ESAI: Salat Subuh, Refleksi

Andar Ismail

Terdengar aneh. Pagi buta sebelum berangkat ke Malang untuk masuk sekolah teologi, saya Salat (Ar.Sholat) Subuh. Ya, saya bertelut di atas tikar bersama si Kakak. Kami berkiblat ke arah Mekah dan berdoa. Lho, mau sekolah pendeta kok Salat lebih dahulu?

Inilah ceritanya. Pagi-pagi sekali kami terbangun oleh dering beker lalu bersiap-siap. Si Kakak akan mengantar saya ke stasiun Gubeng. Sementara itu saya duduk di tikar. Lalu si Kakak menghampiri tikar dan bertelut di sebelah saya. Katanya, “A-an, Kakak Salat Subuh dulu”. Lalu ia mulai menjalankan rukun Islamnya. Saya yang duduk di sebelahnya langsung ikut bertelut dan berdoa. Si Kakak berdoa secara Islam sedangkan saya berdoa secara Kristen. Kamar itu sangat sunyi. Yang terdengar hanya bunyi detik beker.

Segera setelah itu, saya naik becak memegangi koper, sedangkan si Kakak bersepeda. Ketika kereta api akan berangkat dengan tenang dan penuh kesungguhan ia berkata, “A-an, tadi Kakak mendoakan supaya A-an sekolahnya berhasil, supaya A-an jadi pendeta”. Luar biasa, saya didoakan oleh seorang teman Muslim supaya menjadi pendeta.
Saya menyebut Kakak kepadanya karena ia lebih tua beberapa tahun. Ia bernama Ruswandi. Ia sudah di SMA ketika saya masih di SMP. Kami bertetangga di Jalan Industri di Bandung. Rumahnya tepat bersebelahan dengan kami terpisah oleh kebun pisang. Ibu saya sering berkata, “Kita musti sopan. Tetangga kita ini keluarga Sunda yang terpelajar dan menak”. Teman-teman sekolah saya yang datang untuk bermain bulutangkis juga ikut memanggil si Kakak kepadanya.

Yang menjengkelkan ketika baru berkenalan adalah bahwa si Kakak memanggil saya A-an. Itu bukan nama saya. Beberapa minggu kemudian ketika kami mulai akrab karena sering bermain bulutangkis di halaman belakang, saya memberanikan diri untuk mengoreksi. Saya berkata, “Kak, nama saya bukan A-an, tetapi Hon An”. Ia tertawa dan menjelaskan, “Dalam budaya Sunda ada panggilan akrab dengan imbuhan yang diambil dari suku kata nama. Junaidi menjadi Jujun. Parman menjadi Maman. Hidayat menjadi Yayat. Karena itu, Hong An menjadi A-an”.

Beberapa tahun kemudian si Kakak masuk sebuah akademi di Surabaya. Kami berhubungan melalui surat. Ketika kemudian saya berniat masuk ke Sekolah Teologi Balewijoto Malang, saya harus menginap di Surabaya sebab kereta api dari Bandung tiba di Surabaya larut malam, sedangkan kereta api selanjutnya ke Malang baru ada keesokan harinya. Saya belum pernah menginjak Surabaya. Di mana saya harus menginap? Oleh sebab itu, saya minta tolong pada si Kakak. Ternyata ia langsung membalas surat dan menyuruh saya menginap di asramanya.

Untunglah si Kakak menjemput di Stasiun Pasar Turi sebab saya sungguh asing di Surabaya. Kamarnya di asrama sempit. Ia tidur di atas dipan, sedangkan saya di atas tikar.

Nah, tikar itulah yang menjadi fokus cerita ini. Di atas tikar itulah si Kakak dan saya berdoa pada waktu Salat Subuh menurut keyakinan masing-masing. Cara berdoa kami berbeda dan kepercayaan kami juga berbeda, namun kami berpijak di atas tikar yang sama.

Bukankah permukaan bumi ini ibarat sehelai tikar yang luas? Di atas tikar yang luas ini umat manusia dari puluhan macam agama berdoa: Shinto, Tao, Jain, Zoroastri, Yahudi, Sikh, Kejawen, Bahai, Kong Fu Zi, Hindu, Zen, Buddha, Islam, Kristen dan lainnya. Belum lagi mazhabnya. Di dalam tiap agama terdapat puluhan mazhab dan aliran yang berbeda.

Lalu doa agama mana yang didengar Allah? Agama mana yang diakui oleh Allah? Ajaran mana yang resmi atau sah?
Masakan Allah sepicik itu sehingga Ia membuat pembedaan? Lagi pula apa perlunya agama yang diberi pengakuan? Masakan Allah menganggap ajaran ini resmi sedangkan ajaran itu kurang resmi? Oleh sebab itu, siapa gerangan yang berhak mengatasnamai Allah dengan mengatakan ini ajaran benar dan itu ajaran sesat?

Sungguh arogan bila kita merasa mempunyai hikmat atau akalbudi bijak tentang Allah. Para pengarang kitab Amsal Salomo yang hidup sekitar 400 tahun setelah Salomo, mengecam para pemuka agama yang merasa mempunyai hikmat tentang Allah. Tulisnya, “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak…” (Ams. 3:7). Allah adalah misteri sehingga tidak ada hikmat manusia yang dapat memahami atau mengukur penilaian Allah.

Semakin mendalam kita berteologi, semakin kita akui bahwa pengetahuan kita tentang Allah merupakan hanya satu perspektif di antara sekian banyak perspektif lain. Dalam buku Penyataan Allah, Agama, dan Kekerasan terbitan BPK Gunung Mulia, Leo Lefebure menulis bahwa teologi semua agama adalah docta ignoranta yaitu ketidaktahuan yang merasa tahu.

Di atas tikar itu si Kakak dan saya menghadap Allah dengan perspektif masing-masing yang berbeda. Kami memang berbeda namun kami berpijak di atas tikar yang sama.

Penulis adalah pengarang buku-buku Renungan Seri Selamat BPK Gunung Mulia

(Harian Suara Pembaruan, 8 Mei 2010)

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Komentar pada “ESAI: Salat Subuh, Refleksi”

  1. nayya Says:

    hoi admin….! artikel ini kok masuk tags islam, nggak sale tuch…?

    • Bintang Writing School Says:

      Karena tulisan ini membahas relasi pemeluk Islam dan Kristen, tentu Islam bisa dijadikan tags selain Kristen.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: