ESAI: Gila Bola, (Jangan) Lupa Perkara!

Effendi Gazali

Selamat datang bulan Piala Dunia! Setiap empat tahun sekali pesta ini ditunggu bak ritual agama. Bahkan, politik seakan terancam berhenti sejenak. Mahasiswa dan aktivis 1998 mafhum benar bahwa revolusi harus tuntas sebelum Piala Dunia dimulai!

Dalam sejarah, ”Indonesia” pernah tampil di Piala Dunia 1938 (Prancis), atas nama Dutch East Indies (Hindia Belanda). Timnas waktu itu ditaklukkan Hongaria, 0-6. Dengan sistem gugur, mereka angkat koper. Namun, bolehlah mengelus dada, timnas dikalahkan tim yang keluar sebagai runner up! Prestasi menonjol PSSI terakhir kalinya adalah juara di Sea Games XVI, Manila, 1991.

Di luar penampilan dinamis pada Piala Asia 2007 (dan jadi juara futsal Piala AFF April lalu), PSSI miskin prestasi di lapangan hijau. Yang kita dengar di media lebih banyak soal pendukung (makin) mengamuk, pengaturan skor, keraguan statuta, perkelahian di lapangan, hukuman tidak konsisten, dan sebagainya. Setelah Reformasi 1998, jumlah ekspos semacam ini jauh melebihi berita positifnya.

Karena fakta-fakta di atas, menarik mencoba menganalisis apakah terdapat hubungan antara reformasi (atau juga ”revolusi”) yang relatif total dan berhasil di berbagai bidang dengan perbaikan sepak bola suatu negara?
Barangkali tak ada nasib yang lebih mengenaskan daripada Tim Italia jelang Piala Dunia 2006 di Jerman. Mereka diguncang skandal suap (Calciopoli) yang menimpa klub papan atas Juventus dan AC Milan. Anehnya, pasukan Lippi malah keluar sebagai Juara Dunia! AC Milan pun kemudian jadi Juara Liga Champion! Menurut beberapa pemain, skandal memalukan itu justru membuat mereka berusaha keras mempersatukan diri dan berprestasi untuk menegakkan muka!

Namun, jangan lupa, sebelumnya tindakan dan hukuman setimpal langsung dijatuhkan menyusul skandal ini. Gelar Juventus dua musim berturut-turut dicopot dan mereka diturunkan ke Serie B musim 2006/2007. AC Milan dikurangi poinnya sehingga memulai Serie A dengan defisit angka. Italia, tepatnya Sicilia, sering dianggap tanah leluhur para mafia. Karena itu, sampai sekarang ada keraguan mafia tetap bermain di kompetisinya. Namun, intinya prestasi mereka tetap unggul dan hukuman tidak mencla-mencle. Sistem pemerintahan dan kepastian hukum Italia pastilah lebih kurang mengikuti standar Uni Eropa.

Bandingkan dengan China, negeri yang juga terang-terangan dan keras memberantas mafia beserta koruptor. Prestasi sepak bola mereka membaik walau belum sekelas Italia. Apa lacur, mafia pengaturan hasil pertandingan juga melanda China. Namun, segera, Ketua Persatuan Sepak Bola China (CFA) Nan Yong dipecat! Setidaknya sekitar dua puluh orang yang terdiri dari pemain, pelatih, manajer tim, dan perangkat pertandingan ditangkap. Bahkan, tersiar kabar wasit yang terlibat bisa saja ditunggu hukuman mati! Walau tak lolos ke Piala Dunia, China sempat mengalahkan Prancis 1-0 dalam pertandingan pemanasan (untuk hasil tersebut, bermimpi pun PSSI mungkin belum berani).

Jika kita belajar dari dua kasus di atas, khususnya China, tampaknya pemberantasan mafia dan koruptor yang tuntas paralel dengan kemajuan sepak bola!

Belajar ”fair play”
Balik ke negeri sendiri, sihir Piala Dunia dikhawatirkan digunakan untuk melenakan penuntasan sejumlah perkara. Kasus Susno Duadji jadi sesuatu yang menarik dikaitkan dengan Piala Dunia. Bukan saja soal istilah ”peniup peluit” yang lazimnya ada di lapangan hijau, tetapi lebih dari itu, soal pemberantasan mafia dan koruptor yang tak tuntas, yang tak didukung semangat fair play! Tim independen pemeriksa Susno belum tentu seindependen wasit sebagaimana mestinya. Kalau saja mereka dianalogikan ibarat wasit yang (pernah) terlibat, di China mereka sudah terkena hukuman sangat berat!

Meminjam masalah mafia Italia, saya sering memakai logika yang sangat sederhana untuk menjelaskan kasus Susno. Andaikan Susno disamakan dengan mafia (sekali lagi ini pengandaian). Faktanya, berbagai kasus mafia di dunia umumnya terbongkar karena ”peniup peluit” dari dalam. Untuk balas jasa, yang membongkar mendapat pengurangan hukuman, bonus sekian persen dari keuangan negara yang diselamatkan, dan perlindungan. Di negara maju, dia bisa menikmati program penggantian identitas, dipindahkan ke negara bagian lain, bahkan perlindungan sampai tutup usia!

Apa yang sekarang dialami Susno? Rumah tahanan dan terus dicari-cari kesalahannya. Pertanyaan amat menohok Polri adalah: kenapa kesalahan Susno pada, misalnya, pilkada Jawa Barat dicari sekarang? Apakah selama ini Polri sengaja mendiamkan perkara itu (kalau memang ada) dan itu relatif berarti tindakan pidana pula?

Selamat gila Piala Dunia, tetapi jangan lupa perkara: Susno, Century, dana aspirasi, dan sebagainya. Kasus dana aspirasi ibarat suatu kesebelasan dengan kostum kuning, yang meminta uang untuk menyogok penonton agar bersorak-sorai memuji mereka. Padahal, penonton mungkin sesungguhnya kesal dengan ulah mereka yang mengatur-atur politik pertandingan secara kartel!

Effendi Gazali Koordinator Program Master Komunikasi Politik UI; Mantan Wartawan Sepak Bola dan Meliput Piala Dunia 1990 di Italia

Harian Kompas, 12 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One Comment pada “ESAI: Gila Bola, (Jangan) Lupa Perkara!”

  1. rtronikreload Says:

    betul, betul, betul……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: