ESAI: Pendidikan untuk Tak Menekuk Muka

Iwan Gunadi
Alumnus IKIP Jakarta dan mantan guru

Tahun 1998, Taufiq Ismail menulis puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (MAJOI). Puisi tersebut sering dipentaskannya dengan pengkhayatan yang kuat, termasuk dengan suara bergetar dan kadang-kadang mata berkaca-kaca, di berbagai tempat dan kesempatan. Cara pembacaan yang menyentuh plus kontekstualnya kontennya dengan realitas di negeri ini membuat puisi itu menjadi salah satu puisi yang populer.

MAJOI mengisahkan perubahan sikap “aku” lirik dari semula bangga menjadi malu sebagai orang Indonesia. Bangga sebagai “anak revolusi Indonesia” yang diakui dunia. Malu karena budi pekerti hanya ada di kitab suci dan “langit akhlak roboh, di atas negeriku berserak-serak”: “hukum tak tegak, doyong berderak-derak”, “selingkuh birokrasi”, kongkalikong penghitungan suara pemilihan umum, tawar-menawar keputusan pengadilan, serta kekerasan di mana-mana.

Ketika keluarga mulai menjadi sekadar lembaga perikatan darah atau keturunan dan rumah hanya menjadi tempat singgah untuk istirahat, termasuk tidur, dunia pendidikan—terutama lembaga pendidikan formal—selayaknya mampu menjadi jangkar yang efektif untuk mengembalikan kebanggaan yang hilang sebagaimana didedahkan Taufiq Ismail dalam MAJOI. Sekurangnya, lembaga pendidikan formal mulai dari aras terendah hingga tertinggi dapat merangsang dan memperkuat potensi-potensi subjek didik untuk memiliki sikap antikorupsi, antinarkoba, antikekerasan, serta antipornografi dan pornoaksi. Sebab, keempat aspek itulah yang menjadi penentu utama keberlangsungan dan kewibawaan bangsa ini ke depan, termasuk keberanian mengangkat wajah atau menekuk muka.

Pembaruan pendidikan semestinya tak hanya berupaya menguatkan pengembangan kompetensi kecerdasan dan keterampilan, tapi juga menguatkan kompetensi moralitas, religiositas, dan spiritualitas subjek didik. Sayangnya, beberapa tahun terakhir, standar kompetensi telah direduksi hanya meliputi pengetahuan dan keterampilan. Padahal, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mencakup juga sikap.

Subjek didik tak hanya disiapkan untuk memasuki aras pendidikan yang lebih tinggi atau mampu bersaing di dunia kerja, tapi juga mampu menjadi calon agen pencerahan nilai-nilai kemanusiaan pada masa depan. Dengan demikian, kelak, subjek didik benar-benar menjadi agen perubahan peradaban yang komplet dan utuh, yang mencari, menemukan, dan memraktikkan ilmu dengan fondasi moralitas, religiositas, dan spiritualitas. Kalau meminjam sebagian paradigma Kiai Ahmad Dahlan ketika berpidato pada Konggres Muhammadiyah 1922, subjek didik sungguh-sungguh menjadi agen perubahan peradaban yang komplet dan utuh dengan akal, hati, dan perilaku yang suci.

Di rumah, subjek didik mampu menjadi anggota rumah tangga yang menghormati orang tua, tapi tetap kritis menyikapi setiap keputusan orang tua dan berbagai kondisi yang terjadi di rumah. Kekritisan tersebut digerakkan dengan basis bahwa kehormatan atau martabat keluarga tak bergantung pada pencapaian-pencapaian fisik semata, tapi lebih penting dari itu adalah kualitas moralitas, religiositas, dan spiritualitas setiap anggotanya.

Karena itu, ketika orang tua mampu menyediakan fasilitas yang mewah kepada anak-anak, padahal bapak dan ibu mereka hanya pegawai negeri sipil yang tak memiliki jabatan atau sekadar pejabat level bawah, misalnya, subjek didik sekurangnya mampu bertanya secara santun kenapa orang tuanya semampu itu. Jangan sampai kejadian lagi, misalnya, anak belasan tahun memiliki rekening di bank dengan saldo miliaran rupiah. Kalau memang orang tuanya memiliki uang melimpah dan khawatir uang tersebut melewati batas penjaminan jika ditempatkan di satu rekening bank, kenapa mereka tak memecah dana yang melimpah itu ke dalam beberapa rekening di sejumlah bank berbeda atas nama mereka sendiri atau badan usaha yang mereka miliki, misalnya?

Di lingkungan pergaulan, subjek didik juga mampu menjadi sahabat yang mengasyikkan selain sekurangnya bisa menjadi pengingat yang mengasyikkan juga bagi temannya dari perilaku-perilaku yang berseberangan dengan etika dan hukum. Menuntaskan rasa ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru memang menantang. Akan tetapi, kalau penuntasan atau pencobaan tersebut dilakoni untuk sesuatu yang jelas-jelas tak bernilai positif, seperti narkoba, apa biaya penuntasan atau pencobaan itu tak terlalu mahal karena taruhannya rumah sakit, penjara, atau bahkan nyawa?

Kalau peran-peran seperti itu tak sanggup dilakoni, sekurangnya, subjek didik dapat menjaga dan memuliakan tubuh, kepala, dan hatinya sendiri dari kontaminasi sikap dan perilaku korupsi, penghalalan narkoba, kekerasan, serta pornografi dan pornoaksi. Menjerumuskan tubuh, kepala, dan hati ke dalam sikap dan perilaku tersebut merupakan pekerjaan mudah. Sebaliknya, pembebasan setelah terjerumus sering hanya menjadi mimpi.

Penyadaran seperti itu tentu tak mudah ditempuh. Apalagi jika lembaga pendidikan, termasuk guru, hanya jadi pemasok pengetahuan secara imperatif, doktrinal, dan dogmatis. Bukan fasilitator dan mediator yang memikat dan menyenangkan subjek didik. Guru mengajarkan pentingnya transparansi, misalnya, tapi lembar jawaban siswa ketika mengikuti ulangan atau ujian tak pernah dikembalikan kepada setiap siswa lengkap dengan nilai serta penentuan mana jawaban yang benar dan salah. Guru merazia telepon seluler (ponsel) setiap siswa untuk memastikan tak ada video mesum di ponsel mereka, tapi guru sendiri menyimpannya di laptop mereka. Jadi, tanpa mengutamakan panutan yang riil, penyadaran itu hanya akan hidup di ranah kognitif. Tak merembet ke ranah afektif dan psikomotor.

Penyadaran itu juga tak selayaknya dijadikan beban baru untuk subjek didik. Banyak mata pelajaran harus mereka terima dalam sepekan. Beberapa mata pelajaran menjadi momok bagi banyak subjek ajar. Jika proses pembelajaran makin tak menarik, akan makin banyak mata pelajaran menjadi momok baru. Karena itu, berpikir bahwa korupsi, narkoba, kekerasan, serta pornografi dan pornoaksi dapat dijadikan sebagai mata pelajaran baru ataupun tambahan berpeluang menjadi paradigma yang kontraproduktif.

Kalau kita mau membetot persoalan tersebut ke aras atas (nasional), caranya bukanlah memaksakan materi-materi penyadaran itu sebagai mata pelajaran baru. Materi-materi itu cukuplah disisipkan secara permanen dalam rentang waktu tertentu pada beberapa mata pelajaran tertentu yang diposisikan secara integral. Untuk itu, pada setiap rentang waktu tertentu, pemerintah mesti memiliki strategi kebijakan pendidikan penguatan karakter bangsa, termasuk materi-materi pendidikan yang diprioritaskan pada setiap rentang waktu itu.

Jika tidak, penyisipan itu tak memiliki landasan hukum dan menjadi upaya sambil lalu.

Di sisi lain, strategi kebijakan itu akan membatasi keinginan banyak pihak yang memiliki perhatian besar pada bidang-bidang tertentu untuk menjadikan bidang-bidang tersebut diakomodasi ke dalam kurikulum. Sebab, setiap pihak akan menempatkan bidang perhatiannya sebagai yang terpenting sehingga harus masuk kurikulum. Pada titik itu pula, kurikulum mesti dibingkai dalam pendekatan holistik.
Kalau tidak menjadi bagian dari strategi kebijakan itu, cukuplah kita berharap pada kepekaan setiap lembaga pendidikan dan guru mata pelajaran tertentu menempatkan isu-isu korupsi, narkoba, kekerasan, serta pornografi dan pornoaksi sebagai tema-tema yang dapat dimasukkan ke dalam berbagai kompetensi dasar yang cocok pada mata pelajaran masing-masing. Kalau kepekaan itu tak pernah mengemuka, siap-siaplah kita menerima kenyataan bahwa kita akan makin malu sebagai orang Indonesia.

(Lampung Post, Sabtu, 20 November 2010)

Explore posts in the same categories: Esai, REFERENSI

Tag: , ,

You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: