ESAI: Teologi Sepak Bola

Dudi Sabil Iskandar

Pemuja bola tentu tidak lupa akan El Mano de Dios (“gol tangan Tuhan”) Diego Armando Maradona ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Gol yang membobol gawang Peter Shiltonitu dilesakkan pada menit ke-51. Karena “gol tangan Tuhan” itu, Inggris harus angkat koper lebih awal dari perhelatan sepak bola terakbar sejagat tersebut.

Wasit Ali Bennaceur (Tunisia), yang memimpin pertandingan, mengesahkan gol tersebut. Dua penjaga garis tidak melihat kecurangan. Sebanyak 114.580 penonton di Aztec Mexico City, Meksiko, terkesima. Ratusan juta penonton di seantero dunia yakin gol itu sah. Ketika pertandingan berlangsung, semuanya tertipu ulah pemain berjuluk “si Boncel” ini. Dunia baru mengetahui gol itu diciptakan oleh tangan kiri Maradona setelah melihat rekaman.

“Sedikit tangan Tuhan. Sedikit lainnya kepala Diego,” elak Maradona. Meski bercanda, pengakuan salah satu pemain terbaik sepanjang masa versi FIFA ini menandaskan, Tuhan selalu ada di dunia sepak bola. Sepanjang 90 atau 120 menit di area rumput seluas 110 x 75 meter itu, Dzat Maha Esa tersebut selalu hidup dan diagungkan.

Sikap dan perilaku pemain sebelum memasuki lapangan rumput menegaskan ada “hegemoni” Tuhan di lapangan hijau. Mereka menyentuhkan telunjuk ke dahi, dada tengah, dada kiri, dan dada kanan bagi pemain beragama Katolik. Atau ketika merayakan gol. Telunjuk diacungkan ke atas (berterima kasih kepada Tuhan) seperti kebiasaan Kaka dan Adriano setelah mencetak gol. Atau perilaku mantan bintang Italia “The Little Buddha” Roberto Baggio, yang kerap merapatkan kedua belah tangannya di dada sebagai simbol ketundukan dalam agama yang dianutnya.

Tuhan adalah prinsip utama dalam agama. Meski tidak tertutup kemungkinan ada pemain yang bertuhan namun tidak beragama. Keyakinan terhadap keberadaan Tuhan menimbulkan implikasi umat beragama berbuat sesuai dengan petunjuk-Nya. Umat beragama diwajibkan berbuat baik bukan hanya di tempat ibadah, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika bermain sepak bola. Tidak mencederai lawan, jujur, tidak egoistik, menghargai lawan, dan menghormati keputusan wasit, dalam sepak bola dikukuhkan dengan istilah fair play.

Tentang teologi
Pada awalnya teologi merupakan seperangkat konstruksi pemikiran manusia tentang ketuhanan. Namun pengertian teologi mengalami ameliorasi (perluasan makna) menjadi segenap pemikiran manusia tentang agama. Konsep ketuhanan hanyalah sebagai titik tolaknya. Perspektif teologi modern memotret semua perilaku manusia dalam ranah apa pun, termasuk sepak bola.

Sepak bola, jika mengikuti perspektif sosiolog agama, Robert N. Bellah, tentang civil religion, bisa dikategorikan agama. Civil religion bukan dalam pengertian agama konvensional. Ia merupakan sebuah kepercayaan, kumpulan nilai, dan praktek yang mempunyai teologi dan ritual tersendiri.
Secara tekstual, dalam kitab suci mana pun tidak akan dijumpai kata sepak bola dan fair play. Namun, secara kontekstual, nilai-nilai fair play menunjukkan ketundukan kepada Tuhan (ibadah) dalam arti luas. Artinya, ketika seorang bermain bola, ia pun bisa sedang beribadah. Inilah landasan utama dari teologi sepak bola.

Dengan demikian, jika mengacu pada definisi Bellah di atas, “Code of Conduct for Football” FIFA adalah rumusan teologi sepak bola. Di sana disebutkan, ada 10 prinsip utama dalam sepak bola: 1. Play to win; 2. Play fair; 3. Observe the laws of the game; 4. Respect opponents, teammates, referees, officials and spectators; 5. Accept defeat with dignity; 6. Promote the interests of football; 7. Reject corruption, drugs, racism, violence and other dangers to our sport football’s huge popularity sometimes makes it vulnerable to negative outside interests; 8. Help others to resist corrupting pressures; 9. Denounce those who attempt to discredit our sport; dan 10. Honour those who defend football’s good reputation.

Dalam konteks putaran final Piala Dunia 2010 yang masih berlangsung di Afrika Selatan, pencinta fair play memandang tidak penting siapa yang menang (juara). Sebab, pemenang sesungguhnya adalah kesebelasan yang tidak menghalalkan segala cara untuk menang seperti dilakukan Maradona. Sebab, hal itu tidak hanya mengundang kecaman, tetapi juga menodai kesucian sepak bola serta melanggar teologi sepak bola.

Pentas Piala Dunia boleh berakhir pada 11 Juli. Namun ajaran suci sepak bola bernama fair play harus terus hidup dan diperjuangkan. Ia mesti menembus ruang dan waktu. Menerobos sekat status sosial, etnografi, dan perbedaan budaya. Semuanya sebagai warisan bagi generasi mendatang. Menegakkan aturan main di lapangan hijau merupakan misi suci semua stake holder sepak bola. Bahwa panggung sepak bola merupakan salah satu altar Tuhan di kolong jagat melalui doktrin fair play. *

Pengkaji Teologi dan Penikmat Sepak Bola

Koran Tempo, 27 Juni 2010.

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

One Comment pada “ESAI: Teologi Sepak Bola”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: