ESAI: Minggu Pagi di Pantai Losari

Jaya Suprana

Pada bulan Juni 2010 saya kurang beruntung, tidak bisa on the spot menyaksikan kemelut perebutan Piala Dunia sepak bola nun jauh di Afrika Selatan. Namun, saya beruntung bisa on the spot menyaksikan sebuah peristiwa tidak kalah mengesankan.

Kebetulan saya diundang ke Makassar untuk menghadiri pergelaran resital piano tunggal pianis remaja Jesslyn Julia Gunawan (13) mempergelarkan karya-karya Bach, Beethoven, dan Suprana. Setiba di Bandar Udara Sultan Hasanuddin, saya langsung terpesona terhadap kemegahan bandara ini. Tampaknya, kebijaksanaan otonomi daerah benar-benar dimanfaatkan warga Sulawesi Selatan.

Oleh panitia penyelenggara resital, kami diberi kehormatan menginap di salah satu hotel terbaik di Sulawesi yang terletak di tepi Pantai Losari. Yang membuat saya benar-benar bukan hanya kagum tetapi juga terharu adalah peristiwa pesta rakyat yang terjadi pada pagi hari Minggu pertama bulan Juni di Pantai Losari di kawasan mana kebetulan hotel kami bermalam itu berada.

Dari jendela hotel dapat disaksikan pesta rakyat yang semarak dan meriah. Kebetulan Wali Kota Makassar menetapkan hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Pantai Losari pada setiap Ahad pagi. Ini seolah menjawab ancaman pemanasan global yang dampak praharanya sudah mulai bisa kita rasakan. Ternyata, dampak kebijaksanaan pemda ibu kota Provinsi Sulsel itu bukan terbatas ekologis belaka, tetapi juga merambah ke ranah sosial, ekonomi, dan budaya yang tergabung dalam satu istilah: kerakyatan!

Kerakyatan
Saya terharu menyaksikan bagaimana rakyat Makassar dan sekitarnya bersama sanak keluarga dan handai tolan masing-masing datang berbondong-bondong menikmati hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Pantai Losari. Keharuan saya dipicu suasana kerakyatan benar-benar pluralis seperti yang didambakan almarhum Gus Dur nyata terjadi pada hari Minggu pagi di Pantai Losari tanpa pembedaan status suku, ras, golongan, agama, sosial, dan ekonomi. Tua-muda, kaya- miskin, Jawa-Madura-Bali-Papua-Manado-Bugis dan lain-sebagainya semua tumpleg-ubleg bergabung di Pantai Losari bersama menikmati suasana kegembiraan dan kebahagiaan.

Seolah tidak ada masalah Bank Century, KPK terancam bubar, tabung gas, dana aspirasi, mafia hukum, kawasan ekonomi bebas China-ASEAN, flu burung, piala Thomas dan Uber belum keuber, kesebelasan Indonesia belum ikut rebutan World Cup, ang- kara murka Israel apalagi bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko yang jadi alasan untuk ke sekian kali Obama batal ke Indonesia. Ternyata, di luar shopping mall masih ada kehidupan!

Seharusnya, pesta rakyat yang terjadi pada setiap hari Minggu pagi di Pantai Losari itu gencar dipromosikan sebagai salah satu mata agenda pariwisata potensial mendongkrak tiras industri pariwisata Nusantara sebab sungguh tidak kalah atraktif bagi para wisatawan lokal ataupun global ketimbang kesemarakan pesta rakyat di kawasan India-Gate, pesisir pantai Chowpatty Kota Mumbai atau pasar tiban El Rastro di Madrid.

Kaki lima
Mengharukan bagaimana mereka yang disebut sebagai pedagang kaki lima yang kerap dianggap parasit ekonomi pengganggu ketertiban umum, maka harus digusur itu justru tampil sebagai pemeran utama peristiwa kerakyatan pada Minggu pagi di Pantai Losari itu. Kaus oblong sampai celana jins, makanan tradisional Bugis sampai hot dog, stiker sampai poster, kartu ponsel sampai majalah, minyak goreng sampai minyak wangi, obat penumbuh rambut sampai obat kuat, hiburan konser musik dangdut sam- pai rock, atraksi sulap sampai sirkus ular, pijat tradisional sampai refleksologi dan seribu satu jenis produk asyik diperjualbelikan oleh siapa saja yang berada di pasar rakyat Makassar tanpa harus risau urusan pajak hiburan ataupun PPN, apalagi PPH.

Pada hari Minggu pagi di Pantai Losari itu, kita kembali disadarkan bahwa sebenarnya landasan sekaligus soko-guru pilar utama perekonomian nasional Indonesia bukan para perusahaan kelas raksasa bengkak atau multinasional dengan omzet penjualan ataupun potensi korupsi triliunan rupiah yang disebut sektor formal, tetapi pada hakikatnya sepenuhnya bertumpu pada para pedagang kaki lima yang disebut sektor informal.

Saya merasa yakin bahwa di surga, arwah Bung Hatta tersenyum bahagia ketika melihat bagaimana pada setiap hari Minggu pagi di kawasan Pantai Losari itu gagasan ekonomi-kerakyatan bukan hanya dieksploatir sebagai kosmetik kampanye politik kekuasaan, tetapi benar-benar dijabarkan ke kenyataan untuk dipersembahkan dari rakyat untuk rakyat.

Jaya Suprana, budayawan.

Harian Kompas, 19 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: