ESAI: Holopis Kuntul Baris

Kasijanto Sastrodinomo
Udara dingin mendekap Dusun Kubang pagi itu. Namun, sekelompok warga dusun berbukit di tepian hutan sekitar 70 kilometer selatan Kota Pekalongan itu malah bersimbah keringat memperbaiki jalan utama yang menghubungkan mereka dengan ”dunia luar”. Sekuat tenaga mereka menarik dan mendorong alat berat untuk meratakan dan memadatkan jalan yang tak mampu menanjak pada kemiringan medan nyaris 45 derajat. Berulang kali mereka mendorong dan menarik mesin besi ratusan kilogram itu sambil meneriakkan ha-ho-ha-ho secara bersahutan. (Kompas, 2 Oktober 2009)
Dari segi semantik kita tentu sulit mengartikan ha-ho-ha-ho selain melihatnya sebagai kata seru untuk menumbuhkan semangat dan, karena diucapkan secara berirama, ia menyerupai lagu. Pakar etnomusikologi dari Universitas Sumatera Utara, Setia Dermawan Purba, menemukan sejenis lagu kerja yang disebut orlei pada masyarakat desa di Simalungun. Orlei didendangkan untuk membangkitkan semangat saat warga desa menarik kayu gelondongan berukuran besar—disebut manogu losung—sebagai bahan baku lumpang. Nyanyian itu berisi pujian kepada dewi kayu, Puang boru Manik, sekaligus permohonan izin mengangkut kayu dari hutan.
Jenis lagu serupa tentu banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Di Jawa Timur teriakan holopis kuntul baris terdengar ketika orang mengangkat atau mendorong benda sangat berat dalam kegiatan kerja bakti. Diteriakkan secara ritmis, holopis kuntul baris menjelma bagai irama lagu mars. Dari tiga kata itu, holopis tampak paling aneh, barangkali ditarik dari hola, kata seru (tussenwerpsel) dalam bahasa Belanda, seperti ”hai” yang diucapkan secara spontan. Kuntul adalah jenis burung dari keluarga Ardeidai, berbulu putih, berleher dan berkaki panjang, pemakan ikan atau katak di sawah. Keistimewaan kuntul adalah saat terbang berkelompok dalam formasi berjajar rapi dan kompak mirip konfigurasi pasukan udara Red Arrows dari Kerajaan Inggris.
Formasi seperti itulah yang menjadikan holopis kuntul baris sebagai daya ungkap energik dalam kerja sama. Ketika berpidato di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, 1 Juni 1945, Bung Karno mengutip holopis kuntul baris untuk membayangkan ”negara gotong royong” yang bakal merdeka. Gotong royong, katanya, adalah ”konsep yang dinamis yang menggambarkan satu usaha, satu amal, satu karyo, satu gawe… Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong.”
Holopis kuntul baris mengingatkan kita kepada semangat gotong royong yang konon telah lama memudar. Profesor Koentjaraningrat dalam monografinya (1961) mempercanggih pengertian gotong royong sebagai the cooperation springs from a spontaneous attitude of the participants. Meski demikian, pakar antropologi itu mengingatkan bahwa tidak semua aspek gotong royong bersifat sukarela. Ada yang mengandung pamrih karena berharap balasan, bahkan bisa membelenggu inisiatif individual yang mungkin lebih kreatif dan, karena itu, tak layak dikembangkan.
Tatkala bencana datang beruntun, gotong royong yang tulus sangat diperlukan untuk membantu sesama yang bermusibah. Alang tulung beret bebantu, meminjam kebajikan orang Gayo, ”yang perlu ditulung dan dibantu harus ditolong”.

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: