ESAI: Masyarakat Porno

Saratri Wilonoyudho

Beredarnya video mesum para artis semakin mengantarkan warga kepada peradaban baru sebagai masyarakat porno. Kata porno tidak saja berkonotasi soal seks yang dipertontonkan, tapi juga nafsu di balik itu. Porno dalam bahasa Yunani disebut porneia, yang berarti tidak senonoh (lihat Michaud dalam Violence et Politique, 1978). Masyarakat porno adalah masyarakat yang sudah kehilangan perasaan (malu). Sebab, mereka kebal terhadap hal itu dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, dapat dipahami para pemeran video porno tersebut terus mengumbar senyum, bahkan mungkin tetap merasa bangga dengan menjadikan kasus itu “strategi” untuk meraih keuntungan materi yang lebih tinggi lewat popularitas. Dalam dunia keartisan, tampaknya, tukar-menukar pasangan, narkoba, seks bebas, dan seterusnya sudah menjadi simbol tradisi. Demi menghayati peran, para artis harus berlatih memeluk atau mencium, bahkan melakukan adegan ranjang. Karena itu, aktivitas tersebut dianggap sebagai aktivitas rutin, sama dengan atlet yang joging tiap pagi.

Para artis meramaikan suasana masyarakat porno dan khalayak menanggapi dengan dingin, seakan hal itu juga wajar. Seorang artis yang diwawancarai sebuah majalah terkenal bilang dengan santai, “Okelah telanjang, tidak mengapa. Asal, itu wajar dan berdasar skenario.” Jadi, topeng di balik skenario digunakan sebagai legitimasi untuk membenarkan tindakan tersebut. Sialnya, masyarakat berpersepsi sama, yakni dalam dunia keartisan hal itu wajar.

Bahkan, suami artis yang ditengarai terlibat adegan porno tetap bangga dengan keartisan sang istri, tanpa cemburu sedikit pun. Di sebuah daerah di Jawa Barat, tak jarang seorang suami sanggup memboncengkan istrinya untuk bekerja di lokalisasi. Lalu, sorenya sang istri dijemput tanpa perasaan cemburu secuil pun dari sang suami. Itu semua dijalani dengan wajar dan enjoy. Padahal, Tuhan saja cemburu, tutur Cak Nun, kalau diri-Nya disandingkan dengan zat lain.

Selanjutnya, dapat dipahami dalam dunia keartisan, mulai kesenian yang paling primitif sampai yang modern, seks adalah tema sentral, baik dinyatakan secara terang-terangan maupun terselubung. Simbolnya, menurut King James (1603) sebagaimana dikutip Emha Ainun Nadjib (1994), adalah erected penis. “Aku adalah suami sehingga hamparan tanah di sekelilingku adalah istri.” Itu adalah simbol penguasaan dan nafsu.

***

Masyarakat porno juga diramaikan oleh simbol kerakusan politisi. Seperti para artis yang berbuat tidak senonoh dengan penuh kebanggaan, politisi dan koruptor merasa bahwa korupsi adalah perbuatan yang senonoh. Karena itu, mereka yang tertangkap KPK, misalnya, dengan bangga terus menebar senyum, melambaikan tangan dengan wajah semringah kepada para wartawan yang meliput.

Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Michaud, semua bentuk kekerasan politik untuk tujuan tertentu dapat dikatakan sebagai politik porno. Para koruptor dengan keji melahap uang rakyat tanpa melihat korban-korban yang berjatuhan di sekeliling mereka. Berbagai aksi kekerasan, bahkan pembunuhan, dilakukan untuk mengejar kekuasaan dan memuaskan nafsu itu.

Para koruptor diibaratkan seorang suami yang merasa berkuasa atas istrinya, yang bernama kekayaan alam negeri ini. Sama halnya dengan sebagian artis yang mendewakan seks, ujung dari korupsi ingin mencapai kenikmatan dunia. Padahal, materi atau seks hanyalah masalah sepele. Sebab, yang dahsyat dari itu sesungguhnya adalah obsesi dan mimpi di baliknya.

Pelaku video mesum yang sudah mencapai orgasme akan terkulai oleh penyesalan, tapi kemudian terobsesi lagi untuk mengulanginya. Orgasme hanya peristiwa sekejap, tapi dilalui mimpi dan obesesi yang panjang. Demikian juga para koruptor, uang yang dilahap sampai puluhan miliar rupiah pun tidak akan membawa kebahagiaan sejati. Sebab, koruptor merasa tidak pernah mengalami orgasme dengan capaian mimpi itu.

Akibatnya, strategi dan jalan baru selalu dicari untuk mencuri uang rakyat lagi. Padahal, jumlah korupsi yang makin banyak ternyata berbanding lurus dengan kebingungan yang berujung pada kegilaan tiada tara. Itu adalah ilusi kesuksesan hidup yang persis dengan perilaku para pelaku video mesum tersebut, yakni tidak pernah puas.

Para artis mesum dan koruptor sudah sampai kepada tataran kebinatangan, yang merasa wajar jika melakukan sesuatu yang tidak senonoh. Karena jumlah mereka amat banyak serta sebagian besar adalah idola dan anutan publik, mayoritas masyarakat memaafkan tindakan mereka dengan berkata, “Ya biasa, mereka kan artis.” Itulah cikal bakal munculnya masyarakat porno. Yakni, masyarakat yang sudah permisif, bahkan terus menanti dengan berpikir, “Kapan ya lanjutan video mesum itu dibuat? Artis mana lagi ya yang akan berakting?” Masyarakat porno diapresiasi mulai anak SD yang tinggal memencet tombol HP sampai para petinggi negeri.

Demikian pula para koruptor untuk menutupi tindakan tidak senonohnya. Mereka bertindak antitesis yang “senonoh”, seperti menyumbang tempat ibadah dan berbagai keperluan masyarakat sekitar atau menjalankan umrah ke tanah suci. Alhasil, masyarakat tetap hormat kepada mereka. Lihat saja mereka yang berjuang mencari harta secara halal tapi miskin, selalu jadi ledekan dalam cerita sinetron atau siaran TV.

Karena itu, masyarakat porno melahirkan tumbuh suburnya nafsu, baik itu dilakukan para artis maupun penguasa atau politisi yang korup. Mereka kehilangan rasa malu walau auratnya tampak di muka publik. Aurat tersebut bisa berarti denotatif, tapi juga konotatif, yakni harga diri dan kehormatan.

Saratri Wilonoyudho, dosen Universitas Negeri Semarang, kandidat doktor demografi (Urban Studies) UGM

Harian Jawa Pos, 16 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: