CERPEN: Klown dengan Lelaki Berkaki Satu

Ratna Indraswari Ibrahim

Tom, kau masih ingat kan, ketika ibunya Klown meninggal (badut yang kita sayangi sejak kecil), berduyun-duyun orang bertakziyah (waktu itu kita baru berumur 10 tahun).

Di sudut rumah ini kutemukan pak Klown buru-buru menghapus air matanya. Sesungguhnya air mata itu seperti rangkaian bunga melati yang harum dan jatuh satu per satu!

Aku tercengang!

Setelah peristiwa itu (yang selalu menjadi obsesiku), bertahun-tahun kemudian, aku bertemu lagi dengan pak Klown, secara tidak sengaja dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Malang dengan kereta api. Kami duduk bersebelahan, dia segera tahu siapa aku.

Pak Klown tersenyum kepadaku.

Tom, hal ini belum pernah kuceritakan kepadamu. Setiap kali sendirian, aku merasa melihat lagi air mata pak Klown.

Di kereta api ini beberapa orang menghampiri dan menyalami pak Klown. (Mereka kelihatan tersenyum, bahkan ada beberapa yang tertawa geli). Padahal aku tahu, pak Klown tidak sedang melawak. Ketika rombongan itu sudah pergi, pak Klown menoleh (aku sedang membaca buku).

”Aku senang, melihat kau suka membaca!”

”Pak Klown juga membaca?”

”Yah, aku membaca setiap kali ada kesempatan.”

”Maaf, di setiap lakon yang kulihat, peran pak Klown kok cuma jadi pembantu tua yang bodoh!”

”Ya, aku sudah tua dan hanya berperan itu-itu saja. Namun bukan berarti, aku tidak butuh membaca buku. Menurutku peran itu tidak hanya menampilkan kebodohan, tapi cara kita menertawakan diri sendiri. Ini sulit, karena ego melindungi kelemahan dan perlu keberanian untuk menetralisir ego itu.”

Aku Ona, perempuan muda (dua puluh dua tahun) melihatnya. Dan kukatakan, ”Aku akan belajar dengan pak Klown selama libur semester ini. Aku jenuh mempelajari ilmu di bangku kuliah.”

”Aku suka ngobrol dengan kamu.”

Tom, kemudian dia tidur dalam perjalanan yang jauh ini. Entahlah, mengapa baru sekarang aku menceritakan kepadamu sejujur mungkin tentang pak Klown.

Klown terbangun lagi. ”Ini tidur yang nyenyak sekali, kita sudah sampai di Jogja? Kau tahu, kami pernah manggung di kota ini. Tapi yang datang tidak banyak, karena di panggung lain ada musik dari Jakarta. Beberapa temanku sedih dan bilang, kita sudah terlampau tua untuk digemari anak-anak muda. Melihat kursi yang hanya terisi beberapa orang, tiba-tiba kami semua merasa sedih dan menangis bersama. Ketika dalam situasi kacau, kami harus naik panggung! Namun, kala itu para penonton tertawa sembari memegang perutnya.

Gemuruh tawa mereka luar biasa. Padahal saat itu, salah seorang teman kami ayahnya seminggu yang lampau meninggal, tapi aktingnya luar biasa, dialah yang menyulut tawa para penonton.”

Tom, aku nyeri mendengar buntut percakapan itu. Aku kira selama ini, apa pun yang dia lakukan di panggung mengalir begitu saja.

”Jadi selama ini pak Klown akting?”

”Aku memang harus belajar keras untuk akting seperti itu. Padahal, selama ini aku tidak pernah berpikir untuk jadi pelawak yang harus mengerti filosofi kehidupan. Waktu itu aku cuma menggantikan seorang senior yang sakit dan kulakukan itu dengan semangat muda yang sedang mencari identitas. Sebab, semua orang di kampung tahu, ayahku cuma gemar menikah tanpa pernah peduli pada anak-anak hasil pernikahannya. Masa kecilku lebih banyak kulewati dengan kesedihan, kesendirian dan selalu kurindukan seorang ayah yang bisa mengajakku jalan-jalan.

Setelah bertahun-tahun kemudian baru kutemukan sosok itu, adik sepupu ayahku yang pulang kampung karena kecelakaan lalu lintas, sehingga berkaki satu. Dari dia, aku belajar bagaimana orang bisa sabar melihat kelemahan setiap manusia. Salah satu caranya dengan melucu. Bersamanyalah aku baru tahu, melucu itu harus belajar!”

Sebelum muncul pertanyaan lain dariku, sekali lagi banyak orang merubung pak Klown dan terpingkal-pingkal. Lantas kulihat pak Klown ingin beranjak dari tempat ini, ”Saya akan ke kamar kecil dulu.” Orang-orang tertawa lagi. Dengan terbirit-birit pak Klown masuk ke kamar kecil itu.

Aku sekarang yang mulai mengantuk. Tiba-tiba kudengar napas pak Klown dan aku bicara pelan-pelan, ”Pak Klown apa sedang akting?”

”Aku mengantuk, hampir dua malam tidak bisa tidur, keinginan yang sederhana kan?”

”Ona, kalau kamu mau, aku bisa mendidikmu menjadi pelawak perempuan yang berkesan tidak bodoh. Ini memang tidak mudah, tapi aku tahu, kau pasti bisa.”

Waktu itu, aku menggelengkan kepala.

Aku sedang belajar akuntansi dan dia bilang begini, ”Menjadi pelawak bukan sekadar mesin tertawa, tapi belajar menyeimbangkan otak kiri dan kanan dan menghibur orang lain. Itu pelajaran yang sulit, butuh kesungguhan dan kerja keras.”

”Aku tahu, tapi aku merasa tidak perlu berada di dunia itu.”

Pak Klown menganggukkan kepalanya, dan berkata begini, ”Kalau dunia ini tidak ada pelawak lagi, lantas bagaimana ya? Apa kita cuma harus belajar ilmu kesehatan, matematika dan cuaca hari ini? Apa dunia pelawak sudah tidak bisa dianggap sebuah hiburan yang membebaskan diri kita sendiri, kalau sudah banyak klub-klub malam, mimpi-mimpi yang dirangkai oleh pengusaha dalam bentuk sinetron?”

”Ona, di tahun-tahun ini aku tidak melihat lagi orang-orang yang bersenda gurau seolah-olah itu tabu, tidak efisien dan efektif. Karena bentuk dari dunia modern hanya orang yang bekerja keras dan orang-orang yang melipat bibirnya, mereka sudah melupakan senda gurau itu bahkan anak-anak yang belajar di SD tidak bisa tertawa lagi karena beban di sekolahnya terlampau berat.”

Pernyataannya kelewat berat, ketika kulihat wajahnya dia tidak akting. Lantas pak Klown meneruskan ceritanya, ”Keempat anakku tidak ingin seperti diriku. Kau tahu sendiri, setelah tamat SMA mereka kuliah ke luar kota dan jarang pulang. Teman-teman anakku tidak ada yang tahu kalau bapaknya seorang pelawak, aku pernah dengar cerita di kos-kosan anakku, kalau aku muncul di TV mereka tidak pernah ingin menontonku.

Aku tahu, aku tidak bisa dibanggakan seperti bapak teman mereka, apalagi peranku dalam dunia lawak sering sebagai pembantu yang di pundaknya selalu ada lap dan kelihatan dungu! Penonton ingin melihatku seperti itu di luar panggung, kalau tidak aneh kan? Seperti mencabik-cabik mimpi mereka, kau tahu suatu kali anakku membersihkan kamar di kosnya, anakku menaruh lap di pundaknya, dan seorang temannya yang masuk ke kamar itu nyeletuk, ’Doni, kamu setolol pelawak itu (dia menyebut namaku).’ Pada waktu itu anakku merasa dicekik, dia bilang begini,” Itu bapakku! Dia memang tolol, tidak seperti bapakmu yang pejabat.”

”Pak Klown, pelawak kan pekerjaan yang butuh keseimbangan antara rasio dan rasa dan panjenengan (Anda) bukan koruptor atau penjahat lainnya.”

Pak Klown tidak menjawab, namun dia kelihatan resah, lantas kami berdua terdiam.

Tom yang baik, kukatakan pada pak Klown, apa yang dia lakukan adalah keberanian, sekalipun menjadi badut bukan tempat terhormat di masyarakat kini.

Pak Klown membenarkan ucapanku, dia juga bilang begini, ”Tidak ada yang bisa dibanggakan dengan menjadi pelawak saat ini, memang sebaiknya teruskan kuliah dan menjadi akuntan seperti cita-citamu, sebab menjadi orang yang berseberangan dengan orang lain sungguh tidak mudah, apalagi semua orang pada saat ini punya cita-cita bersama, di luar itu adalah kegilaan.”

”Tapi pak Klown bahagia kan bekerja seperti ini?”

”Saya tidak tahu Ona, apakah ini seperti ketika kita mengisap rokok yang sudah menjadi kebiasaan rutin dan melekat atau ada hal lain, popularitas dan uang.”

Aku ingin berkata lebih lanjut, tapi kehidupan pak Klown seperti jarum jam yang berputar terbalik, dia harus segera pulang, dan selang beberapa jam kemudian melawak ke kota lain.

Tom, kau pasti berpikir aku lagi kacau! Sebetulnya bukan itu, beberapa teman mama menawarkan pekerjaan kalau aku lulus S1. Aku beruntung kan! Beberapa kakak kelasku yang sudah sarjana belum dapat pekerjaan, apalagi yang kucari! Sebulan yang lampau orangtua kita berunding akan mengukuhkan hubungan kita dengan pernikahan. Lantas apalagi? Aku sudah mendapatkan apa pun yang diimpikan setiap perempuan muda!

Tom yang baik, tapi sejak bertemu dengan pak Klown mimpiku semakin liar dan saling berkejaran. Lantas, aku kepingin mengkaji ulang kehidupan yang kita impikan bersama. Bekerja di suatu lembaga dari jam sembilan sampai jam lima sore, memiliki dua anak yang sehat dan manis, rumah mungil, mobil yang bisa membawa kita pergi ke mana saja.

Lantas di jam satu malam itu kami ngobrol tentang dunia pelawak, pada saat itu kami tertawa bersama! Dan ketika sampai di Malang, tiba-tiba aku kepingin belajar tentang ilmu melawak secara keseluruhan. Kemudian kami sepakat untuk mencari sebuah tempat yang nyaman di mana pak Klown bisa memberikan seluruh ilmu lawaknya kepadaku. Berhari-hari, sampai bulan ketiga, secara maraton siang malam, aku belajar sari pati kehidupan dari dunia lawak. Dan akhirnya pak Klown berkata, ”Kau sudah mendapatkan sebagian ilmuku.”

Aku tahu maksudnya, dia akan menyerahkan seluruhnya. Lantas kumantapkan hari itu untuk menyerap seluruh ilmu itu. Karena kami adalah dua tubuh yang berbeda, baik itu latar belakang sosial maupun pendidikan. Kami meleburkan itu, dengan tidur bersama, sehingga menjadi dua senyawa yang menyatu.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi!

Malang, 4 Februari-31 Maret 2010

Harian Kompas, 13 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Cerpen, REFERENSI

Tag: ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: