ESAI: Korupsi Kata

Iwan Gunadi

Peminat Bahasa Indonesia

Melalui  lagu bertitel “Aku Padamu”, Charly ST 12 berulang-ulang melantunkan dua baris lirik /Biarkanlah saja semua berkata tidak/Yang penting aku padamu/.” Klausa “aku padamu”, baik pada judul maupun lirik, seperti ingin menabalkan kecenderungan pelesapan kata yang sering terjadi pada masyarakat ketika berbahasa. Karena diasumsikan para penyimak lagu dari album Pangeran Cinta tersebut telah memafhumi maksudnya, sebagai penggubah, Charly mungkin merasa tak perlu lagi mencantumkan fungsi predikat yang lazim hadir pada kontruksi klausa seperti itu. Pada baris-baris lirik sebelumnya, dia memang menuliskan kalimat-kalimat secara lengkap. Tak ada kata yang dibuang.

Perbedaan apa yang dilakukan Charly dengan banyak pengguna bahasa Indonesia yang lain mungkin terletak pada faktor kesengajaan. Charly mungkin melakukannya secara sadar dan terukur. Di sisi lain, kalau lirik lagu ditempatkan sebagai karya sastra dalam wujud puisi, kesengajaan itu akan disahkan banyak pihak. Kalaupun pada baris-baris lirik sebelumnya, Charly tak memberikan pembayangan bagaimana mengisi ruang kosong di antara kata aku dan padamu, konstruksi klausa itu tak akan terlalu dipersoalkan. Para pengusung faham pentingnya keambiguan dalam karya sastra akan menilai konstruksi klausa itu telah merayakan faham tersebut atau sekurangnya berpotensi mengarah ke sana.

Sementara, banyak pengguna bahasa Indonesia yang lain mungkin melakukan pelesapan kata dalam suatu kontruksi frase, klausa, atau kalimat tertentu lantaran khilaf. Atau, boleh jadi, mereka tidak khilaf, tapi tak menyadari bahwa wilayah berbahasa mereka tak sama dengan wilayah berbahasa Charly. Wilayah berbahasa mereka menuntut cara berbahasa yang lugas, terang, dan lengkap supaya informasi yang ingin disampaikan tidak bias.

Karena tak menyadari medan berbahasa, dengan enteng, mereka merasa cukup mengucap atau menulis kata asing sebagai ajektiva untuk maksud frase pihak asing sebagai nomina. Sesuai dengan konteks wacananya, kata pihak tersebut bisa merujuk ke berbagai hal: investor, perusahaan, produk, negara, dan sebagainya. Tapi, anehnya, ketika rujukannya adalah orang, pengguna bahasa Indonesia yang terbiasa melesapkan kata itu mengucap atau menulisnya secara lengkap: orang asing.

Ada sejumlah kata lain yang setara dengan kata asing yang juga sering diperlakukan sama, yakni awam, internal, dan swasta. Orang awam atau masyarakat awam cukup diucap atau ditulis dengan awam. Pihak internal atau kalangan internal hanya diwaliki dengan internal. Begitu juga dengan swasta. Bukan pihak swasta, kalangan swasta, atau perusahaan swasta, kecuali sekolah swasta atau guru (sekolah) swasta. Yang lebih langka disebutkan secara lengkap adalah frase pihak manajemen untuk maksud personalia manajemen suatu organisasi. Sangat banyak orang memotongnya dengan hanya menyebut manajemen yang tentu makna umumnya adalah proses mengelola atau pengelolaan.

Pada kancah politik, politikus, pejabat, pengamat, dan pewarta berita di negeri ini lebih senang cuma menyebut kata legislatif ketimbang sebutan lengkapnya, lembaga legislatif atau badan legislatif, yang merujuk pada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Pada bidang ekonomi, khususnya perbankan, bankir, pejabat, pengamat, dan pewarta berita juga terbiasa menyebut otoritas moneter untuk maksud pemangku otoritas moneter atau pemilik otoritas moneter dengan rujukan Bank Indonesia (BI).

Bias makna makin melebar ketika tak sedikit orang cukup mengucap atau menulis frase menengah atas untuk maksud kalangan menengah ke atas, masyakarat kelas ekonomi menengah ke atas, atau masyarakat kelas sosial menengah ke atas. Sepintas, frase menengah atas semakna dengan frase menengah ke atas. Tapi, penyimak atau pembaca yang jeli cenderung akan memaknai frase menengah atas sebagai bagian tengah dari kelompok atas, sedangkan frase menengah ke atas cenderung diartikan sebagai rentang bagian atau kelompok mulai dari bagian atau kelompok tengah hingga bagian atau kelompok atas. Di titik itu, kesalahan logika sesungguhnya sudah terjadi di sana.

Tapi, kalau memang tak mau mengorupsi kata dan makna tak terlalu banyak, kenapa tak memilih menggunakan kata tengah untuk frase tengah atas atau tengah ke atas dengan makna masing-masing? Selain paralel karena sama-sama menggunakan kata dasar, makna kata tengah pada frase-frase tersebut dapat dibedakan secara tegas dari kata menengah yang bisa pula berarti bergerak ke tengah.

Kesalahan logika terasa makin kuat ketika banyak orang—terutama pewarta berita—juga hanya menyebut kata media untuk maksud pewarta berita media massa. Misalnya, Pengumuman itu disampaikannya di hadapan puluhan media. Ketika yang ditujunya sebenarnya adalah pewarta berita media massa cetak, yang disebut pun tetap kata media. Padahal, mereka tahu bahwa kata media berarti perantara atau penghubung. Ada sejumlah frase yang dapat dibentuk dengan menggunakan kata tersebut, termasuk media massa. Frase tersebut pun dapat dipilah lagi sekurangnya menjadi frase media massa elektronik dan frase media massa cetak. Kalau mau dipilah lagi menjadi lebih khusus, silakan saja.

Namun, pada saat yang sama, kita mestinya merasakan bahwa makin banyak kata dan makna yang telah kita korupsi. Kalau kata dan makna saja dikorupsi, apalagi dana dan harta. Atau, semua itu pertanda bahwa kita senang berhemat, meski imbas krisis moneter pada 1998 belum benar-benar berlalu dan krisis baru siap mengancam serta keserakahan makin sering ditunjukkan banyak orang kaya?*

(Harian Suara Pembaruan, 29 Oktober 2011.)

Explore posts in the same categories: Esai

Tag: , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

One Comment pada “ESAI: Korupsi Kata”

  1. omni kusnadi Says:

    gimana dengan hedonisme kata, apa sudah ada gejalanya.?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: