih enggak akan apa-apa, sayalah yang bisa menggunakan kamar itu sebagai tempat mesum, apa tidak? Jadi, hati-hati jangan dengan kamarnya, tetapi orang yang di dalam kamar itu. Kalau melek enggak pernah bahaya, justru saya kalau terlelap bahaya. Karena dipeluk baru bisa tidur. (Kompas, Minggu, 6 September 2009)

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: