ESAI: Cerpen-Cerpen Mutakhir Indonesia Membaca Bencana Alam Sekadar “Force Majuere”

Iwan Gunadi

Pemerhati sastra

Meski Indonesia terbilang sering dilanda bencana alam, termasuk dalam skala korban yang besar, sejak dulu, tak banyak karya sastra yang mengeksplorasinya.

KITA mafhum, Indonesia rawan gempa. Kita juga mafhum, Indonesia akrab banjir. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diwanti-wanti menghadapi letusannya, tapi yang lebih dulu menghentakkan malah gempa yang menewaskan ribuan penduduk di DIY dan Jawa Tengah, akhir Mei 2006. Belum sebulan kemudian, ratusan warga di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan mati dihanyutkan banjir bandang. Puluhan nyawa kembali melayang ketika banjir dan tanah longsor kembali menggenangi dan menimbun sejumlah wilayah di Indonesia pada akhir 2006 dan awal 2007. Peristiwa serupa terjadi lagi pada 2009 ini.

Meski Indonesia terbilang sering dilanda bencana alam, termasuk dalam skala korban yang besar, sejak dulu, tak banyak karya sastra yang mengeksplorasinya. Boleh jadi, gempa yang diringi tsunami yang menewaskan lebih dari seratus ribu manusia di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut) pada akhir 2004-lah yang paling banyak menginspirasii banyak penulis untuk melahirkan karya sastra, terutama puisi dan cerita pendek (cerpen), walau sebagian besar tak menjadikannya sebagai pokok cerita.

Walau tak sebanyak hasil picuan tragedi tsunami tersebut, gempa di DIY dan Jawa Tengah juga merangsang tak sedikit penulis membesut karya sastra, lagi-lagi terutama puisi. Tapi, sebagaimana karya sastra lain yang mengeksplorasi bencana alam, hampir semua–kalau tidak ingin menyebut semua–karya sastra itu menempatkan tsunami dan gempa sebagai bencana alam yang bikin manusia tak dapat berbuat apa pun. Apa pun yang dapat dilakukan manusia tak ada artinya kalau Tuhan sudah berkehendak. Tsunami dan gempa nyaris tak dilihat dalam kemungkinan sebagai bagian dari tindak kekerasan sebagaimana dipahami Johan Galtung.

Galtung memang menerjemahkan kekerasan secara sangat luas. Bagi sosiolog kelahiran Oslo, Norwegia, 24 Oktober 1930, itu, kekerasan bisa muncul jika manusia dipengaruhi sedemikian rupa, sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Tingkat realisasi potensial merupakan apa yang mungkin direalisasikan terhadap suatu kenyataan sesuai dengan tingkat wawasan, sumber daya, dan kemajuan yang telah dicapai pada zamannya.

Dia menggabungkan tersedianya fasilitas dan mobilitas dengan kemauan baik untuk mengatasi kekerasan. Bila wawasan, sumber daya, dan hasil kemajuan disalahgunakan untuk tujuan lain atau dimonopoli segelintir orang saja, ada kekerasan dalam sistem tersebut.

Cara pandang yang berbalikan dengan pemahaman Galtung dengan gampang dapat kita baca dalam cerpen-cerpen mutakhir mengenai atau menyinggung bencana alam yang ditulis sebelum atau setelah tragedi tsunami itu. Memang, ketika membaca judul cerpen Banjir pada Dunia Sukab (2001) besutan Seno Gumira Ajidarma, kita seperti akan menemukan perspektif Galtung. Tapi, setelah kita membaca cerpen dengan narator orang ketiga tunggal itu, yang ada hanyalah kisah mayat lelaki sepuh yang dihanyutkan banjir dan para tetangganya tak mampu menghalaunya. Akhirnya, mayat itu hilang. Cerpen itu tak berpretensi mempersoalkan banjir sebagai bencana alam yang sebetulnya bisa dihindari bila pemerintah sungguh-sungguh mau mengatasinya. Banjir seperti benar-benar hanya menjadi musibah yang memang tak terkirakan atau tak dapat diantisipasi.

Hujan yang disinggung Joni Ariadinata dalam cerpen Orang Kampung di buku kumpulan cerpennya, Kastil Angin Menderu (2000), sami mawon. Ia menjadi bagian dari alur cerita atawa plot. Ia menjadi stimulus dilema di kepala dan hati ayah dan–lebih-lebih–anaknya, yakni Wak Mangli dan Hasnah. Hujan menjadi konflik batin bagi mereka.

Cerpen yang melesat dengan paduan alur mundur dan maju ini berpangkal di pohon manggis raja. Titik singgung dengan hujan pun di pohon tersebut. Wak Mangli berharap pohon manggis rajanya berbuah lebat, dapat dipanen tepat waktu, lalu anaknya segera dikawinkan. Ketika mulai berbunga, dia selalu berharap agar hujan tak merontokkannya.

Kenyataan berkata lain. Hujan sangat deras. Kepala dusun khawatir, jembatan penghubung di dusun itu yang pernah dua kali dihanyutkan banjir kembali bernasib serupa. Kalau tak ingin seperti itu, jembatan tersebut harus dipatok kayu besar.

Hujan belum menjadi banjir di dusun tersebut. Tapi, pengalaman masa-masa sebelumnya memberikan alasan kepada penguasa formal untuk memanfaatkan potensi banjir untuk menekan Wak Mangli merelakan pohon manggis rajanya ditebang demi mematok jembatan.

Di sisi lain, penguasa informal menekan sang warga dengan keinginan sebaliknya: pohon manggis rajanya berbuah seratus kilogram. Dan, itu hanya dapat dipenuhi jika pohon itu masih tegak serta tak diganggu hujan dan angin. Untuk menampik dua keinginan yang kontradiktif tersebut, Wak Mangli mafhum risikonya. Dilematis.

Hujan tak mengantarkan cerpen Orang Kampung pada pemahaman kekerasan versi Galtung. Yang hadir hanyalah kekerasan yang lazim: kekerasan penguasa formal dan informal terhadap rakyatnya, kekerasan lelaki (dan perempuan: istri Juragan Faruk) terhadap perempuan, serta kekerasan orangtua (baca: bapak yang lelaki) terhadap anaknya (yang perempuan). Penguasa tak mengayunkan langkah antisipatif ketika terjadi letusan Gunung Merapi dalam cerpen Kastil Angin Menderu di buku kumpulan cerpen yang sama. Oknum penguasa, Barda, malah memanfaatnya untuk memuluskan proyek pembangunan tempat peristirahatan dan lapangan golf di sekitar gunung tersebut. Tanpa langkah antisipatif itu, oknum penguasa itu tak perlu lagi repot mengurus pemindahan 120 kepala keluarga. Mereka dibiarkan dilumat lava panas yang deras meleleh dari puncak Gunung Merapi. Tapi, ada yang tragis dalam musibah itu: istrinya, Marni, ikut terlumat ketika berselingkuh dengan pelaksana proyek itu, Burman, di tempat peristirahatan di sekitar Gunung Merapi.

Meski begitu, Kastil Angin Menderu tampaknya tetap tak sungguh-sungguh dimaksudkan untuk memetakan kekerasan secara luas. Ia hanyalah wujud lain dari makna kekerasan yang sempit yang diderakan penguasa terhadap rakyatnya.

Wajah kekerasan dalam cerpen Ojung (Cerita tentang Hujan) dalam kumpulan cerpen Ojung (2003) karya Edi A.H. Iyubenu pun menyembulkan wajah kekerasan yang cenderung bermakna sempit. Ojung adalah upacara tradisional di Madura untuk memohon hujan bila kemarau panjang melanda. Kekeringan yang menyiksa warga Jakarta menginspirasii Iyon mementaskan ojung di ruang tengah rumah mewahnya ketika istrinya sibuk kelayapan. Ketika upayanya berhasil mendatangkan hujan, anak kembar Iyon bersimbah darah setelah saling sabet dengan samurainya.

Kekerasan dalam makna yang sempit itu seperti telah dihalalkan tradisi. Tradisi yang melindungi kekerasan tak hanya milik Madura, tapi tak sedikit daerah lain di Indonesia dan belahan lain buana ini. Kekerasan itu terasa makin halal ketika banyak pemerintah, termasuk di Indonesia, turut melestarikannya sebagai kekayaan budaya. Kalau cerpen itu sampai pada titik ini, kekerasan telah meluas sebagaimana dipahami Galtung. Sayangnya, itu tak terjadi. Bagian awal cerpen Ojung juga telah mereduksi kemarau hanya sebagai tanggung jawab masyarakat. Tak ada urusan dengan pemerintah atau penguasa.

Keluasan makna kekerasan baru muncul dalam cerpen Sepotong Cinta yang Tersisa garapan Maroeli Simbolon, meski tak tegas. Cerpen dalam buku kumpulan cerpen Cinta? Tai Kucing! (2003) ini sebenarnya mengisahkan kesadaran seorang suami yang tak mampu memberikan apa-apa kepada istri tercinta–dan anaknya–kecuali sepotong cinta. Apalagi ketika banjir makin meludeskan kemiskinannya di kota itu. Maklum, dia hanya pedagang bakso keliling dan istrinya buruh di pabrik tempe.

Banjir menjadi sarana bagi Maroeli untuk menunjukkan ketidakberdayaan masyarakat dan kebobrokan penguasa. Melalui kehadiran tokoh Tina, si anak, pengarang menunjukkan ketidakberpihakan pengelolaan pendidikan kepada orang-orang yang tak berduit.

“Oh, lihatlah, tangan anakku gemetar menggapai-gapai buku-buku pelajarannya. Dan di mataku, ia sedang menggapai-gapai masa depannya yang dihanyutkan kesombongan dan kebodohan orang-orang berdasi tak bermoral. Betapa mahal sekolah. Betapa mahal peradaban. Mampukah anakku meraihnya? Satu per satu buku-buku yang basah itu dikumpulkannya dan didekapnya erat-erat beberapa telah sobek dan tercerai-berai” (halaman 68).

Keluasan makna kekerasan dengan kadar ketidaktegasan yang kurang lebih sama juga hadir dalam dua cerpen Kurnia Effendi dalam buku kumpulan cerpen Kincir Api (2005), yakni Tumbal dan Seseorang Mirip Nuh. Tumbal mendedahkan kisah runtuhnya jembatan akibat meluapnya Kali Gung pada menjelang akhir musim hujan. Bagi penduduk, runtuhnya jembatan sungguh-sungguh musibah yang memerihkan. Tapi, bagi kontraktor yang sebelumnya pernah mendapat proyek pembangunan dari pemerintah daerah di wilayah itu, runtuhnya jembatan merupakan peluang bisnis yang menguntungkan. Sebagaimana proyek sebelumnya, tender pembangunan kembali jembatan itu berbau kolusi.

Dari situ, pembaca bisa berimajinasi bahwa biayanya di-mark up dan kualitas jembatan tak sebagaimana mestinya. Suatu saat, jembatan akan runtuh lagi, memakan korban lagi, dibikin lagi, lalu kolusi lagi. Begitu seterusnya. Di titik itulah, bencana alam telah berubah menjadi ajang tindak kekerasan sebagaimana dipahami Galtung.

Kalau keluasan makna kekerasan dalam Tumbal lebih tersirat, hal yang sebaliknya terjadi pada Seseorang Mirip Nuh. Akan datangnya banjir yang siap menenggelamkan dunia memang menjadi pusat pikiran dan imajinasi tokoh utama cerpen ini, yakni “aku”. Tapi, sebagaimana dalam Tumbal, pemahaman makna kekerasan secara luas dalam cerpen tersebut pun cenderung diposisikan secara periferal, sehingga hanya dibahas sepintas. Hal itu ditunjukkan dengan kehadiran satu kalimat dan satu klausa langsung, yakni “Negara lain memiliki cara yang baik untuk menangkal” pada halaman 60 dan “… sanitasinya demikian buruk” pada halaman 61. Tapi, sebagaimana banyak cerpen lain mengenai atau yang menyinggung bencana alam, arus utama pikiran dalam cerpen ini pun tetap menempatkan bencana alam pada aras musibah, force majeure. Titik.

Kenyataan seperti itu menunjukkan bahwa potensi kekerasan dalam bencana alam telah disingkirkan cerpen-cerpen mutakhir Indonesia itu. Fenomena seperti itu sekaligus mencerminkan bahwa masyarakat kita tak terbiasa memahami kekerasan secara luas. Kekerasan cenderung dipahami secara tradisional: kekerasan orang terhadap orang secara langsung. Kekerasan dalam bencana alam yang sebenarnya dapat diantisipasi atau dikendalikan orang seperti tak disadari sebagai kekerasan. Boleh jadi, kalau nanti gempa, tsunami, atau banjir bandang terjadi lagi di bumi Indonesia–tentu, semoga saja tidak, minimal tak memakan korban jiwa–dan menginspirasii banyak penulis cerpen Indonesia, horison Galtung dalam memandang bencana alam pun tetap tak akan ditengok.(Lampung Post, 13 Desember 2009)

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: