PUISI: Puisi-Puisi Perbankan Iwan Gunadi


MERGER

bank adalah kepala manusia
yang dijaga dengan senjata apa saja:
kapak batu, tombak, panah,
golok, keris, parang, bambu runcing,
belati, pisau, ketapel, pistol,
senapan, meriam, granat, dan ranjau

volume kepala setiap manusia tak sama
warna rambut setiap manusia bisa berbeda
usia keduanya bisa tak semasa

ketika dua atau beberapa kepala
diminta disatukan di bawah satu nama,
yang tampak mencolok
bukanlah merendahkan sirah,
melapangkan dada, dan meringankan langkah
demi kesebatian volume, warna, dan usia

yang sering mereka pilih
sejak awal hingga akhir
adalah perang antarsenjata:
”lebih baik kami tak punya nama
asal punya kepala,”
kata mereka sembari menyurutkan kaki
dan menyamarkan muka
dengan mengganti-ganti topeng
yang peka dengan perubahan cuaca

REKSA DANA FIKTIF

ini minyak wangi nomor wahid. lebih harum dari seluruh kembang di taman. bahkan, dari seluruh bunga di kebun bunga di negeri ini. apalagi, sekarang bukan musimnya mengunjungi, lalu memetik bunga di kebun bunga. sebab, kumbang dan kupu-kupu sudah lama mengirup habis sari wanginya.

ini minyak wangi nomor wahid. harumnya diracik dari rupa-rupa sari wangi bunga-bunga yang paling istimewa. silakan memilih dan menentukan sendiri kadar harumnya sesuai dengan selera Anda. segala rahasia harumnya dapat Anda baca di prospektus perpustakaan-perpustakaan umum. para peracik minyak wangi yang mumpuni siap membantu Anda menciptakan keharuman tiada tara. meski harganya tak ditambah pajak, harumnya takkan dikurangi. tak perlu ragu. kesempatan ini hanya datang sekali sebelum musim berganti.

bumi berputar, musim berganti. mega-mega tak lagi menghalangi matahari menyambangi bumi. langit kembali biru. botol-botol minyak wangi kosong tanpa isi. ketika penutup botol-botol itu dibuka, dalam sekejap, harumnya hilang ditiup angin. pedagang itu diterbangkan mega-mega entah ke mana tanpa menebarkan harum. tubuhnya memang tak pernah diolesi minyak wangi, apalagi racikan sendiri. kita sendiri tak mampu membaui. sudah lama hidung kita ditujah flu.

L/C FIKTIF

burung-burung pelatuk menerbangkan wangi rempah-rempah, manis buah-buah, dan segar sayur-sayur ke negeri-negeri jauh. meski, di negeri antah-berantah saja, wanginya tak pernah tercium hidung, manisnya tak pernah tercicip lidah, dan segarnya tak pernah menyaput tubuh. tapi, penjaga-penjaga lumbung terus menguar wangi dengan merbak bunga-bunga, terus mengimbuh manis dengan gula-gula, dan terus menebar segar dengan dingin air gunung.

”ambillah ongkos angin sejauh-jauh putaran buana. kuraslah lumbung ini sepuas napsu kantongmu. jangan lupa tempelkan materai seluas jangkauan kepak sayapmu dan sepanas gairah kelamin kami,” bisik penjaga-penjaga lumbung.

lumbung-lumbung melompong atau limbung. para peronda malam mencium bau busuk rempah-rempah, buah-buah, dan sayur-sayur. penjaga-penjaga lumbung diseret ke gardu kampung di bawah kerlap-kerlip bintang-bintang. burung-burung terbang bebas menjelajahi langit tanpa takut dihanyutkan gelap, ditelikung mendung, diguyur hujan, atau disambar petir. langit tak lagi kuasa menyabdakan musim

* L/C: letter of credit (surat kredit untuk pembiayaan ekspor).

DIVESTASI BANK

keris jawa ayah, yang tiga puluh dua tahun menebar bau kamboja dan menggenangkan amis darah di tanah-tanah becek berbau menyengat timbunan sampah, patah ditekuk tumpukan miliaran dolar Amerika. di bawah sorot mata Michel Camdessus, ayah mengguyurkan triliunan rupiah ke brankas-brankas besar para tauke dan pedagang kelontong yang bertahun-tahun menjadi kasir bagi sanak keluarganya.

ketika anak-anaknya tak lagi berpencaharian dan kesulitan makan, ketika ayah tak lagi menjadi bapak kami, brankas-brankas besar yang penuh rupiah mesti dilego, lalu jatuh ke tangan bule-bule. diam-diam, jantung kami berdebar-debar kencang menyadari patahan keris ayah telah berubah menjadi mesin-mesin pengisap makanan-makanan kami yang siap membikin perut kami tetap keroncongan dan tubuh kami kurus kering.

LDR

padi dan palawija telah dijual petani dengan harum bunga yang tipis. para peternak telah menggiring itik, ayam, babi, kambing, sapi, dan kerbau ke kandang-kandang yang dibikin para tengkulak dengan iming-iming pakan yang bergizi dan rumput yang segar –kalau bernasib mujur.

padi dan palawija digelar para tengkulak di pasar-pasar. hewan-hewan ternak dikandangi dan dipancang di tanah-tanah lapang di setiap alun-alun. pengusaha-pengusaha dari pelbagai kota diundang. banyak yang tak datang. sedikit yang membeli. bahkan, para pengusaha pemesan mengingkari janji. para tengkulak memang berdagang setengah hati dan terlalu berhati-hati setelah bertahun-tahun merugi dihimpit kredit macet. trauma masa lalu itu memaksa mereka lebih suka berniaga dengan penjaga seluruh kebun bunga di negeri yang memasang harga beli yang lebih tinggi, meski mereka mesti membuang jauh wajah asli.

* LDR: loan to deposit ratio (perbandingan antara dana yang dikucurkan atau kredit dan dana yang dihimpun atau simpanan), yang dijadikan penanda utama untuk mengukur fungsi intermediasi suatu bank.

(Jawa Pos, Minggu, 27 Desember 2009)

Explore posts in the same categories: Puisi

Tag: , , , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: