ESAI: Kiamat 2012

L Wilardjo

Guru Besar Ilmu Fisika Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Hari Selasa (13/10/2009) lalu, ada e-mail masuk dari seseorang berinisial STP.

Bunyi pesan itu: Pak Liek, saya membaca artikel di ”eramuslim”, ada kalimat berikut, ”Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak, bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung”. Apa yang dimaksud medan magnet bumi mulai retak? Apa pendapat Pak Liek tentang ramalan 2012 oleh suku Maya?

E-mail itu saya jawab singkat. Saya katakan, yang bisa retak ialah benda padat. Zat cair tidak retak. Gas juga tidak. Apalagi medan magnet, yang abstrak.

Keesokan harinya, Kompas menyajikan tulisan ”Kiamat Tahun 2012 Dibantah”. Dikatakan, Apolinaro Chile Pixtun, tetua Indian dari suku Maya asal Guatemala, menyatakan, berita bahwa menurut kalender Maya kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 adalah tidak benar.

Setelah saya cek di internet, tulisan yang sebagian dikutip STP itu memang ada. Ramalan Kiamat 2012 bahkan dikait-kaitkan dengan ramalan suku-suku lain, dengan buku China kuno, I Ching, dan dengan peristiwa serta kegiatan orang dewasa ini. Namun juga dinyatakan, menurut Islam, meski kiamat tidak bisa dihindarkan, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Lalu tulisan itu ditutup dengan: ”Wallahu’alam bishawab”.

Retak atau bolong?

”…Medan magnet bumi… retak… sampai sebesar kota (sic) California….” Retak itu hanya dapat dikatakan pada (permukaan) benda padat yang patah beralur memanjang, tetapi kedua bagian di sebelah-menyebelah alur itu tidak terlepas. Tidak ada retakan sebesar negara bagian California. Kalau ada, itu bukan retak namanya, tetapi berlubang.

Yang dikatakan berlubang bukan medan magnet bumi, tetapi ozonosfer, lapisan atmosfer (20-26 kilometer di atas permukaan laut) yang kaya dengan gas O3. Karena ulah manusia menghamburkan CFC (senyawa khloro-fluoro-karbon), radikal bebas hasil penguraian CFC itu, yakni Cl dan ClO, ”merampok” atom O (oksigen) dari molekul O3 (ozon).

Maka, ozon itu menjadi O2 (molekul oksigen). Pupuk juga melepaskan N2O, yang terurai oleh foton menjadi NO. Juga ada radikal bebas lain, yakni OH. Semuanya suka menyerobot O dari ozon. Padahal, ozonlah yang mampu menamengi bumi dari ”sengatan” sinar ultraungu (UV>ultraviolet). Di antara UV-A, UV-B, dan UV-C, yang paling berbahaya ialah UV-B (290-320 nanometer) sebab energinya sudah cukup tinggi, sedangkan intensitasnya dalam spektrum sinar matahari juga masih lumayan. Yang dirusak ialah kristalin alfa, yakni protein lensa bola mata dan DNA, terutama basanya, yakni [T (thymine), C (cytosine), A (adenine), dan G (guanine)] dengan akibat kanker kulit.

Medan magnet retak?

Ini sulit dipahami. Jika retak, berarti medan magnet bumi yang ”garis-garis”-nya membujur (meridional) dari Kutub Utara (-nya medan geomagnetik) ke Kutub Selatannya terputus di (beberapa) lokasi tertentu. James Clerc Maxwell (di kuburannya, kalau bisa) akan marah sebab, menurut dia, tidak ada magnet berkutub tunggal (monopole). Medan magnet selalu ”temu gelang”, keluar dari Kutub Utara, lalu bisa ”mengembara” ke mana-mana, tetapi akhirnya harus masuk kembali ke Kutub Selatan. Jadi, medan magnet tak dapat terputus. Mengatakan bahwa medan magnet bumi retak sebesar California di sana-sini terasa ”absurd”.

Radiasi?

Juga dikatakan, ”medan magnet bumi merupakan pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari”. Sinar matahari adalah gelombang elektromagnetik yang dalam pandangan kuantum berupa zarah-zarah (particles) yang disebut foton. Foton itu netral (tidak bermuatan elektrik). Padahal, medan elektromagnetik, khususnya komponen magnetik, hanya membelokkan gerak zarah yang bermuatan.

Jadi, medan magnet tidak bisa menjadi pertahanan bumi terhadap radiasi sinar matahari. Memang ada zarah-zarah energetik yang disebut sinar kosmos. Sinar ini berasal dari ruang angkasa luar, mungkin dari bintang-bintang, termasuk matahari. Indikasi bahwa matahari juga melepas sinar kosmos tampak pada rapat elektron dalam plasma ionosfer (400-900 kilometer di atas permukaan laut), yang lebih tinggi pada siang hari ketimbang pada malam hari.

Ionosasi itu terjadi karena atom/molekul di atas sana dibentur zarah-zarah dari luar bumi. Sebagian zarah-zarah sinar kosmos ini dibelokkan oleh medan geomagnetik. Namun, mereka sedemikian energik sehingga tetap ada yang mampu ”menghujani” bumi. Untung intensitasnya rendah sekali sehingga tidak berbahaya. Dalam pengukuran aktivitas cuplikan (sample) radioaktif, sinar kosmos itu hanya dianggap sebagai bagian radiasi latar (background radiation)(Kompas, Sabtu, 24 Oktober 2009)

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: