BERITA: Album yang Acuh, Seksi, Mentah, Kotor, dan Nikmat

Hampir 40 tahun yang silam Rolling Stones bedol deso ke Perancis untuk merekam Exile on Main Street (1971), yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai album terbaik mereka. Tanggal 17 Mei album itu dirilis ulang dalam versi remastered dengan tambahan unreleased track.

Wartawan The Observer, Sean O’Hagan, mendapat kesempatan menyaksikan film dokumenter yang akan dijual dalam satu paket edisi terbatas album Exile dalam bentuk piringan hitam. Dalam film dokumenter itu, Keith Richards mengungkap ketegangan antara dia dan Mick Jagger selama proses pembuatan album. ”Mick perlu diatur apa yang mesti ia kerjakan besok. Saya santai-santai saja habis bangun tidur, cuma mengecek siapa yang hadir. Mick’s rock, I’m roll,” ujar Richards.

Meski Richards nge-bos, semua orang (termasuk orang- orang produksi dan teknisi) bekerja keras. Begitu keputusan album tersebut akan direkam di ruang bawah tanah Villa Nellcôte, vila yang disewa Richards di Perancis selatan, semua patuh. ”Hampir semua aspek pembuatan Exile dilakukan Richards. Ia bisa mengulang sebuah lagu 20 kali, lalu dipoles, lalu diulang 20 kali lagi. Ia tahu mau apa, tetapi santai,” ujar Charlie Watts di dokumenter itu.

Exile jelas menyuguhkan selera rock’n’roll Richards yang tergambar pas lewat salah satu nomornya, ”Torn and Frayed”, yang ia tulis. Sikap santai Richards tecermin dari sebuah nomor lainnya, ”Happy”, yang hanya direkam satu kali take saja. Ia bangun tidur dan mengajak pemain saksofon Bobby Keys dan produser Jimmy Miller yang ia paksa main drum karena Watts sedang tidur. Menurut Keys, proses rekaman ”Happy” amat santai dan tanpa kesulitan berarti.

Mungkin karena sering absen dalam proses rekaman, Jagger pernah mengakui ia kurang suka Exile. ”Suara album itu kurang tertata. Saat itu Miller kurang berfungsi. Saya harus menyempurnakan seluruh proses rekaman karena kalau tidak jadi sebuah hasil produksi orang- orang yang sedang mabuk alkohol dan terbuai narkotika,” ujarnya.

Vokal Jagger sering terasa tertelan suara instrumen-instrumen sekalipun tetap bisa menyesuaikan diri dengan konsep rock’n’roll Exile yang mentah. Sekalipun kurang suka, Jagger-lah yang mengurus rilis ulang album ini. Total ada sepuluh unreleased track, sebagian di antaranya merupakan nomor-nomor rekaman tahun 1971 dalam versi berbeda.

Seorang wartawan asal Amerika Serikat, Robert Greenfield, sempat mengikuti proses rekaman itu dan menulisnya dalam sebuah buku berjudul A Season in Hell with the Rolling Stones. Buku itu antara lain menceritakan Richards yang menjadi korban narkoba bersama pacarnya, Anita Pallenberg. Saking seringnya Richards tak sadarkan diri, Pallenberg akhirnya berpaling ke Jagger sehingga menciptakan cinta segitiga—kebetulan Jagger dan Pallenberg pernah bermain bersama dalam film Performance tahun 1968.

Selain Greenfield, Stones mengajak seorang fotografer Perancis, Dominique Tarle, membuat buku foto yang merekam proses rekaman itu. ”Saya membaca buku Greenfield hanya delapan halaman karena ia tidak menulis tentang musik Exile. Ia menulis tentang ’neraka bersama Rolling Stones’, seolah semua bejat. Kami semua masih muda dan menikmati kebebasan, penuh energi, dan kreatif. Bagi saya saat itu bukanlah ’neraka’, tetapi ’surga’,” kata Tarle.

Saksi lain adalah Tommy Weber, yang saat itu berteman dekat dengan Richards. ”Jelas ada kokain dan juga ganja. Jika Anda hidup dalam suasana dekaden seperti itu, pasti ada cerita-cerita suram. Tetapi, cerita seperti itu tak banyak. Justru banyak cerita ceria karena musik Exile istimewa,” kata Weber. ”Betul banyak ganja, juga wiski, dan tentu perempuan. Tetapi, itulah rock’n’roll,” kata Keys.

Reputasi anjlok

Stones hengkang menjadi pelarian ke Perancis untuk menghindari pajak 93 persen bagi orang-orang terkaya di Inggris. Saat itu Stones nyaris bangkrut karena ulah manajer mereka, Allen Klein. Reputasi Stones sedang anjlok karena kematian misterius Brian Jones, kasus overdosis Marianne Faithfull (pacar Jagger), dan pembunuhan penonton di konser gratis di Altamont, California. Untungnya album ke-9, Sticky Fingers, bercokol di urutan teratas album terbaik Inggris dan Amerika Serikat.

Stones membawa serta studio mobil yang diparkir di luar vila yang pernah menjadi markas besar Nazi. ”Kami ibarat mau merekam musik di tempat perlindungan bawah tanah Hitler. Di mana-mana ada lambang swastika,” kenang Richards. Nyaris tak ada sebuah ruangan yang mencukupi untuk menampung instrumen dan alat-alat perekam. Miller harus bolak-balik dari mobil perekam di luar ke dalam rumah untuk mengatur semuanya.

Setelah rekaman berjalan beberapa pekan, Jagger mengumumkan akan menikahi Bianca Pérez Morena de Macias, model asal Nikaragua, di St Tropez, Perancis. Setelah pesta nikah besar-besaran, Jagger dan istri sempat berbulan madu sepekan di Villa Nellcôte. Seminggu kemudian Gram Parsons, bintang musik rakyat asal Amerika Serikat yang bersahabat dengan Richards, tinggal sebulan di vila itu sebelum diusir secara halus karena mengganggu proses rekaman.

Setelah rekaman selesai musim panas 1971, satu per satu mulai meninggalkan vila itu sampai yang terakhir Richards dan Pallenberg bulan November. Exile dipoles di Studio Sunset Sound di Los Angeles, Amerika Serikat. Lirik beberapa lagu baru ditulis pada hari-hari terakhir di vila, termasuk singel album tersebut, ”Tumbling Dice”. ”Lirik lagu itu terilham obrolan saya dengan seorang pembantu rumah tangga di vila. Lirik lagu lainnya, ”Casino Boogie”, juga saya kerjakan belakangan,” tutur Jagger.

Selain berkat kemahiran kelima personel Stones, Exile juga menjadi berwatak karena saksofon Keys, terompet Jim Price, dan piano Nicky Hopkins. Khusus untuk Richards, Exile menjadi penutup buku karena setelah itu ia terjerumus ke jurang narkoba yang berkepanjangan. Sejak itulah Jagger praktis menanggung semua beban kreativitas Stones, termasuk mengarahkan pembuatan dua album berikutnya, Goat’s Head Soup dan Black and Blue.

Pada medio 1970 Stones ditelan era musik rock progresif dan juga punk. ”Kami saat itu benar-benar seperti pelarian yang harus menghadapi tekanan berat dari mana-mana. Untung kami bersikap masa bodoh dan sikap seperti itu ternyata ampuh,” kata Richards. Memang benar, Exile sampai kini masih tetap terdengar acuh, seksi, mentah, kotor, dan, tentu saja, nikmat. Tak salah jika sebagian peminat menilai Exile album terbaik Stones sampai saat ini. (Budiarto Shambazy)

(Harian Kompas, 1 Mei 2010)

Explore posts in the same categories: Berita, REFERENSI

Tag: , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: