ESAI: Dua Tahun Bersama Gus Dur di Istana

Wahyu Muryadi
Mantan Staf Khusus Bagian Protokoler Istana Negara dan Redaktur Eksekutif Tempo

Abdurrahman Wahid yang saya kenal adalah presiden yang tak hanya membuat meriah iklim politik. Dia juga mengubah banyak wajah Istana yang selama ini dianggap sakral. Saya sebagai staf khusus bagian protokoler Istana Negara di masanya sering kerepotan.

Salah satu yang ia ubah adalah protokoler, yang selama ini membuat Istana Negara sangat selektif terhadap tamu dan wartawan. Sebagai orang yang punya jaringan luas, dari politikus perlente sampai kiai teklek (kiai desa), pengamanan sering dianggap menghambat tamu yang hendak menemuinya. Gus Dur meminta aturan itu lebih dilonggarkan. “Istana Negara itu istana rakyat,” kata Gus Dur soal sikapnya itu. Abdurrahman Ad-Dakhil, artinya Abdurrahman sang pendobrak. Karena itu, banyak aturan yang ia dobrak.

Berbeda dengan presiden lainnya, tamu Gus Dur itu macam-macam. Sebagian juga memberi nasihat yang kadang mistik. Wahyu mengingat ada tamu yang menyarankan agar tanah Istana diambil dari tanah yang berasal dari seluruh Nusantara. Untuk menyejukkan suasana Istana, Gus Dur pernah disarankan mengambil air dari sebuah tempat di Jawa Barat. Tak semua nasihat itu ia jalani, tentunya.

Kebiasaannya bertemu dengan banyak orang itu membuat Gus Dur kerap mengabaikan nasihat, termasuk dari dokter yang karena alasan kesehatan melarangnya menemui tamu di atas pukul 10 malam.

Kebijakan ini pula yang membuat jumlah wartawan di Istana Negara melonjak drastis dari sebelumnya, yang kurang dari 100. Pada masa Gus Dur, jumlahnya sampai 800-an. Jumlah wartawan dan tamu yang banyak itu tak membuat Istana seperti “pasar malam”.

Wajah berbeda lainnya dari Istana di masa Gus Dur adalah sentuhan humornya –bahkan dalam saat genting sekalipun. Salah satunya adalah celetukannya tentang jenderal yang sangat berbahaya. Ini disampaikan saat jumpa pers tentang sikap Kepala Polri Bimantoro, yang dianggap membangkang perintahnya untuk meletakkan jabatan.

Seusai konferensi pers, Gus Dur setengah berbisik memanggil para wartawan. “Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja,” ujar Gus Dur dengan mimik serius. “Wah, siapa itu, Gus?” kata wartawan, dengan ekspresi penasaran. “Jenderal itu adalah Jenderal… (General) Electric….”

Kalau soal Bimantoro, Gus Dur nyeletuk begini saat diberi tahu tentang sikap Bimantoro yang tak mau menyerahkan tongkat komandonya. “Golek ae neng (cari saja di) Pasar Turi atau Senen,” kata Gus Dur saat itu.

Gus Dur suatu kali pernah melawat ke Kuba. Saat sedang bersantai di ruangnya, hanya memakai celana pendek, kaus oblong, tiba-tiba pemimpin Kuba Fidel Castro datang. Pejuang gerilya itu pun ditemui Gus Dur dengan pakaian seadanya. (Ditulis ulang oleh Abdul Manan & Ismi Wahid) (Koran Tempo, 31 Desember 2009)

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , , , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: