ESAI: Menyerah pada Detail Tokoh

Iwan Gunadi

“MENGARANG itu gampang,” tulis Arswendo Atmowiloto pada bukunya dengan judul yang sama. Setuju. Tetapi, lain ceritanya kalau mengarang dengan keterukuran artistika dan estetik yang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, mengarang bukanlah pekerjaan mudah.

Misalnya, penggarapan penokohan. Pekerja sastra selalu terobsesi untuk
melahirkan tokoh-tokoh dengan karakter yang tidak hitam-putih, tetapi abu-abu atau bahkan beragam warna. Untuk sampai ke sana, ada pekerja sastra yang begitu bangga mengaku bahwa dirinya hanya menemukan tokoh, tetapi tokoh itu yang kemudian membentuk karakternya sendiri. Ada pula yang menyebut bahwa si tokohlah yang menemukannya dan si pekerja sastra hanya menyodorkan wahana kepada si tokoh untuk membangun karakternya.

Namun, persoalannya, dengan kedua cara seperti itu, betulkah tokoh-tokoh yang hadir itu tidak benar-benar stereotif? Secara psikologis, boleh jadi ya. Tetapi, belum tentu secara pragmatik atau linguis.

Artinya, informasi yang dikandung kalimat-kalimat naratif dan kalimat-kalimat dialog, atau monolog memang menandakan bahwa masing-masing tokoh berkarakter berwarna dan berbeda. Tetapi, struktur kalimat, struktur klausa, struktur frasa, struktur kata, dan pilihan kata (diksi) masing-masing tokoh itu justru seragam.

Makin banyak tokoh idealnya kian beragam bangunan kebahasaan yang mesti disusun pengarang atau penyair. Ini tentu menuntut daya ingat, konsentrasi, dan kontrol yang makin tinggi dari pengarang atau penyairnya. Apalagi, bila satu karya sastra menggunakan narator atau pelirik yang berubah-ubah. Bila tidak, boleh jadi, karakter tokoh-tokoh berbeda, tetapi bangunan kebahasaannya tumpang tindih alias seragam.

Memang, struktur kalimat yang serupa dari tokoh-tokoh yang berbeda tak selalu berarti bahwa kalimat-kalimat mereka sama persis. Bisa saja, struktur kalimatnya sama, tetapi struktur frasa, struktur kata, dan atau pilihan katanya berbeda.

Misalnya, tokoh A dan tokoh B memiliki struktur kalimat yang sama, tetapi
struktur kata yang digunakan masih-masing tokoh dalam kalimatnya berbeda. Contoh konkretnya begini. Tokoh A dan tokoh B sama-sama dominan memulai kalimat dengan subjek. Tetapi, tokoh A memulainya dengan menggunakan kata saya, sedangkan tokoh B memanfaatkan kata saya, misalnya. Kalau yang berbeda pilihan katanya, tokoh A
senang mengawali kalimat dengan kata aku, sedangkan tokoh B demen mendebuti kata gue.

Pembedaan-pembedaan semacam itu tentu punya konsekuensi-konsekuensi sendiri. Atau, kita balik, pembedaan-pembedaan bangunan bahasa antartokoh itu merupakan konsekuensi dari pelbagai pilihan karakter yang telah diambil pengarang atau penyair sebelum mulai mengarang atau menyair. Perbedaan latar keluarga, geografis, adat istiadat, budaya, ideologi, umur, jenis kelamin, dan lain-lain memungkinkan lahirnya perbedaan bangunan bahasa.

Misalnya, tokoh A dan tokoh B berkarakter berbeda, tetapi masing-masing memiliki struktur kalimat dengan pola dominan subjek (S) + predikat (S). Struktur kalimat yang seragam seperti itu antartokoh yang berbeda memang tetap bermakna ganda. Dalam karya-karya sastra realis, keseragaman seperti itu bukanlah kelumrahan. Ia suatu keanehan alias anomali. Ia pertanda penulisnya tidak memperhatikan detail struktur kalimat.

Setiap karya sastra memang memiliki logika tersendiri. Tetapi, logika karya
sastra realis, saya kira, masih mengacu pada logika realis, logika yang hidup
dalam kejadian sehari-hari yang real.

Dalam logika realis, keberbedaan karakter seseorang direpresentasikan melalui struktur kalimat, struktur klausa, struktur frase, struktur kata, dan pilihan kata (diksi), kecuali tentu orang bisu. Struktur bahasa dan diksi satu orang dengan orang lain biasanya berbeda. Struktur bahasa dan diksi anak dan bapaknya saja bisa berbeda, walau perbedaannya bisa tak setajam dengan orang yang tak berhubungan darah atau tak hidup serumah.

Kalaupun dua orang yang tak berhubungan darah atau tak serumah memiliki struktur bahasa atau diksi serupa, keserupaan tersebut mestinya menyimpan alasan tertentu. Misalnya, salah seorang di antara mereka sedikit banyak mengidap kelainan jiwa atau skizoprenia.

Karya-karya sastra nonrealis boleh jadi menjauhi kecenderungan tersebut. Maklum, karya-karya sastra tersebut memang menghindar dari logika realis. Tetapi, bila terjadi keseragaman struktur bahasa dan diksi di antara tokoh-tokohnya, ini pun mestinya bukan produk kekurangtelitian menggarap detail penokohan. Keseragaman tersebut idealnya dipicu keinginan menciptakan efek tertentu. Misalnya, ingin mendedahkan efek kekacauan tokoh atau tokoh-tokoh tidak ditempatkan sebagai makhluk individu, tetapi gerombolan atau massa.

Tuntutan perbedaan makin bertambah bila karya-karya sastra itu, baik yang realis maupun yang nonrealis, tak memanfaatkan narator orang pertama atau pelirik nonaku. Kalau itu yang terjadi, struktur bahasa dan diksi narasi atau lirik mestinya berbeda pula.

Perbedaan tersebut sekurangnya meliputi dua hal besar. Pertama, perbedaan antarbangunan bahasa setiap tokoh. Kedua, perbedaan bangunan bahasa setiap tokoh dengan bangunan bahasa narasi atau lirik.

Sayangnya, idealitas yang ada di kepala saya itu sangat sulit menemukan
contohnya dalam khazanah sastra Indonesia. Sejak generasi Muhammad Yamin dan Marah Rusli hingga generasi Zeffry J Alkatiri dan Ayu Utami, heterogenitas seperti itu merupakan barang langka. Saman karya Ayu Utami, boleh jadi, merupakan bagian dari yang langka tersebut.

Terlalu herois kalau seorang pengarang mengaku tak mampu mendikte tokoh-tokohnya sesuai rencananya. Dia membiarkan dirinya terbawa oleh masing-masing tokoh yang telah hidup dengan sendirinya. Sampai-sampai, ada yang mengatakan, “Saya tak bisa menghentikan cerita yang telah saya rancang itu tanpa mengikuti keinginan cerita itu sendiri.” Luar biasa.

Penulis adalah pemerhati sastra di Tangerang

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: