ESAI: Diah Hadaning: Dewi Penumbuh Benih

Iwan Gunadi

Buku setebal 700 halaman yang memuat 700 puisi itu diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat siang, 7 Mei lalu. Jumlah puisi tersebut tentu berkaitan dengan 70 tahun usia penulisnya.

Penerbitan dan peluncuran buku itu tentu juga salah satu cara merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Ulang tahunnya sendiri sudah berlalu beberapa hari sebelumnya. Tepatnya 4 Mei 2010. Jumlah 700 puisi itu membuktikan produktivitas yang luar biasa seorang Diah Hadaning. Karena buku terbitan Pustaka Yashiba, Jakarta, itu bertajuk 700 Puisi Pilihan Perempuan yang Mencari, kata pilihan tersebut tentu menunjukkan bahwa puisi yang pernah ditulis perempuan bernama lengkap Sinaryu Indiah Hadaning ini lebih dari itu atau bahkan jauh lebih dari itu.

Boleh jadi, belum ada satu buku pun besutan seorang perempuan penyair di Tanah Air yang setebal itu dan memuat puisi sebanyak itu. Tak heran jika Museum untuk Rekor Dunia-Indonesia (MURI) menasbihkannya sebagai penulis buku puisi tertebal pada usia tertua pada saat peluncuran buku itu.

Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, ini seolah tak pernah lelah memadu-padankan kata menjadi karya sastra, khususnya puisi. Sejak puisinya pertamanya dipublikasikan di harian Simfoni pada 1973 hingga sekarang, lebih dari 40 buku telah ditulisnya. Belasan di antaranya merupakan buku antologi puisi tunggal. Tujuh di antaranya terbit pada tahun ini: selain buku puisi tadi, enam lainnya adalah Tembang Tanah Merdeka, Dunia Dongeng, Antara Jogja dan Bali, Mozaik Jakarta, Ada Bara Api di Jakarta, serta Elegi Muria dan Semak Bakau. Semuanya terbitan Pustaka Yashiba.

Boleh jadi pula, belum ada seorang pun perempuan penyair atau bahkan termasuk lelaki penyair yang buku antologi puisinya diterbitkan dalam jumlah sebanyak itu dan dalam rentang waktu sependek itu. Fakta tersebut seperti ingin menabrak fakta lain bahwa buku puisi—siapa pun penulisnya—merupakan produk tak laku yang tak jemu diproduksi.

Mbak Diha, begitu banyak orang menyapanya, juga seolah tak pernah lelah melangkah. Menyambangi pelbagai acara sastra di berbagai pelosok Nusantara, baik karena diundang maupun lantaran keinginan sendiri. Wilayah yang sulit dijangkau dengan kendaraan umum pun tak menghalangi langkahnya. Entah ketika langit masih terang atau ketika gelap sudah mengepung sejauh mata memandang.

Di sela-sela kunjungannya ke berbagai tempat, jebolan Sekolah Pekerjaan Sosial Atas, Semarang, pada 1960 ini selalu membuka diri atau menyempatkan diri memotivasi dan membimbing bakat-bakat muda yang sedang belajar menulis karya sastra. Cara menjelaskannya yang sederhana, tutur katanya yang halus, serta sikapnya yang santun dan ngemong memang membuat mereka senang dan nyaman berbincang dan menggali ilmu penulisan dan kehidupan darinya. Sepanjang pergaulan dengannya sejak 1996 hingga sekarang, saya tak pernah mendengar satu kata kasar pun dilontarkan perempuan yang pernah bekerja di Bahagian Bimbingan dan Penyuluhan Sosial, Kantor Wilayah Departemen Sosial Semarang selama 1960-1965 ini.

Peran mantan guru di Sekolah Tuna Netra Dristarastra, Cawangan, Semarang, selama 1962-1963 ini sebagai talent scouter bermula–kalau tak salah ingat–dari posisinya sebagai redaktur mingguan Swadesi terbitan Jakarta sepanjang sebelas tahun (1987-1998). Melalui koran tersebut, Mbak Diha menyediakan sejumlah rubrik yang tak jauh berbeda dengan yang disediakan Umbu Landu Paranggi di mingguan Pelopor terbitan Yogyakarta pada 1970-an, lalu dilakoninya kembali di harian Bali Post terbitan Denpasar, Bali, pada 1980-an. Begitu pula yang dilakukan Saini K.M. sejak 1979 melalui harian Pikiran Rakyat terbitan Bandung, Jawa Barat.

Yang membedakan mereka, Mbak Diha berdialog secara tertulis dengan para “mitra”-nya, sapaan yang kerap diucapkan atau ditulisnya untuk mengawali perbincangan di ruang publik. Selain menjawab dan atau membahas surat-surat konsultasi sastra yang datang dari pelbagai penjuru Tanah Air dalam rubrik bertajuk “Warung Sastra Diha”, penyair yang menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa ini pun lumayan rajin memberi konsultasi lewat surat-surat balasan yang dikirim secara pribadi. Bahkan, sejak 1988, Rubrik “Warung Sastra Diha” dikembangkannya menjadi suatu komunitas sastra untuk mendukung aktivitas dan perannya di dunia sastra Indonesia.

Setelah mingguan Swadesi tak lagi terbit sejak 1999, perannya sebagai talent scouter tak surut. Malah, kesempatannya untuk lebih sering mengunjungi para “mitra”-nya di berbagai daerah menjadi lebih luas. Lebih-lebih para “mitra” di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) yang memang berada pada orbit yang dekat dengan tempat tinggalnya di Cimanggis, Bogor. Kalau Umbu dapat disebut sebagai dewa penumbuh dan pemelihara benih di Yogyakarta serta Saini di Jawa Barat, di Jabodetabek, Mbak Dihalah dewinya. Banyak pekerja sastra sering menyebutnya sebagai ibu penyair Jabodetabek.

Mungkin, dialah satu-satunya perempuan yang menjalani peran talent scouter secara intens dan tak kenal lelah di dunia sastra Indonesia. Sebuah peran yang tak diminati banyak orang. Hanya sedikit orang yang melakukannya. Itu pun kebanyakan lelaki. Selain yang fenomenal seperti Umbu dan Saini, beberapa lelaki lain dapat dijadikan contoh, yakni Herman Ks. di Medan, Sumatra Utara, pada 1970-an; Victor G. Rusdiyanto di Semarang pada 1980-an; Korrie Layun Rampan di Jakarta sekitar 1980-an, serta Piek Ardijanto Soeprijadi dan Widjati di Tegal dan sekitarnya pada era yang kurang lebih sama.

Awal 2000-an, karena merasa sudah sepuh, Mbak Diha pernah mengungkapkan niatnya untuk tak lagi wara-wiri dalam pelbagai kegiatan sastra. Sebagai salah satu anggota Presidium Dewan Pengurus Komunitas Sastra Indonesia (KSI) periode 2001-2004, dia juga mengajukan surat pengunduran diri. Salah seorang pendiri KSI ini ingin menjalani sisa hidupnya di Kaliurang, Yogyakarta, bersama keluarganya. Tapi, penyair yang gemar berpakaian serbahitam ini bertekad akan terus menulis karya sastra hingga napas terakhir, tapi perannya dalam kegiatan sastra hanya dilakoninya dari jauh. Tak terlibat langsung.

Namun, masa istirahat tersebut tak berlangsung lama. Mbak Diha kembali wara-wiri untuk membaca puisi dan mengayomi para pemula di dunia sastra. Di KSI, dia lebih aktif menggerakkan sejumlah kegiatan. Sejak Juni 2009, Warung Sastra Diha juga hadir di dunia maya melalui http://www.warungsastradiha.blogspot.com. Bahkan, penyair yang pernah meraih Anugerah Puisi dari Gapena Anugrah Puisi, Malaysia, pada 1980 untuk manuskrip buku puisi Surat dari Kota ini dipercaya sebagai salah satu anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.

Semua itu bisa dijalaninya lantaran hidupnya telah diserahkannya kepada dunia sastra tanpa melupakan perannya sebagai istri, ibu, sekaligus nenek. Yang tak kalah penting adalah dukungan ketangguhan fisik perempuan yang pernah menawarkan satu jam paduan pertunjukan puisi, teater, gending Jawa, tari, dan tembang dengan tajuk Kesaksian Anak Perempuan Ki Suto Kluthuk asal ada orang yang berani membayarnya Rp1 miliar ini.

Perihal vitalitasnya tersebut, Mbak Diha pernah mengungkapkan resepnya kepada sastrawan Kurnia Effendi: “Minum tirta-baskara, Dik.” Ketika Kurnia mengartikan tirta sebagai air dan baskara sebagai matahari, Mbak Diha membenarkannya: “Saya menyimpan air dalam botol warna hijau yang dijemur seharian, kemudian diembunkan sepanjang malam di luar rumah. Nah, pada pagi hari berikutnya, kita minum. Itu untuk vitalitas. Jika Adik kurang darah atau darah rendah, gunakan botol warna merah.” Resep tersebut telah dijalaninya sejak usia 35 tahun.

Kepada Kurnia pula, Mbak Diha pernah menyampaikan satu obsesinya yang mulia dan belum terlaksana: “Dik, seandainya Tuhan memberi saya umur dan diparingi kekuatan, saya ingin memiliki padepokan kecil di pinggiran Jakarta atau Bogor yang dapat mewadahi kegiatan sastra dan budaya. Juga, untuk menampung para seniman yang masih terlantar di jalanan.” Semoga panjang umur, Mbak Diha dan keinginan itu menjadi kenyataan.

Lampung Post, 13 Juni 2010

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: