ESAI: Etika Kebajikan dan Budaya Korps

Alois A Nugroho

“Yang dilihat publik ialah kebiasaan berperilaku yang ditunjukkan oleh setiap anggota korps, dari pimpinan tertinggi hingga frontliners yang langsung berhadapan dengan publik

Apa yang akhir tahun lalu terkuak sebagai kasus “Kriminalisasi KPK” telah menggelinding sebagai bola salju menjadi “Kasus Talangan Bank Century” dan kini mencair menjadi “Kasus Makelar Kasus”. Yang menarik dalam semua kasus itu ialah munculnya tokoh-tokoh atau “oknum-oknum” yang dinilai melakukan kebijakan yang keliru atau tindakan yang salah.
Layaknya infotainment, nama-nama dan wajah-wajah para oknum itu menghiasi media cetak dan media elektronik, beradu kesaksian dan argumentasi tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dan siapa saja oknum-oknum lain yang sejatinya terlibat. Kontroversi seputar kasus-kasus dalam administrasi publik itu tak kalah seru dengan pergunjingan tentang Anang, Syahrini, Kris Dayanti, Raul, atau teka-teki tentang siapakah bapak dari bayi yang dilahirkan Sheila Marcia.
Perspektif seperti ini pernah disebut oleh Johan Galtung sebagai “perspektif pelaku”. Anthony Giddens menyebutnya “perspektif agensi”. Penerapan perspektif ini dalam pemberitaan media tidak lepas dari keniscayaan para wartawan untuk mengemas berita dalam sebuah narasi yang dibantu dengan resep terkenal, 5W+1H (what, where, when, who, why + how). Harus ada jawab atas pertanyaan “Siapa?”. Jawabannya adalah nama-nama dan wajah-wajah yang lalu lalang di media, yang kadang-kadang berbicara berapi-api, kadang-kadang menangis tersedu- sedu.
Dalam etika, perspektif semacam ini berhubungan dengan “etika kewajiban” atau the ethics of duty. Perspektif etika kewajiban ini lebih memfokuskan diri pada tindakan atau kebijakan yang dilakukan oleh agensi. Apakah tindakan atau kebijakan para pelaku itu melanggar kewajiban etis atau bertentangan dengan ekspektasi etis publik? Apakah tindakan atau kebijakan para pelaku itu menghasilkan konsekuensi yang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya?

Perspektif Budaya
Sebenarnya, masih ada perspektif lain yang dapat dicoba terapkan. Dalam etika, perspektif itu disebut perspektif “etika kebajikan” atau virtue ethics. Aristoteles dianggap sebagai perintis etika kebajikan ini. Setelah lama terpendam di bawah dominasi etika kewajiban, perspektif etika kebajikan ini dimunculkan lagi oleh tokoh-tokoh etika semisal Alasdair MacIntyre dan Elizabeth Anscombe. Kemunculannya kembali adalah berbarengan dengan pasang naiknya Pascamodernisme, yakni aliran filsafat yang merayakan pluralisme budaya.
Satuan analisis etika kebajikan bukan lagi tindakan atau kebijakan para pelaku yang dilepaskan dari kebiasaan berperilaku dan adat istiadat yang melahirkannya. Satuan analisis etika kebajikan ialah kebiasaan berperilaku atau budaya. Apakah suatu kebiasaan, budaya atau habitus (Bourdieu) itu cenderung meningkatkan kinerja etis dan mendorong para eksponennya untuk berkembang menjadi “orang baik” atau – sebaliknya – menghambat perkembangan ke arah itu?

Apakah kebiasaan yang ada itu kondusif atau tidak terhadap usaha menjadi “manusia sempurna”?
Dengan perspektif etika kebajikan, kamera tidak lagi disorotkan kepada wajah- wajah atau nama-nama pelaku, tetapi lebih-lebih diarahkan kepada “budaya organisasi” atau “budaya korps”. Apakah kebiasaan berperilaku yang ada pada korps Polri, pada korps Kejaksaan, pada korps Aparat Pajak, pada korps pegawai BUMN, pada korps PNS seumumnya, kondusif atau tidak kondusif bagi penegakan integritas moral dan profesional para anggotanya?
Bahwa ada yang tidak beres dengan Budaya Korps dilihat dari sudut Etika Kebajikan, terlihat dari SMS yang berasal dari seorang PNS dan berbunyi sebagai berikut: “Kalau orang tidak banyak teman, namanya “tidak gaul”. Kalau PNS sudah lama bekerja tetapi belum juga menjadi kaya, namanya “tidak Gayus”.
Dalam perspektif etika kebajikan, cara menyelesaikan masalah etika pun berbeda. Etika kewajiban merasa cukup dengan menindak dan menghukum para pelaku yang melakukan tindakan atau membuat kebijakan yang dinilai melanggar etika. Bagi etika kebajikan, penindakan dan penghukuman para pelaku itu juga penting, namun tidak cukup.
Jelasnya, masalah etika di lingkungan Polri tak cukup hanya dengan menindak misalnya pak Susno Duadji. Memang penting menindak anggota Polri yang dinyatakan salah.Tapi masalahnya, takkan terselesaikan selama anggota masyarakat yang mengurus SIM melalui jalur resmi tak pernah lulus ujian, sementara yang mengurus melalui calo akan memperolehnya hari itu juga, tanpa ujian. Halnya sama dengan korps Kejaksaan, korps Aparat Pajak, korps Imigrasi dan lain-lain.
Dalam perspektif etika kewajiban, pelaku yang salah ditindak, tetapi kebiasaan yang menyesatkan dibiarkan terus berlangsung. Dalam perspektif etika kebajikan, kebiasaan atau habitus itu sendirilah yang ditangani untuk diubah ke arah yang lebih kondusif bagi penegakan integritas moral para anggota.
Perspektif etika kebajikan juga tidak menganggap cukup adanya pernyataan visi dan misi yang dipajang di dinding-dinding dan dipidatokan pada setiap upacara. Itu penting, tetapi tidak cukup. Yang lebih penting adalah perilaku yang memanifestasikan pernyataan visi dan misi itu. Actions speak louder than words, kata pepatah Inggris.Yang dilihat publik ialah kebiasaan berperilaku yang ditunjukkan oleh setiap anggota korps, dari pimpinan tertinggi hingga frontliners yang langsung berhadapan dengan publik. Publik berharap, semoga pergunjingan tentang pelaku yang terjadi sekarang dapat membawa tumbuhnya habitus baru yang lebih etis dalam budaya-budaya korps pada masa-masa mendatang.

Penulis adalah guru besar filsafat di Unika Atma Jaya, Universitas Indonesia dan STF Driyarkara serta staf senior Pusat Pengembangan Etika
(Harian Suara Pembaruan (Jakarta), 10 April 2010.)

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: