PUISI-PUISI MATRONI EL-MOEZANY

Orang-Orang Tembakau

Engkau berharap
Hujan tidak terlalu, karena
Jika terlalu, tembakau ini
Akan hilang dan mati

Siang kita ke ladang
Senja pun terang

Orang-orang tembakau
Air kau siramkan

Orang-orang tembakau
Tak selamanya indah
Kau senyum berharap jadi rupiah

Wajahmu kau lukis di matahari
Menabung keringat

Tiap pagi
Air kau siramkan, tapi
Ketika hujan turun
Kau berkata:
Selamatkaun tembakauku
Walau birahi hujan menyala
Jangan sampai semuanya tak ada

Banjar Barat, 10 Juli 2010

Kembali Bapakku Tanam Tembakau

Bapak telah tanam tembakau
Turun ke ladang
Tapi harapan yang di emban
Memeras keringat
Seakan jelas, apa ujungnya

Masih di pegangnya
Cara merawat
Maka, jadilah tembakau tua

Bapakku telah tanam tembakau
Tapi tembakau begitu mesteri
Demikian menjanjikan

Sampai dalam tubuh
Renyuh, bergetar meriang seperti
Ombak seperti petir

Di tepian ladang
Selalu berharap
Seperti harapan pasti

Tanah harapan
Engkau serahkan pada tuhan
Mujur dan gugur, gugur dan hasil

Dan hujan yang masih
Lewat dua bulan kau tunggu
Kuberi pupuk, air, dan kesabaran

Lalu, beberapa hari tembakau itu
Lalu sebuah mendung
Lalu hujan menguyur

Aduh.., kataku

Aku dan tembakau saling berkata
Dan saling berharap
Seterusnya adalah sebuah harapan

Demikian awal mula
Bapakku membikin lahan
Demikianlah selanjutnya bapakku meng-ada

Sambil terus berlipat harap
Sambil terus berpegang teguh
Pada pucuk bulan depan
Yang memberi hasil
Pada tiap buah yang ditunggu
Yang mengitari harapan
Di mana bapakku
Berbaring atau berucap

Mengharap atau di harap
Mengucap atau di ucap
Menanam atau di tanam
Lalu menempeli di keningku
Seperti tempelan pikir
Yang memancar ke cakrawala

Kemudian menghidupi tiap
Diri adik-adikku dan anak dari anakku

Dan membuat mereka tertawa
Jika harapan dan ladang itu
Memang tradisi dari nenek

Dan bukan kosong
“harapan bapak”

Bapakku telah tanam
Memenuhi tradisi
Ruang abadi tempat berharap

Banjar Barat, Sumenep, 12 Juli 2010

Sejarah Malam

Mengapa malam semakin sepi?
Dan tubuhku pergi ke cakrawala
Aku sendiri, diam semakin tak kumengerti

Di kedalaman sana
Aku menemukan titik jumpa
Di bawah bayang-bayang

Sejarah malam
Untuk melihat matahari
Mencatat kerinduan

Kehausan di tengah kerinduan
Kutidur dari arus aliran
Dan mengitari kerinduan
Bersama kelaparan dan kahausan

Aku bangun untuk melihat cahaya
Menyalakan keberbagai kerinduan
Dahaga atas ketakberwaktuan

Karena harapan dan hasrat
Adalah sebuah keberlanjutan

Sumenep, 28 Juni 2010

Matroni el-Moezany kelahiran Sumenep, Madura, 3 Maret 1984. Dia aktif menulis di media massa, baik lokal maupun nasional. Kumpulan puisi bersamanya, Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga, 2010) dan Kitab Puisi, Puisi Menolak Lupa (Obsesi Press 2010). Dia aktif di kajian sastra dan budaya Kutub, Yogyakarta. Pernah dua kali menjadi nominator lomba cipta puisi dan cerpen se-Indonesia.

Explore posts in the same categories: MENULISLAH DI SINI

Tag: ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: