ESAI: Epidemi Plagiarisme

JANIANTON DAMANIK

Konon, nama besar tak selalu ditopang kejujuran. Tidak jarang kejujuran harus dikorbankan demi merajut popularitas, entah itu berbentuk gelar, jabatan, pangkat atau kekayaan. Bahkan, nama besar acap digunakan untuk membebat borok kebohongan sehingga publik mudah terlena dan enggan bersikap kritis. Lantas, pemilik nama besar pun bebas melenggang di dunia simulacra (baca: keseolah- olahan), tetapi sampai kapan?

Toh, akhirnya, nama besar yang disangga pilar ketidakjujuran runtuh juga. Mungkin inilah yang menimpa James B Twitchell, profesor sastra bidang romantika gotik sekaligus yang fokus pada isu budaya komersialisme di University of Florida, Amerika Serikat, beberapa tahun lalu. Namanya sempat melejit di kalangan ilmuwan berkat buku laris yang ditulisnya.

Ia disebut-sebut sebagai guru besar Sastra Inggris terproduktif di universitas itu karena sukses menerbitkan belasan buku favorit. Sebutlah salah satu di antaranya, Living it Up: Our Love Affair with Luxury, terbitan Columbia University Press, 2002, yang mengupas budaya pop dan konsumtif masyarakat Amerika Serikat (AS).

Apa pasal? Tak lain adalah tindakan penjiplakan yang dilakukan sang profesor. Aksi tak terpuji itu ternyata telah berlangsung lama. Adalah Thomas Barlett (2008), seorang jurnalis yang getol mewartakan wabah penjiplakan yang menulari kaum akademisi AS, yang merilis berita bahwa Profesor Twitchell menjiplak sebagian artikel di Harvard Business Review untuk mengisi paragraf penting di buku Living It Up karangannya. Lebih lanjut dilaporkan, bahwa aksi penjiplakan oleh Twitchell terendus ketika Roy Rivenburg, mantan reporter lepas koran The Los Angeles Times, menemukan tulisannya dijiplak mentah-mentah oleh Twitchell di dalam buku larisnya yang lain, Shopping for God.

Tak pelak lagi, pihak universitas segera turun tangan. Penyelidikan terhadap konduite akademik profesor pun dilakukan sebuah tim khusus. Memang tidak jelas sanksi akademik apa yang dijatuhkan ke pundak Twitchell, tetapi otoritas keilmuannya jelas runtuh di mata publik. Kecaman pun mengalir deras kepadanya. Salah satu datang dari Margaret Soltan. Lewat website-nya, Soltan mengusung tajuk bernada sindiran kepada Twitchell, ”His Love Affair with Plagiarism”. Di sana Soltan menurunkan testimoni Roy Rivenburg tentang bagaimana terkejutnya ia membaca salah satu tulisan di buku Shopping for God yang tak lain adalah tulisan Rivenburg sendiri. Ketika hal itu diklarifikasi kepada Twitchell, ia pun mengaku dan meminta maaf seraya mengatakan tak ingin lagi menulis buku.

Bukan hanya itu. Vonis yang lebih menggetarkan dijatuhkan oleh penerbit Simon & Schuster. Penerbit buku-buku best-seller (versi koran The New York Times tahun 2009) itu menyatakan akan menunda peluncuran buku Shopping for God edisi sampul lunak. Biasanya reaksi penerbit seperti ini bisa berujung pada pencantuman pengarang di daftar hitam. Jika demikian, berakhirlah sudah nama besar dan kredibilitas Twitchell sebagai profesor sekaligus penulis kondang.

Sudah mewabah

Tentu Twitchell tidak sendirian untuk urusan yang satu ini. Sebab, tidak sedikit profesor di AS yang terjerat kasus penjiplakan. Ada rektor yang ditengarai kuat terlibat kegiatan itu ketika menulis disertasi puluhan tahun sebelumnya. Ada ketua jurusan, juga dengan jabatan profesor, yang terbukti membimbing penulisan karya mahasiswa yang diketahuinya sarat penjiplakan. Tak ketinggalan pula sejumlah ilmuwan yang melakukan penjiplakan untuk publikasi di jurnal ilmiah.

Profesor Lee S Simon, misalnya. Guru besar kedokteran di Harvard Medical School itu dilaporkan menjiplak karya orang lain ketika ia menulis artikel ilmiah yang dimuat di jurnal biomedis setempat. Seperti diwartakan The Chronicle of Higher Education (15/03/2009), aksi yang berseberangan dengan etika ilmiah itu terdeteksi oleh tim redaksi jurnal yang cermat membaca naskah kiriman Profesor Simon. Dengan bantuan alat pelacak teks di komputer, akhirnya ditemukan kesamaan isi tulisannya dengan karya orang lain sebelumnya. Tiada maaf, artikel tersebut ditarik kembali oleh pengelola jurnal. Mungkin karena tidak tahan dengan sorotan publik, lalu Profesor Simon pun mengundurkan diri dari jabatannya.

Epidemi penjiplakan juga menjalar ke kalangan mahasiswa di Inggris. Tidak tanggung-tanggung, wabah ini merebak di University of Cambridge, salah satu perguruan tinggi kesohor di Benua Eropa. Koran The Chronicle of Higher Education (20/1/2009) merilis hasil survei yang menemukan 49 persen dari 1.014 responden mahasiswa universitas tersebut terlibat penjiplakan.

Bentuknya beragam, mulai dari sekadar menuliskan ide orang lain di dalam tulisan sendiri tanpa menyebut sumbernya, mengopi dan lalu menempelkan (copy-paste) tulisan orang lain di dalam tulisan sendiri, hingga mengopi hasil riset orang lain kemudian dimuat di laporan penelitian sendiri. Tidak sedikit pula yang mengajukan karya sejenis untuk tugas mata kuliah yang berbeda dengan mengutak-atik judul dan paragraf. Lebih serius lagi, ada yang mengambil jalan pintas dengan cara membeli esai dari penyedia jasa di internet.

Bagaimana dengan kita? Memang belum ada studi tentang seberapa luas penyebaran epidemi penjiplakan karya ilmiah di negeri ini. Ini adalah pekerjaan besar bagi pihak yang berkepentingan meski harus diakui bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) sudah membuat rambu-rambu sanksi. Yang jelas, kasus yang menimpa seorang guru besar di Universitas Parahyangan, Bandung (Kompas, 10/2/2010), dan skandal sejenis yang melibatkan beberapa akademisi sebelumnya ataupun sesudahnya (berita utama Kompas, 18/2/2010) menunjukkan wabah penjiplakan menjadi ancaman serius bagi integritas akademik ilmuwan dan calon ilmuwan kita saat ini.

Repotnya, epidemi penjiplakan karya ilmiah tidak mudah diberantas. Tindakan menjiplak karya orang lain sudah terjadi ratusan tahun silam. Di situs Wikipedia (ensiklopedia bebas) edisi bahasa Inggris, misalnya, kita dapat mengunduh daftar penjiplakan kontroversial yang dilakukan oleh orang-orang ternama di bidangnya sejak Abad Pertengahan. Aksi itu merasuki karya-karya akademik, jurnalistik, sastra, dan musik. Bahkan, sejumlah artikel yang dimuat di Wikipedia itu sendiri pernah diklaim sebagai karya jiplakan.

Sumber penyebab

Tentu tidak terlalu sulit mencari alasan melakukan penjiplakan. Dalam konteks masyarakat kita, ada tiga penyebab yang diduga kuat menggiring orang terjerumus ke perbuatan aib itu.

Pertama, meminjam istilah Koentjaraningrat (1986), adalah mentalitas menerabas—dalam arti ingin cepat tenar dengan cara yang cemar—masih bercokol kuat di masyarakat. Di zaman persaingan tak sehat ini, daya tahan orang untuk mengikuti proses kian tergerus dan lalu digantikan oleh semangat mengutamakan hasil. Demi hasil, apa pun halal. Maka, prinsip asal-jadi (sarjana, profesor, tokoh populer) dengan cara menjiplak pun jadi acuan bertindak.

Kedua, budaya simulacra yang bukannya terkikis habis oleh eskalasi rasionalitas, tetapi justru cenderung kian mengental. Persisnya, ada semacam sindrom megalomania alias ”pantang tidak disebut hebat” yang mendera akal sehat banyak orang. Kaum terdidik tidak luput dari sindrom ini. Hal itu terpapar lewat potret kinerja akademik: publikasi ilmiah. Karena takut tidak disebut pakar yang hebat, mereka lalu memproduksi banyak karya ilmiah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Di titik rawan inilah kemudian aksi penjiplakan terlihat begitu seksi sehingga orang tergoda untuk melakukannya.

Ketiga, minimnya sanksi hukum. Penjiplakan sebagai tindakan mengambil karya orang lain tanpa pemberitahuan secara terbuka, lalu menerbitkannya sebagai karangan sendiri (KBBI, 1994), sesungguhnya mengandung unsur pidana. Ia bisa disamakan dengan korupsi atau minimal pembajakan. Namun, sejauh ini belum ada sanksi hukum bagi plagiator, kecuali mungkin sanksi administratif belaka.

Tentu ada kondisi lain yang bisa memuncaki gairah menjiplak. Pertama, fakta bahwa tidak semua anggota redaksi jurnal ilmiah serius menelisik keaslian naskah yang akan diterbitkan, apalagi penulisnya punya nama besar. Kedua, dosen penguji tak mau repot-repot memeriksa baris demi baris karya ilmiah yang diajukan mahasiswa. Jadi, selama kedua pilar ini keropos, sulit membasmi epidemi penjiplakan.

JANIANTON DAMANIK Guru Besar Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM

(Kompas, 19 Februari 2010)

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: