CERPEN: Peristiwa Kedua Seperti Komidi Putar

A.S. Laksana

Dua tahun sebelum si pemimpin dilahirkan, seseorang melintasi pekarangan dalam gerak mengambang, seperti hantu atau orang yang kelelahan. Rumah itu agak terpencil dari rumah-rumah lain dan perempuan itu seperti tiba-tiba ada di sana. Ia seperti muncul begitu saja dari balik pohon. Umurnya paling banter 26 tahun, namun, dengan pakaian amat tua, ia seperti datang dari masa silam.

Jalanan kampung mulai sunyi dan rumput pekarangan basah dan lampu teras belum dinyalakan. Seekor anjing mendengking sebentar di kolong kursi dan menggelosor lagi dengan tampang enggan. Ia agak risih pada anjing. Ia juga tak suka pada burung puter yang mendekut dalam sangkar di pojokan. Suaranya murung, seperti gerimis yang gagal menjadi hujan.

Ia mencari-cari bel. Tak ada. Seorang lelaki membukakan pintu untuknya setelah ketukan ketiga. Usia lelaki itu 40-an tahun. Kepadanya perempuan itu mengatakan bahwa ia butuh pekerjaan dan akan sangat berterima kasih jika bisa diterima bekerja. Jika tidak, tak apa-apa. Lelaki itu tidak bisa memberi keputusan. “Istriku sedang ke luar kota,” katanya. “Datanglah dua hari lagi.”

Sesungguhnya sudah ada pembantu di rumah itu, tetapi ia sedang pulang kampung. Katanya tiga hari dan ternyata sampai dua minggu ia tidak muncul lagi. Kelak kau akan tahu bahwa pembantu lama itu sebetulnya berniat kembali, tetapi ia seperti lupa jalan. Sampai bertahun-tahun kemudian ia tidak pernah tiba lagi di rumah tempatnya bekerja.

Maka, begitulah, dua hari kemudian perempuan itu kembali datang di waktu magrib dan diterima bekerja dan bersetubuh dua tahun kemudian dengan lelaki yang membukakan pintu untuknya.

Si majikan tidak berterus terang mengajaknya bercinta dan tampaknya bukan orang yang menyiapkan perselingkuhan. Kautahu, ia tidak menyiapkan sarung taji pengaman. Lelaki itu hanya sering tidak sengaja setelah pembantunya lebih dari setahun bekerja. Misalnya ia akan tidak sengaja menyentuh jari-jari si pembantu saat perempuan itu mengantarkan teh madu untuknya, bahkan kadang persentuhan itu dipertahankan agak lama. Kadang-kadang lelaki itu menyentuhkan jari-jarinya tanpa alasan ke bahu si pembantu. Kadang-kadang ia tampak meriang ketika istrinya tak ada dan minta dipijit dan ia mulai memegang tangan pembantunya setelah beberapa kali meriang. Ditempatkannya tangan itu pada bagian tertentu di pundak atau punggung untuk memberi tahu bagian mana yang harus dipijit. Ia bisa memberi tahu dengan mulutnya, tetapi ia melakukan dengan tangannya, dan mempertahankan persentuhan kadang sampai beberapa detik.

Pada hari persetubuhan, majikan perempuan sedang di luar kota.

“Aku merasa ada iblis di rumah ini,” kata majikan perempuan sekembali ia dari luar kota. Suaminya sedang membaca.

Kautahu, biasanya hanya anjing atau unggas yang ribut merasakan kehadiran makhluk yang tak tampak oleh matamu. Tetapi majikan perempuan mengatakan, dengan suara tingggi, bahwa ia mencium bau iblis di rumahnya. Majikan perempuan selalu bernada tinggi, seperti memerintah, bahkan pada saat ia tidak menyebut-nyebut iblis dalam pembicaraannya. Majikan lelaki bersuara rendah, seakan selalu berusaha memberi contoh kepada istrinya bagaimana cara bicara yang benar. Kendati demikian majikan perempuan tak pernah mencontoh nada bicara suaminya. Ia tetap orisinil: melengking dan memerintah dan bicara kepada suami seperti seorang pelatih kepada anak asuhannya. Dan ia pelatih yang tidak sabaran.

Tak ada masalah dengan itu. Mereka tetap sepasang suami-istri yang bisa mempertahankan rumah tangga mereka. Tanpa anak. Majikan perempuan tidak menginginkan anak karena ia tidak sudi membuat perutnya menggelembung. Ia bilang bahwa kehamilan hanya akan membuat tubuhnya berantakan dan menjadikannya tidak berguna selama berbulan-bulan. Kau bisa bilang, ia gila kerja. Mulut dan tindakannya sama cepat dan ia suka menegur.

Si pembantu sudah kena tegur pada hari kedua ia bekerja karena membereskan kertas-kertas di meja kerja majikan lelaki. Majikan lelaki tidak mengatakan apa pun soal itu, tetapi majikan perempuan bilang bahwa ia tidak boleh mengotak-atik apa pun yang ada di meja kerja suaminya. “Kau mengacaukan pekerjaan Bapak,” katanya.

SAMPAI hari ketika pembantu itu meninggalkan rumah dua tahun kemudian, ia tidak pernah tahu apa pekerjaan majikan perempuan. Ia tidak tahu apa pekerjaan majikan lelaki. Dan ia memang tidak perlu tahu itu. Ia hanya perlu tahu pekerjaannya sendiri; salah satunya adalah menyeduh teh madu tiap pagi untuk majikan lelaki. Majikan perempuan yang memerintahkan itu. “Sorenya, kalau Bapak di rumah, kausiapkan susu jahe madu. Bapak suka itu. Dan tidak boleh terbalik, teh madu pagi hari, susu jahe madu sore hari. Dan ingatkan Bapak agar meminumnya sebelum magrib. Susu jahe madu harus sudah habis sebelum magrib,” kata majikan perempuan, seolah-olah ia tahu semua yang dibutuhkan oleh suaminya.

Itu agak aneh. Minuman jahe mestinya lebih enak diminum pada malam hari. Mungkin majikan lelakinya memang aneh. Atau istrinya membuat ia tampak aneh. Namun, perempuan itu mengikuti perintah. Ia bangun lebih pagi dari siapa pun di rumah itu, mengerjakan apa yang menjadi tugasnya sehari-hari. Mula-mula ia akan mencuci dan kemudian mengepel lantai dan membikin teh madu sebelum memasak. Setelah itu ia akan mengerjakan apa saja sepanjang hari, sebab seorang pembantu akan tampak tidak menyenangkan di mata majikan jika tidak melakukan pekerjaan apa saja sepanjang hari.

Tentu saja ia bisa tidur siang jika kedua majikannya keluar dan yang ada di rumah hanya ia dan seorang tukang kebun agak tua. Tetapi ia tetap tidak tidur siang. Majikan lelakinya menyimpan foto-foto masa kecil di laci lemari, foto-foto hitam putih yang memberi tahu bahwa lelaki itu sudah berwajah murung sejak kanak-kanak. Mungkin ia sudah murung sejak lahir. Kali pertama melihat foto-foto itu, si pembantu menangis, seolah-olah kemurungan yang dilihatnya menularkan rasa sedih yang mencucuki dada. Perempuan itu mendekap foto seperti mendekap anak yang tak pernah menjadi miliknya.

Sekarang, pada usia 40-an, lelaki itu tampak seperti orang yang selalu merenung. Tepatnya, ia selalu seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuat wajahnya tampak murung. Dan ia menyukai lagu-lagu nostalgia, yakni jenis lagu yang tidak pernah bisa menyingkirkan kemurungan pada wajahnya. Majikan perempuan berkali-kali mengingatkan lelaki itu untuk mengganti selera lagunya. “Sesekali putarlah lagu-lagu Barat,” kata istrinya. Ia juga mengingatkan suaminya agar tidak lupa menyemir rambut jika sudah waktunya.

Rambut lelaki itu, kautahu, terlalu cepat beruban. Itu seperti rambut ayahnya, majikan lama yang meninggal tiga tahun lalu, yang dulu mengetuk pintu kamarnya pada malam kedua istrinya dirawat di rumah sakit. Dan ia mengetuk lagi pada malam berikutnya, dan mengetuk lagi, dan mengetuk lagi. Ketukan berakhir ketika istrinya pulang setelah sepuluh hari dirawat.

Sebelum beberapa ketukan itu, sebenarnya ia pernah berpacaran dengan pemuda yang tak kenal lelah. Ini nyaris harfiah. Tukang sol sepatu itu tinggal di rumah kontrakan di kampung lain dan ia suka berjalan-jalan selepas kerja meski sudah seharian berjalan pada jam kerja. Mereka biasa bertemu di pojok jalan yang remang dan bercakap-cakap hingga agak malam dan itu hanya berlangsung beberapa bulan karena perempuan itu tidak diperbolehkan keluar lagi oleh majikannya.

“Berapa umurmu sekarang?” tanya majikannya.

“Dua enam, Pak,” katanya.

“Tak pantas gadis seumurmu berpacaran di tikungan gelap. Jika kalian berpacaran, lelaki itu harus datang ke rumah ini. Kalian bisa mengobrol di teras.”

Si tukang sol tidak berani berkunjung. Dan perempuan itu tak berani membantah majikannya. Lelaki itu orang baik. Ia membiayainya kursus menjahit dan istrinya sudah sakit-sakitan dan mereka tak punya anak. Ia merasa tak patut membantah lelaki yang baik.

KETIKA ia mulai sering mual-mual setelah beberapa ketukan, majikan lelakinya menyelinap dan mengajaknya bicara agak panjang. Suara lelaki itu lembut sekali (ini suara yang diwarisi oleh anaknya, selain rambut), dan ia hanya bisa mengangguk. Ia bahkan tidak bisa menangis meski ingin menangis. Ia ingin mempertahankan kedekatan dengan lelaki itu. Tetapi itu tidak mungkin ia sampaikan.

Ia tidak bersedih atau merasa bersalah telah tidur dengan majikannya; ia hanya sedih bahwa ia tidak bisa mempertahankan waktu lebih lama dengan lelaki yang telah menidurinya. Ia tidak memerlukan pernikahan, ia tahu tidak mungkin memaksakan itu, tetapi ia sesungguhnya ingin bertahan di tempat itu, setidaknya sampai anaknya lahir. Lelaki itu pasti bahagia melihat kelahiran anaknya, mungkin anak satu-satunya. Ia ingin membuat lelaki itu bahagia. Tidak apa-apa bahwa setelah melahirkan ia harus pergi, atau bahkan harus mati.

Lagi-lagi itu tidak mungkin disampaikan. Majikan lelaki mengatakan bahwa ia tidak ingin menyakiti istrinya yang sudah sakit-sakitan. Maka perempuan itu, pembantu yang bercinta dengan majikannya, tidak punya pilihan lain kecuali lenyap dari mata semua orang sebelum perutnya membesar.

“Aku telah bicara kepada tukang sol itu,” kata majikannya. “Ia mau dan aku akan menyiapkan rumah untuk kalian.”

“Bapak menceritakan semuanya?” tanyanya.

Lelaki itu diam agak lama.

“Hanya apa yang bisa kuceritakan,” kata majikannya.

Ia menggeleng, tidak marah, hanya mengeleng. Tangannya mengopek-ngopek ujung telunjuk kanan.

“Saya akan pulang,” katanya.

“Kau akan menggugurkannya?”

Ia menggeleng.

“Aku akan membiayai persalinan, juga seluruh kebutuhanmu dan anak yang kaukandung. Bagaimanapun ia anakku.”

Lelaki itu benar dengan seluruh perkataannya. Ia dua kali menjenguk anaknya di kampung dan kemudian membawa anak itu bersamanya sebelum si orok genap setahun dan menitipkannya pada orang yang ia percaya. Sekarang anak itu telah menjadi lelaki 40-an tahun dan tidak mengenali ibunya.

Perempuan itu tidak bisa mengatakan kepada majikan lelaki yang sekarang bahwa ia ibunya. Ia ingin mengatakannya, tetapi pada saat yang sama ia tidak bisa melakukannya. Ia datang ke rumah itu sebagai perempuan 26 tahun–usianya ketika ia melahirkan anak itu dan mati beberapa jam setelah persalinan. Bagaimana ia bisa menyampaikan kepada lelaki 40 tahun bahwa ia ibunya? Bahkan ketika lelaki itu di puncak birahi, perempuan itu tetap tidak bisa mengatakan bahwa ia ibunya. Ia tidak mau menjadi ibu yang tak tahu diri, yang datang menemui anaknya hanya untuk menceritakan bahwa ia anak hasil hubungan gelap seorang majikan dengan pembantunya.

Di luar hujan dan petir dan listrik padam. Nyala lilin menaikkan birahi. Lelaki itu tampak menggigil dalam cahaya lilin dan burung puter di teras memperdengarkan suara dengkurnya yang menyedihkan–suara yang memanggil hantu-hantu datang. Kulkas mendengung. Udara di ruangan terasa hangat, mungkin karena lelaki itu birahi, dan lelaki yang birahi mengeluarkan uap panas dari tubuhnya. Di rumah itu mereka hanya berdua. Tukang kebun pulang tiap sore.

Lelaki itu bilang ia sangat kedinginan. Artinya, ia minta dihangatkan. Perempuan itu merasakan pikirannya lumpuh sesaat. Ia tahu apa yang dikehendaki majikan lelaki. Ia sudah pernah menghadapi majikan lelaki yang kedinginan dan ia tahu cara menghangatkan dan ia tidak berpikir akan melakukan cara itu kepada anaknya sendiri. Tetapi lelaki itu menginginkannya. Ia ibunya. Ia belum pernah menjalankan kewajiban sebagai ibu sejak anak itu keluar dari rahimnya.

Maka ia hanya diam ketika majikan lelaki menanggalkan pakaiannya dan mencucup putingnya. Pembantu itu memejamkan mata, ia merasa sedang menyusui bayinya, anak yang tak pernah menjadi miliknya. Dan dengan mata terpejam ia melihat majikan lama, lelaki yang memberi perhatian kepadanya namun tidak mungkin menikahinya. Ia merasa majikan pertama itulah yang sedang memasukinya.

“Aku merasa ada iblis di rumah ini!”

Suara itu terdengar hingga ke kamarnya. Ia berkemas malam itu dan pergi sebelum fajar, sebelum menunjukkan gejala mual-mual, sebelum memancing kecurigaan orang karena perutnya makin bengkak dari hari ke hari. Benih di rahimnya terus tumbuh dan perempuan itu mati lagi sembilan bulan kemudian saat melahirkan anak kedua yang juga cucunya–seekor lembu peteng yang menyala di atas kuburan. Sekarang anak itu berumur lima bulan dan diberi nama Seto oleh orang yang menemukannya. Ia tinggal di pesisir utara Semarang dan kelak mungkin akan memimpin kalian. Ia memiliki riwayat kelahiran dan garis tangan ke arah sana.


(Koran Tempo, Edisi 24 Oktober 2010)

Explore posts in the same categories: Cerpen, REFERENSI

Tag: , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: