BERITA: 50 Tahun Koes Bersaudara, “Tul Jaenak” di Gang Koes Plus

Budi Suwarna & frans sartono

Koes Bersaudara, band yang kemudian menjadi Koes Plus, genap 50 tahun pada bulan Juli nanti. Mereka menjadi legenda pop yang hidup di hati rakyat sampai kini.

”Gang Koes Plus”. Tulisan itu terpampang di mulut sebuah gang sempit di RT 04 RW 03, Kampung Kintelan Baru, Semarang, Jawa Tengah. Kompas menyusuri gang yang berkelok menanjak di permukiman padat penduduk itu, Sabtu (5/6) siang lalu. Sekitar 100 meter dari mulut gang lamat-lamat terdengar lagu Koes Plus ”Tul Jaenak” dari sebuah rumah petak.

Di halaman rumah itu, Widianto (53) manggut-manggut mengikuti irama ”Tul Jaenak” sambil mengelap sepeda. Di gang itu juga ada Voni (57), yang ikut mendengarkan sambil menimang anak kecil.

Kita tengok rumah Welly (53), yang menjadi Ketua RT 04 RW 03, di gang itu. Di depan rumahnya terpajang poster besar Koes Plus. Gang Koes Plus itu akan lebih hidup setiap peringatan tujuh belasan. Warga menggelar koesplusan atau acara menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Mengapa Koes Plus? ”Karena Koes Plus itu satu-satunya band di Indonesia yang lagunya bicara soal jiwa Nusantara,” kata pak RT.

Welly mengatakan, dari 36 keluarga di RT-nya, separuh lebih merupakan penggemar Koes Plus. Karena itu, ketika dia mengusulkan agar gang menuju RT tersebut diberi nama Gang Koes Plus, warga setuju. Maka, sejak Januari 2010, gang yang tadinya tak bernama itu diberi nama Gang Koes Plus.

”Mungkin, ini satu-satunya Gang Koes Plus di dunia,” kata Welly bangga.

Masih di Semarang, kita bertandang ke Kampoeng Koes di Jalan Guntur. Di saung beratap pelepah daun kelapa penggemar Koes Plus nongkrong dan reriungan menyanyi. Pada tembok di saung itu terdapat mural bergambar personel Koes Plus yang ditiru dari album Koes Plus Volume 9. Pada mural itu terdapat tanda tangan personel Koes Plus Murry dan drumer Koes bersaudara, Nomo Koeswoyo, yang pernah berkunjung ke sana. Menjelang petang awak band The Relax, yaitu Heri (50) dan Anton (29), tengah reriungan dengan gitar menyanyikan lagu Koes Plus, ”Relax”.

Jiwa Nusantara

Dan marilah kita ke Desa Beran, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di desa yang tak jauh dari pabrik gula Madukismo ini ada komunitas penggemar Koes bernama BR Plus. BR singkatan dari Beran.

Sejak tahun 2002, warga kampung ini mendominasi arena THR Purawisata, Yogyakarta, di mana setiap Jumat digelar koesplusan. ”Setiap Jumat malam kampung jadi sepi. Kami sekitar seratus orang berbondong-bondong ke Purawisata untuk koesplusan,” kata Eko BR (28), yang kini menjadi ketua BR Plus.

Banyak warga desa itu memang menjadi penghayat lagu Koes. Mereka bahkan mempunyai agenda berziarah ke makam pentolan Koes, yaitu Tony Koeswoyo, di Tanah Kusir, Jakarta.

Gang Koes Plus di Semarang atau Kampung Koes di Bantul itu hanya bagian dari komunitas penghayat lagu Koes di seluruh Tanah Air. Mereka terhimpun dalam kekerabatan bernama Jiwa Nusantara yang berdiri tahun 2004. Komunitas itu tumbuh di Solo, Sragen, Pacitan, Jepara, Kudus, Magelang, Yogyakarta, Kulon Progo, Denpasar, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Jakarta.

”Bulan Juli nanti kami akan mengukuhkan kepengurusan Jiwa Nusantara di Tuban,” kata Cecep Rosadi, Ketua Umum Jiwa Nusantara. Tuban dipilih karena merupakan kota kelahiran awak Koes Bersaudara.

Budaya pop

Tampaknya bukan sekadar romantisisme masa lalu. Di antara penikmat Koes itu adalah kalangan remaja, sampai 20-an tahun. Ketua komunitas BR Plus, Eko BR, misalnya, berusia 28 tahun. Atau

Anton, anggota Band The Relax, berusia 29 tahun. Mereka lahir ketika Koes sudah tidak dalam masa jaya seperti sebelum era 1980-an. Koes Plus telah melintas generasi dan mempertemukan berlapis generasi.

Pertemuan antargenerasi itu, dalam pandangan antropolog Dr Lono Lastoro Simatupang, dimungkinkan karena budaya populer memang menjadi ruang pertemuan antara generasi tua dan generasi muda. Bisa dikatakan, tidak ada pemisahan tegas antara ”tua” dan ”muda” dalam budaya pop.

”Sifat lintas generasi itu dapat dipahami sebagai pengejawantahan watak industri budaya populer itu sendiri. Sifat seperti ini berbeda dari budaya tradisi yang umumnya memiliki penjenjangan generasi,” kata Lono, Kepala Jurusan dan pengajar di Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Dalam konteks semacam itu, kata Lono, generasi tua tidak merasa canggung untuk ikut berkiprah dalam penghadiran kembali musik-musik Koes Plus. Sementara anak muda pun menemukan ”ruang percakapan” dengan generasi tua.

”Bagi kalangan muda, bukan Koes Plus-nya yang diutamakan, namun suasana dan spirit yang terdapat dalam lagu dan musiknya,” kata Lono.

Dan spirit ”Tul Jaenak” sampai ”Nusantara” itu masih hidup.

Harian Kompas, 13 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Berita, REFERENSI

Tag: ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One Comment pada “BERITA: 50 Tahun Koes Bersaudara, “Tul Jaenak” di Gang Koes Plus”

  1. Arjuna Says:

    Liputan Kompas yang satu ini masih saya simpan klipingnya. Edisi istimewa Koes Ploes, mantap…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: