ESAI: “Ma Taf’al Al’an Ya Muhammadiyah” (2)

Daoed Joesoef

Di seluruh dunia, baik di Timur dan di Barat, agama sebagai keyakinan, Islam tidak terkecuali, mengadakan redefinisi sendiri, lambat tapi pasti, sebagai “keyakinan individual”, sebagai “opini religius”, di antara “possible opinions” lain, di dalam ruang pluralis dari konfrontasi yang diketengahkan oleh perdebatan publik dan pemilihan politik.

Namun, jangan dikira akan ada substitusi instan yang satu terhadap lainnya dari satu gaya keyakinan dan sejenis pemikiran diskursif. Agama tidak akan terabaikan begitu saja. Ia hanya kehilangan fungsi politiknya, keagungan otoritas legitimasinya. Ia menghadapi persaingan dari pihak pemikiran diskursif yang sangat berlawanan dengan premisnya selama ini, di dalam suatu dunia sosial yang tidak lagi ia rangkul, ia organisir, ia standardisasi.

Sumber Modernisasi
Dalam kondisi seperti itu, Islam justru menawarkan ajarannya yang sangat relevan dan menentukan kesuksesan penerapan “ideologi” dari keyakinan politik yang melandasi gerakan pembaruan Muhammadiyah, jikalau mau diteruskan.

Para pemimpin, sesepuh, dan terutama pemuda ormas Islam ini perlu merenungi kembali bunyi ayat kelima dari surat Al-Alaq yang menyerasikan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya, Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril di Gua Hira, pada malam 17 bulan Ramadhan di tahun 610 Masehi.

Ayat yang sering dilupakan pesannya ini berbunyi, “Dia (Tuhan) mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
Pada saat wahyu ini turun, makhluk manusia sudah hidup di dunia selama enam abad. Bila dihitung masa sebelum tahun Masehi, makhluk yang satu ini sudah menetap dan menjelajah planet bumi selama hampir 3.600 tahun. Berkat pengetahuan manusia sudah mengumpulkan relatif banyak pengetahuan yang selama ini semakin “mempermudah” kehidupannya sehari-hari. Lalu pengetahuan apa lagi yang akan diajarkan oleh Tuhan kepadanya yang dia tidak ketahui?

Ternyata, memang ada dan bukan sembarang pengetahuan, sebab lebih persis lagi, bukan pengetahuan sesudah dialami, tetapi mendahului pengalaman. Ia berupa pengetahuan yang lahir dari kegiatan berpikir secara teratur, ordered thinking, yang dilakukan dengan sengaja dan dengan kesadaran naluriah, yang kini disebut pengetahuan ilmiah. Adapun pengetahuan yang sudah ada sebelum wahyu Ilahiah yang pertama itu diturunkan, yang mendominasi kehidupan selama 3.600 tahun keberadaannya di bumi, kini lazim disebut sebagai pengetahuan rakyat (folk knowledge), yaitu yang dibentuk dari pengalaman sehari-hari manusia dan dari generalisasi pengalaman tersebut.

Perbedaan fundamental antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan rakyat adalah bahwa pengetahuan rakyat didapat secara esensial dari kesimpulan-kesimpulan (inferences) empiris dan observasi tidak sengaja, sedangkan pengetahuan ilmiah diperoleh dari kesimpulan yang wajar dari model-model teoritis menurut logika naluriah dan observasi yang diorganisir dengan teliti di bawah panduan invensi yang memperluas kekuatan indra.

Interpretasi saya tentang apa yang persis dimaksudkan dengan narasi Tuhan mengajarkan “apa yang tidak diketahui oleh manusia” (ketika itu), didasarkan atas penemuan kata kerja tertentu yang bertebaran dalam keseluruhan Al Quran, yang langsung terkait dengan kegiatan khas keilmuan. Kata-kata itu adalah “dabbara” (merenungkan) disebutkan dalam 10 ayat, “fakiha” (mengerti) dalam 20 ayat, “nazara” (melihat secara abstrak) dalam 30 ayat, “tafakur” (berpikir) dalam 16 ayat. Kemudian ada kata-kata yang berasal dari kata benda “aqala” (nalar) yang dijumpai pada lebih dari 30 ayat. Semua kata tersebut secara esensial mengandung perintah Tuhan agar manusia menggunakan nalar dan daya pikirnya.

Akhirnya ada ayat Taha (20:114) yang betul-betul eksplisit menyatakan keagungan ilmu pengetahuan. Ia berbunyi: “Waqul rabbi zidni ilman” – katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, tambahlah ilmu pengetahuanku. “Kalau ilmu pengetahuan itu tidak bernilai mustahil Tuhan memerintahkan Rasul-Nya untuk meminta tambahan itu. Dan di dalam keseluruhan Al-Quran ternyata satu-satunya nilai yang disebut supaya diminta lebih banyak lagi kepada-Nya adalah ilmu pengetahuan.

Dengan dilaksanakannya pesan Ilahiah supaya mengembangkan ilmu pengetahuan, sesudah abad pertama hijrah terjadilah perkembangan pesat dalam budaya keilmuan muslim. Kota-kota Islam berkembang menjadi “intellectual workshop” yang mampu menggerakkan pertumbuhan ilmu pengetahuan yang pesat. Tanpa pertumbuhan ini sulit dibayangkan bahwa dunia modern dapat tumbuh dan berkembang seperti yang kita alami sekarang.

Dalam karyanya yang berjudul “Introduction to the History of Science”, George Sarton membagi uraiannya mengenai kemajuan keilmuan dalam zaman yang masing-masing berjangka waktu kira-kira setengah abad. Setiap zaman ditandai dengan seorang tokoh utama. Periode tahun 450-400 sebelum Masehi (SM), misalnya, disebut sebagai zaman Plato. Lalu disusul oleh tiga periode setengah abad lainnya dari Aristoteles, Euclid dan Archimedes. Dari tahun 600 sampai 700 tahun Masehi (TM) merupakan zaman China yang ditandai oleh Hsiian Tsang dan I Ching. Selanjutnya dari tahun 750 sampai 1100 TM selama 350 tahun terus menerus adalah zaman yang sambung menyambung tanpa putus dari tokoh-tokoh ilmuwan yang berbudaya Islam, yaitu: Jabir, Khwarizmi, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Omar Khayam, Ibnu Sina dan Ibnu al-Haytham.

Tidak semua tokoh tersebut adalah orang Arab. Ada di antaranya yang berbangsa Turki, Afghanistan dan Persia dan masing-masing merupakan ahli kimia, aljabar, klinik, ilmu bumi, matematika, fisika, dan astronomi. Dua tokoh yang disebut terakhir itu tidak hanya memberikan sumbangan pikiran teoretis yang berharga di bidang fisika, juga di bidang-bidang lain dengan bobot yang sama seperti: kedokteran, matematika, geologi, filosofi dan astronomi.

Hanya sesudah tahun 1100 M uraian analitis dan historis dari George Sarton menampilkan nama-nama barat yang pertama, yaitu Gerard of Cremona dan Roger Barcon. Namun zaman Eropa ini pun masih ditandai juga selama 250 tahun oleh ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Ibnu Rush, Nasir ad-Din at-Tusi dan Ibnu Nafis, yaitu tokoh yang mendahului teori peredaran darah dari Harvey. Sedangkan Nasir ad-Din at-Tusi memimpin observatorium Maragha dengan staf sebanyak 20 orang astronom yang berasal dari dunia Islam ketika itu. Mengingat mutu sarjana dan peralatan yang ada, Maragha abad-XII ini dapat dikatakan merupakan observatorium pertama yang betul-betul sepadan dengan sebutan dan dimensi kerjanya.

Berbeda sekali dengan para pemikir di zaman Yunani Purba yang sama sekali tidak tertarik pada ilmu terapan, kecuali Archimedes, para pemikir dan ilmuwan muslim di zaman kejayaan Islam tersebut mengembangkan pula ilmu pengetahuan terapan, yang dimulai dengan ilmu kimia. Usaha pengembangan ini kiranya didorong oleh kehendak mengamalkan pengetahuan ilmiah murni sesuai dengan sabda Rasulullah: “Belum dianggap seseorang itu berilmu pengetahuan sampai dia mengamalkan ilmu pengetahuan itu”.

Maka kalau Muhammadiyah bertekad meneruskan usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk memajukan masyarakat melalui pembaruan berpikir dalam beragama, yang memang sampai sekarang belum tuntas, ormas Islam ini perlu tetap bertekad melangkah dari masyarakat heteronom ke masyarakat otonom, dengan berpegang teguh pada keyakinan politik di samping keyakinan religius.

Berarti tetap membentuk “ideologi” yang, demi memantapkan efektivitas pencerahan pikiran dan kegunaan perbuatannya, pasti memerlukan bukan simple folk knowledge tetapi scientific knowledge, seperti yang disyaratkan dalam wahyu pertama Ilahiah di abad VII.

Menurut natur cita-cita awalnya Muhammadiyah sebenarnya lebih cenderung menjadi unsur komunitas ilmiah ketimbang bagian komunitas politik. Ia akan menjadi lebih terhormat dan bermartabat bila keseluruhan aneka kiprahnya, semua jenis program kerjanya, ditujukan ke bidang sosial dan kultural. Di bidang sosial pada pokoknya aktif meningkatkan kesejahteraan warga (citizens) demi mengukuhkan “kemauan hidup bersama” sebagai dasar utama pembentukan bangsa. Di bidang kultural pada pokoknya aktif membuat kota-kota di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai lokasi pemukiman, bekerja dan menyembah Tuhan, tetapi juga tumbuh menjadi masyarakat yang bergairah belajar (learning society), toleran, berbudaya dan beradab. Agama Islam, after all, adalah “a religion of reason” bukan “a religion of fear”.

So…. ma taf’al al’an ya Muhammadiyah – apa yang akan Anda lakukan sekarang, wahai Muhammadiyah?!

Penulis adalah alumnus Universite Pluridisicplinaires Pantehon, Sorbonne.

Harian Suara Pembaruan, 2 Juli 2010.

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: