BERITA: Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau…

Posted 20 November 2009 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , ,

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan…. (Kompas, 20 November 2009)

 

ESAI: Kiamat 2012

Posted 24 Oktober 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , ,

L Wilardjo

Guru Besar Ilmu Fisika Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Hari Selasa (13/10/2009) lalu, ada e-mail masuk dari seseorang berinisial STP.

Bunyi pesan itu: Pak Liek, saya membaca artikel di ”eramuslim”, ada kalimat berikut, ”Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak, bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung”. Apa yang dimaksud medan magnet bumi mulai retak? Apa pendapat Pak Liek tentang ramalan 2012 oleh suku Maya?

E-mail itu saya jawab singkat. Saya katakan, yang bisa retak ialah benda padat. Zat cair tidak retak. Gas juga tidak. Apalagi medan magnet, yang abstrak.

Keesokan harinya, Kompas menyajikan tulisan ”Kiamat Tahun 2012 Dibantah”. Dikatakan, Apolinaro Chile Pixtun, tetua Indian dari suku Maya asal Guatemala, menyatakan, berita bahwa menurut kalender Maya kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 adalah tidak benar.

Setelah saya cek di internet, tulisan yang sebagian dikutip STP itu memang ada. Ramalan Kiamat 2012 bahkan dikait-kaitkan dengan ramalan suku-suku lain, dengan buku China kuno, I Ching, dan dengan peristiwa serta kegiatan orang dewasa ini. Namun juga dinyatakan, menurut Islam, meski kiamat tidak bisa dihindarkan, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Lalu tulisan itu ditutup dengan: ”Wallahu’alam bishawab”.

Retak atau bolong?

”…Medan magnet bumi… retak… sampai sebesar kota (sic) California….” Retak itu hanya dapat dikatakan pada (permukaan) benda padat yang patah beralur memanjang, tetapi kedua bagian di sebelah-menyebelah alur itu tidak terlepas. Tidak ada retakan sebesar negara bagian California. Kalau ada, itu bukan retak namanya, tetapi berlubang.

Yang dikatakan berlubang bukan medan magnet bumi, tetapi ozonosfer, lapisan atmosfer (20-26 kilometer di atas permukaan laut) yang kaya dengan gas O3. Karena ulah manusia menghamburkan CFC (senyawa khloro-fluoro-karbon), radikal bebas hasil penguraian CFC itu, yakni Cl dan ClO, ”merampok” atom O (oksigen) dari molekul O3 (ozon).

Maka, ozon itu menjadi O2 (molekul oksigen). Pupuk juga melepaskan N2O, yang terurai oleh foton menjadi NO. Juga ada radikal bebas lain, yakni OH. Semuanya suka menyerobot O dari ozon. Padahal, ozonlah yang mampu menamengi bumi dari ”sengatan” sinar ultraungu (UV>ultraviolet). Di antara UV-A, UV-B, dan UV-C, yang paling berbahaya ialah UV-B (290-320 nanometer) sebab energinya sudah cukup tinggi, sedangkan intensitasnya dalam spektrum sinar matahari juga masih lumayan. Yang dirusak ialah kristalin alfa, yakni protein lensa bola mata dan DNA, terutama basanya, yakni [T (thymine), C (cytosine), A (adenine), dan G (guanine)] dengan akibat kanker kulit.

Medan magnet retak?

Ini sulit dipahami. Jika retak, berarti medan magnet bumi yang ”garis-garis”-nya membujur (meridional) dari Kutub Utara (-nya medan geomagnetik) ke Kutub Selatannya terputus di (beberapa) lokasi tertentu. James Clerc Maxwell (di kuburannya, kalau bisa) akan marah sebab, menurut dia, tidak ada magnet berkutub tunggal (monopole). Medan magnet selalu ”temu gelang”, keluar dari Kutub Utara, lalu bisa ”mengembara” ke mana-mana, tetapi akhirnya harus masuk kembali ke Kutub Selatan. Jadi, medan magnet tak dapat terputus. Mengatakan bahwa medan magnet bumi retak sebesar California di sana-sini terasa ”absurd”.

Radiasi?

Juga dikatakan, ”medan magnet bumi merupakan pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari”. Sinar matahari adalah gelombang elektromagnetik yang dalam pandangan kuantum berupa zarah-zarah (particles) yang disebut foton. Foton itu netral (tidak bermuatan elektrik). Padahal, medan elektromagnetik, khususnya komponen magnetik, hanya membelokkan gerak zarah yang bermuatan.

Jadi, medan magnet tidak bisa menjadi pertahanan bumi terhadap radiasi sinar matahari. Memang ada zarah-zarah energetik yang disebut sinar kosmos. Sinar ini berasal dari ruang angkasa luar, mungkin dari bintang-bintang, termasuk matahari. Indikasi bahwa matahari juga melepas sinar kosmos tampak pada rapat elektron dalam plasma ionosfer (400-900 kilometer di atas permukaan laut), yang lebih tinggi pada siang hari ketimbang pada malam hari.

Ionosasi itu terjadi karena atom/molekul di atas sana dibentur zarah-zarah dari luar bumi. Sebagian zarah-zarah sinar kosmos ini dibelokkan oleh medan geomagnetik. Namun, mereka sedemikian energik sehingga tetap ada yang mampu ”menghujani” bumi. Untung intensitasnya rendah sekali sehingga tidak berbahaya. Dalam pengukuran aktivitas cuplikan (sample) radioaktif, sinar kosmos itu hanya dianggap sebagai bagian radiasi latar (background radiation)(Kompas, Sabtu, 24 Oktober 2009)

ESAI: Mari Kita Menyilangkan Jari …

Posted 21 Oktober 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , ,

Daoed Joesoef
alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membentuk Kabinet Indonesia Bersatu II. Ada wajah lama, wajah baru, intelektual/akademisi independen, politikus dan beberapa loyalis yang di Amerika biasa disebut the President’s men.

Walaupun punya kewenangan dan hak prerogatif dalam membentuk komposisi dan struktur kabinetnya, ternyata dia tidak sebebas seperti yang dimungkinkan oleh kewenangan dan hak tersebut. Dia kiranya menyadari bahwa diperlukan sebuah pemerintah yang kuat untuk bisa membangun Indonesia menjadi suatu negara industrial maju, demi meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memperbaiki citra, martabat, dan posisi riilnya di dunia internasional.

Sebagai langkah kondisional awal ke arah itu, dia membentuk suatu “kekuatan politik” dengan jalan membentuk koalisi antara partainya dan empat parpol lain yang nyaris mematikan esensi demokrasi, yaitu meredam adanya oposisi. Pembentukan kekuatan politik melalui koalisi parpol tentu tidak tanpa harga. Harga ini cukup mahal berupa jatah kursi kementerian bagi politikus yang berasal dari parpol yang diajak berkoalisi. Bagi parpol, partisipasi di jajaran eksekutif memang didambakan. Pertama, menaikkan gengsinya di mata masyarakat karena mayoritas warganya yang berpendidikan rendah menganggap kedudukan menteri di jajaran eksekutif jauh lebih “hebat” daripada kedudukan wakil rakyat di jajaran legislatif. Kedua, anggotanya selaku menteri dapat memanfaatkan secara terselubung aparat birokrasi departemen demi memenangkan Pemilu 2014 kelak.

Demi membangun kekuatan pemerintah yang akan dipimpinnya dia menggalang pula suatu “kekuatan teknis” dengan merekrut pakar-pakar nonpartai. Dengan begitu sekaligus dia ingin menunjukkan adanya citra zaken cabinet”- kabinet pakar seperti yang diharapkan oleh kaum intelektual. Parpol-parpol yang menyodorkan anggotanya untuk berpartisipasi dalam kabinet mengklaim bahwa mereka adalah “pakar” pada bidang-bidang yang diusulkan.

Namun, apakah ukuran “kepakaran” itu? Dapat diduga bahwa ukuran itu adalah hal dan kemampuan yang bersifat teknokratis semata-mata, baik bagi yang berstatus nonpartai maupun yang anggota parpol. Dapat dipastikan bahwa selama fit and proper test, Presiden SBY tidak pernah menyoal bagaimana pandangan para pakar tersebut tentang ke-Pancasila-an dari tindakannya kelak di bidang-bidang kehidupan yang menjadi urusan kementerian yang dipimpinnya. Dengan kata lain, baik presiden yang menguji maupun pakar-pakar yang diuji sama sekali menganggap sepi kegunaan filosofi Pancasila sebagai pandu (guidance) bagi kebijakan pemerintah. Kalau Presiden dan para pakar bekerja untuk diri sendiri di dunia privat masing-masing, mereka memang tidak dituntut berfilosofi. Namun, selaku presiden dan menteri dari Republik Pancasila, mereka tidak bisa tidak berfilosofi dalam kerjanya sehari-hari di ranah publik. Hanya dengan berfilosofi itulah mereka dapat menangkap aspek human dari setiap masalah yang dihadapi dan solusi yang tepat sebagai konsekuensinya. Dan nyaris di setiap sila dari Pancasila digambarkan, secara eksplisit atau implisit, aspek homo humanus itu.

Demi kehadiran unsur kekuatan dalam pemerintahannya, Presiden SBY tidak lupa memasukkan orang-orang yang dianggapnya loyalis. Apa ukuran, lagi- lagi, dari loyalitas ini ? Secara lugas (zakelijk) dan demokratis ukuran ini seharusnya berupa pandangan-pandangan yang kritis dari orang-orang tersebut terhadap apa pun yang dipikirkan dan dilakukan oleh presiden, yang mereka anggap keliru.

Namun, yang sering terjadi, sesuai dengan insting egoistis yang berpadu dengan kultur kefeodalan kita, yang dianggap loyal oleh penguasa adalah yes men dan karena menyadari hal ini, para loyalis selalu memberikan, kalau diminta, pendapat-pendapat ABS- “asal bapak senang”. Padahal, kalau konjungtur sosio-politik berubah menjadi buruk bagi penguasa, para loyalis seperti itu yang cenderung lebih dulu hengkang menjauh. Alih-alih mengulurkan tangan untuk membantu tegak, bersuara lantang untuk membela penguasa yang dahulu mereka puja, malah mereka memilih tutup mulut. Dengan sikap seperti itu, mereka tunjukkan tidak mau membela yang salah, padahal penguasa yang dulu mereka puji dan puja itu kini jatuh dan dipersalahkan karena justru banyak-sedikitnya telah mengikuti “nasihat-nasihat intim” dari mereka. Bukankah hal ini yang pernah dialami oleh Bung Karno, Pak Harto dan presiden-presiden yang berguguran di era Reformasi. Karena disanjung-sanjung tanpa disadari mereka telah membiarkan dirinya dipagari oleh orang-orang yang, menurut Bung Hatta, tidak punya innerlijke beschaving- keadaban murni yang betul-betul dihayati.

Pembangunan Nasional

Ada risiko bahwa Presiden SBY tidak mampu menggerakkan pembangunan nasional yang pantas disebut sebagai a valueable legacy bagi generasi penerus. Sesudah bersusah payah mengumpulkan aneka talenta dalam kabinet, yang berpotensi untuk mengadakan reform dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demokratis, namun diberi petunjuk dan arahan untuk berbuat business as usual. Kemandekan/ krisis nasional, yang katanya disebabkan oleh paradigma pembangunan Orba yang keliru, sebenarnya tidak hanya menghancurkan, tetapi juga menciptakan peluang-sekali-dalam-satu generasi, asalkan pemerintah/ penguasa negeri tidak mengetengahkan konsep yang itu-itu saja, berhenti mengucapkan the same old thing.

Usaha pembangunan nasional memang harus berkelanjutan (continous), tetapi pikiran konseptual-filosofis yang mendasarinya harus berubah (discontinous), mengingat pembangunan tetap menyebabkan kemandekan/krisis seperti yang kita alami selama era Reformasi. Sudah tahu pembangunan ala Orba keliru, maka itu ia dulu dijatuhkan, tetapi paradigma dan cara kerjanya tetap diteruskan. Seolah-olah kemandekan/krisis itu tidak terjadi di sini tetapi di negeri antah-berantah. Bila presiden, selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, menyia-nyiakan kemandekan/krisis sebagai pelajaran sejarah yang berharga, maka totalitas efektivitas keseluruhan kabinet akan jauh lebih kecil daripada jumlah efektivitas dari setiap menteri yang menjadi bagian dari kabinet.

Kita bisa mendelegasikan otoritas, tetapi tidak pertanggungan jawab. Selaku rakyat yang ikut berpemilu, kita sudah mendelegasikan otoritas itu kepada pemerintah dan parlemen. Tanggung jawab yang tidak mungkin didelegasikan mendorong kita untuk bersikap kritis konstruktif, bukan defaitis. Hal seperti ini kita harap disikapi pula oleh menteri-menteri nonparpol, terutama yang berpretensi intelektual/akademis independen, mengingat kabinet tetap didominasi oleh politikus parpol yang bersikap partisan.

Kita telah memiliki pemerintah untuk periode lima tahun kedepan. Kepada presiden dan wakil presiden terpilih dan semua menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu II serta para pejabat setingkat menteri, pantas kita ucapkan selamat bekerja. Namun, ada alasan untuk mencemaskan keserasian team-work kabinet. Maka, marilah kita menyilangkan jari, let us cross our fingers, sambil berdoa menurut kepercayaan masing-masing, agar kinerja putra-putri “pilihan terbaik” itu tidak gagal. Rakyat Indonesia sudah menderita sejak zaman penjajahan dan telah berkali-kali dikecewakan oleh janji-janji muluk para pemimpin demagogis. (Suara Pembaruan, 21 Oktober 2009)

ESAI: Masyarakat Sadar Bencana

Posted 2 Oktober 2009 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , , ,

Jonatan Lassa

Riset sejarah Gregory Clancey dalam buku Earthquake Nation: The Cultural Politics of Japanese Seismicity, 1868-1930 terbitan University of California Press 2006 merefleksikan Jepang sebagai bangsa gempa.
Istilah ”Jepang sebagai bangsa gempa” pertama kali muncul bukan karena gempa yang melahirkan petaka. Sebaliknya, meningkatnya kesadaran tentang gempa di kalangan akademisi dan birokrat Jepang, berujung pada reputasi ”Jepang bangsa gempa”, terjadi akibat publikasi John Milne akhir 1886 berjudul Catalogue of 8331 Earthquakes hasil uji coba seismometernya sendiri.
Dihukum alam
Hanya selang sebulan, Indonesia diguncang dua gempa, menghancurkan rumah dan gedung rentan di Jawa Barat dan Sumatera Barat.
Lalu, bagaimana membangun kehidupan politik kebudayaan yang sadar bencana demi kualitas penanganan bencana secara ex-ante di Indonesia yang kenyataannya rentan gempa maupun tsunami.
Membangun budaya sadar risiko bencana untuk menjamin komitmen pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan juga harus dibangun secara politik. Untuk itu, Indonesia memerlukan legislator yang mampu memainkan peran kontrolnya guna mengoreksi kesadaran naif kekuatan eksekutif yang kerap menyembunyikan kegagalan kebijakan publik dengan menyalahkan alam.
”Ademkrasi” yang dibayangkan sebagai ”tatanan yang ayem tentrem, kerta, raharja (damai, makmur, sejahtera), panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi (yang melimpah bagai pasir dari gunung, bagai hasil bumi dari tanah yang subur)” (Alois A Nugroho, Kompas, 2/9/2009) tentu adalah utopia jika bukan mitos karena bumi Indonesia terus bergejolak tidak mengikuti siklus politik. Gagal memahami bumi dan patuh pada hukumnya akan menghasilkan pembangunan yang dikelola mesin politik terlampau rentan dan mudah dihukum oleh alam melalui gempa.
Dengan ketiadaan partai oposisi yang kuat di DPR sekaligus paham bencana dan kebijakan pengurangan risiko bencana, koreksi terhadap pemerintahan yang berkuasa tidak mungkin terjadi secara berarti. Bila ”lumpur Lapindo” adalah salah satu bukti dari berbagai contoh lain, tanda pemerintah yang berkuasa belum efektif menangani bencana.
Penanganan bencana
Saat ini diperlukan pendidikan bagi masyarakat untuk mampu kritis melihat bencana bukan sebagai kutukan maupun kejadian alami, tetapi sebagai kegagalan kebijakan publik yang bertugas mengurangi aneka kerentanan fisik. Kerentanan fisik bangunan adalah fakta karena terkait kerentanan sosial ekonomi yang menjadi fondasi struktur insentif bagi kemampuan maupun kemauan untuk membiayai rumah dan infrastruktur tahan gempa.
Sudah menjadi rahasia umum, semua pemerintah di dunia kerap berkelit dengan melempar tanggung jawab penanganan bencana dan dengan serta-merta menyalahkan alam. Padahal, partai politik bertanggung jawab memberi pendidikan politik karena menyangkut keselamatan rakyat yang juga konstituennya.
Belajar dari berbagai bencana di Indonesia dalam lima tahun terakhir, ternyata partai politik tidak banyak berperan dalam mengoreksi sistem penanganan bencana. Artinya, produk Undang-Undang Bencana No 24/2007 hasil produksi legislatif tidak cukup kecuali disertai komitmen memantau, mengevaluasi, dan mengkritisi proses kebijakan kebencanaan yang tersendat di berbagai aras.
Kita ingat peristiwa Situ Gintung yang terjadi dalam konteks kontestasi politik pemilu. Saat itu berbagai partai politik sibuk membagi bantuan. Ini hanya serial dari kolosal politik kebencanaan kita yang terlihat dari Alor, Aceh, Nabire, Yogyakarta hingga Bengkulu, Jawa Barat, Padang. Saat itu partai politik sibuk membawa bahan kebutuhan pokok bersama bendera partai sambil berpura-pura melakukan doa tolak bala, tetapi lupa menggerakkan politik sebagai alat strategis dalam pendidikan publik. Masyarakat perlu diajak untuk mendorong pemerintah memerhatikan pelaksanaan berbagai regulasi, seperti Undang-Undang Pembangunan Gedung (No 28/2002) agar bisa diimplementasikan, serta mendorong percepatan pelaksanaan Undang-Undang Penanganan Bencana (No 24/2007).
Politik kebudayaan bencana
Dalam konteks Jepang, peristiwa gempa yang melahirkan bencana mampu dijelaskan dengan sains dan melihat sisi antropogeniknya. Sedangkan peristiwa gempa yang besar dan tidak melahirkan bencana mampu diklaim sebagai keberhasilan sains, sekaligus politik. Partai oposisi Jepang sungguh paham akan hal ini.
Indonesia membutuhkan waktu lebih lama ketimbang yang sudah dicapai Jepang 120 tahun lalu untuk melahirkan kesadaran politik yang menggerakkan sumber daya dasar yang sebenarnya sudah tersedia di berbagai universitas dan pusat riset, khususnya pengetahuan tentang berbagai mitigasi bencana.
Benar bahwa ini bukan hanya tugas legislatif maupun pemerintah. Masyarakat menunggu peran politisi dalam membangun kesadaran kritis atas fakta bencana sebagai bukti kegagalan kebijakan publik. Hal ini kerap hilang dalam politik kebencanaan kita, karena itu mendesak untuk dibangun sesegera mungkin. (Kompas, 2 Oktober 2009)

BERITA: Habiburrahman El-Shirazy

Posted 2 Oktober 2009 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: ,

Pengantar Redaksi:
Tidak diragukan lagi kehadiran novel Ayat Ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy dan kemudian filmnya empat tahun lalu sangat fenomenal. Novel disebut sebagai awal kebangkitan lagi apa yang disebut novel islami. Bahkan, filmnya menimbulkan histeria tersendiri bagi para penontonnya. Hanya dalam waktu sebulan lebih diputar di beberapa gedung bioskop di Jakarta saja, lebih dari 3 juta orang rela mengantre karcis untuk menonton kisah cinta ini.
Kang Abik—nama akrab Habiburrahman—berterus terang, novel-novelnya memang bertujuan untuk perkembangan Islam.
Berikut jawaban Kang Abik untuk pertanyaan yang diajukan para penggemarnya melalui e-mail khusus untuk rubrik Kompas Kita kali ini.
Obsesi terbesar apa yang Kang Abik belum capai setelah sukses mengangkat novel Ketika Cinta Bertasbih (KCB) ke layar lebar?
(Dadang Kurnia, Bandung)
Ada banyak obsesi besar yang belum saya capai, di antaranya saya ingin menulis karya yang dibaca oleh masyarakat dunia. Saya ingin karya saya difilmkan dan ditonton oleh masyarakat dunia. Film Ketika Cinta Bertasbih alhamdulillah sudah diputar di Hongkong dan Taiwan, dan akan diputar di Makau dan Australia. Tapi saya ingin film saya juga box office di Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya. Itu di antara obsesi saya. Kalau Allah meridai, ya semoga bisa tercapai suatu saat. Amin.
Teman saya pernah berkomentar , tulisan Kang Abik kurang ramah pada wanita yang tidak mengenakan jilbab, wanita yang suka tertawa keras. Bagaimana Kang Abik menanggapi ini?
(Chusnul Khairuddin, Sleman)
Di beberapa novel saya, tokoh utamanya memang perempuan berjilbab. Misalnya di Ketika Cinta Bertasbih, tokoh utamanya di antaranya Anna Althafunnisa yang berjilbab. Itu wajar sebab dia mahasiswi S-2 Al Azhar University. Mengangkat tokoh utama perempuan berjilbab itu tidak berarti tidak ramah pada perempuan yang tidak berjilbab.
Saya mengangkat tokoh utama perempuan berjilbab di antaranya bertujuan supaya perempuan berjilbab yang minoritas di negeri ini dijaga hak- haknya sama dengan perempuan yang tidak berjilbab yang mayoritas. Sebab sering kali saya merasa kasihan setiap kali mendapat keluhan dari perempuan berjilbab yang diperlakukan kurang ramah, misalnya ketika bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. Masih banyak perusahaan di Tanah Air ini yang melakukan diskriminasi terhadap perempuan berjilbab. Nasib kaum minoritas berjilbab inilah yang memang saya perjuangkan dalam beberapa tulisan saya.
Dalam menulis karya, saya hanya menawarkan etika dan moral yang baik. Namanya juga menawarkan, diterima alhamdulillah tidak diterima ya tidak masalah. Saya sampaikan, kaum perempuan, saya lebih suka memakai istilah perempuan daripada wanita, sebaiknya tidak tertawa ngakak, ini hanya penawaran etika atau sopan santun. Sebenarnya tidak hanya untuk kaum perempuan, kaum lelaki juga sama. Etika ini ada dalam hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau memberi contoh untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi hanya tawaran etika.
Apa yang Kang Abik harapkan dari buku/film ini untuk waktu-waktu yang akan datang, khususnya bagi kalangan remaja sebagai audience terbesar film Indonesia?
(Agusdewi HM, Cilandak, Jakarta)
Saya berharap bahwa buku dan film untuk remaja Indonesia ke depan semakin bergizi, digarap dengan penuh tanggung jawab, dan memberikan kontribusi bagi pembentukan karakter positif para remaja. Semoga.
Panjenengan sekarang termasuk sastrawan Indonesia yang diperhitungkan. Awal kemunculan panjenengan dengan novel Ayat Ayat Cinta ramai sekali menjadi perbincangan. Menurut beberapa kalangan, dunia kepenulisan termasuk popularitas penulisnya, ada masanya. Bagaimana menurut Kang Abik?
(Nirwondo el Naan, Ungaran, Jawa Tengah)
Banyak tema yang berjubel di pikiran untuk ditulis. Saya berusaha menulis yang pas dengan situasi dan kondisi, dalam bahasa ilmu balaghah-nya, yang muqtadhal hal. Dengan itu harapannya tidak ada kejenuhan bagi saya sendiri maupun pembaca.
Kang Abik, karya Anda dapat memberi inspirasi kepada generasi muda Islam untuk berbuat dan berperilaku sesuai petunjuk kitab suci Al Quran. Saran saya agar tokoh yang muncul dalam karya Anda lebih tinggi lagi jabatan atau statusnya daripada cuma penjual bakso/tempe. Alangkah baiknya bila sang tokoh adalah seorang presiden direktur atau general manager suatu perusahaan yang bertaraf internasional.
(Supriyo)
Kenapa yang saya angkat semacam penjual bakso dan tempe, sebab saya ingin orang tidak memandang sebelah mata pada profesi semacam penjual bakso dan tempe. Yang terpenting adalah jiwa enterpreneursip-nya dan kejujurannya dalam meraih rizki yang halal. Sungguh saya lebih bangga pada seorang pemuda yang berani tertatih-tatih berusaha dari nol dan terus berjuang sampai berhasil dengan tetap menjaga integritas moralnya daripada seorang anak muda yang jadi presiden direktur karena mewarisi perusahaan ayah atau kakeknya seperti di sinetron-sinetron itu.
Semoga suatu saat nanti saya bisa bikin novel seorang pembuat tempe yang memiliki pabrik tempe bertaraf internasional. Terima kasih Pak Supriyo atas usulannya.
Sekadar kritik dari saya sebagai penggemar novel Kang Abik juga filmnya. Kenapa ya, film KCB 2 hambar banget dilihatnya? Enggak ada geregetnya. Kalo untuk Film AAC & KCB 1, saya kasih jempol 2 tangan. Mohon maaf bila tdk berkenan.
(Djamhuri Abdul Karim, Ciledug, Tangerang)
Ketika gala premier KCB 2 tanggal 15 September lalu, mayoritas penonton dan kalangan wartawan justru bilang kalau KCB 2 lebih gereget. Mana yang benar? Allahu a`lam. Mungkin masalah selera atau mungkin perlu nonton lagi KCB 1 dan KCB 2 biar lebih mantap.
Saya tertarik dengan sastra. Kang Abik. bagaimana memulai untuk menulis ide, gagasan, yang dituangkan dalam sebuah cerita/karya….
(Budi Bahtiar, Bogor)
Begitu Mas Budi Bahtiar menangkap ide, peganglah erat-erat. Tulislah segera ide itu, jangan sampai lepas dan hilang. Setelah itu kembangkanlah ide itu supaya jadi alur cerita. Caranya, di antaranya dengan banyak bertanya pada diri sendiri seputar ide itu, dan diri sendiri pula yang menjawabnya. Setelah jadi alur cerita, hayati dan matangkan. Kalau sudah benar-benar yakin jalinan ceritanya mantap, segera tulis detil ceritanya. Tulislah dengan tanpa beban seperti kalau Mas Budi bercerita pada teman sambil ngangkring di warung kopi. Begitu kira-kira ringkasnya. Semoga berhasil, saya tunggu karyanya.
Kang Abik , media dakwah lewat novel memang fenomenal. mengena di hati kalangan muda. yang ane mau tanya apakah yang dinovelkan di dalam KCB itu kisah nyata? k
(Rahmat Suherman, Tangerang, Banten)
Sebagian inspirasi novel Ketika Cinta Bertasbih memang kehidupan nyata mahasiswa Indonesia di Cairo. Di antara mereka tidak sedikit yang kuliah sambil bekerja dan berwirausaha di sana. Ada yang kuliah sambil bikin tempe, ada yang bisnis restoran, ada yang jadi koki, ada yang sambil menerjemahkan buku dan lain sebagainya.
Bagaimana Kang Abik melihat fenomena menjamurnya tren penggunaan jilbab?
(Diana, Depok)
Saya senang jilbab semakin diterima dengan baik di Indonesia. Itu artinya, semakin banyak kaum perempuan yang menutup aurat dengan benar. Ketika kaum perempuan memiliki etika yang tinggi, maka akan diikuti oleh lahirnya generasi yang beretika tinggi. Itu hukum alamnya. Sebab, generasi itu lahir dari rahim kaum perempuan. Pesan saya untuk kaum perempuan yang mengenakan jilbab, bertakwalah kepada Allah di mana saja dan jagalah akhlak yang mulia.
Obsesi apa yang masih ingin dicapai Kang Abik ?
(Yulianto)
Menulis karya sastra sebanyak-banyaknya. Karya sastra yang dibaca dunia. Doanya.
Anda kerap mengangkat topik poligami dalam novel-novel Anda. Sebenarnya, apa yang membuat Anda tertarik mengangkat topik poligami tersebut?
(Adrian Hernando, Cirebon)
Tentang poligami hanya sedikit saya singgung dalam dua karya saya, yaitu Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Selain dua karya itu saya tidak menyinggung masalah poligami sama sekali. Dan sebenarnya novel Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih tema utamanya juga bukan poligami. Orang menanyakan masalah poligami kepada saya itu setelah tayangnya film Ayat Ayat Cinta yang oleh sutradaranya masalah poligami diperpanjang dan didramatisasi. Jadi kandungan novel dan filmnya berbeda, terutama dalam menyoroti poligami. Sebelum film itu tayang, ratusan kali saya bedah novel dan mengisi acara seminar tidak ada yang menanyakan poligami.
Dalam novel Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih saya sedikit menyinggung poligami dengan tujuan ingin mendudukkan masalah poligami yang sebenarnya dalam Islam. Poligami dalam Islam adalah rukhshah, suatu bentuk keringanan untuk menjawab problem kemanusiaan, bukan untuk menciptakan problem bagi manusia. Itu yang ingin saya sampaikan.
Bagaimana proses penemuan ide kreatif (inspirasi) sampai penulisannya sehingga selalu dapat menghasilkan tulisan yang berkualitas dan memenuhi selera pembaca yang senantiasa penasaran?
(Esty Ikasari, Pamulang)
Ide bisa datang dari mana saja. Bisa dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Bahkan dari mimpi pun bisa. Selama ini saya mendapat ide sering kali setelah tadabbur Al Quran, atau bisa juga setelah melihat suatu kejadian atau peristiwa.
Novel Kang Abik itu terlalu memuja kaum Adam, lalu mengapa tema yang diangkat itu hampir semuanya masalah poligami? Namun, saya akui, saya suka novel Kang Abik karena bahasa dan setting tempat. Kang Abik bisa dengan lancar mengajak pembaca memasuki tempat yang diceritakan…
(Fitrisia Sis Nariwari, Depok)
Sudah saya jelaskan bahwa saya hanya menyinggung sedikit masalah poligami hanya di dua karya saya, yaitu Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Tema poligami bukanlah tema utama di kedua novel itu. Bahagia sekali kalau Ibu Fitria berkenan membaca kembali kedua novel itu. Di karya saya yang lain, sama sekali saya tidak membahas poligami. Di dalam buku saya Di Atas Sajadah Cinta, ada 38 kisah yang saya tulis dan tidak ada satu pun yang menyinggung poligami. Demikian juga di Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab Cinta, dan lainnya.
Dalam menulis karya saya berusaha adil dalam menempatkan kemuliaan anak manusia, baik lelaki maupun perempuan. Dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, ketika menyinggung poligami justru saya membela hak kaum perempuan untuk bisa mengajukan syarat tidak dipoligami ketika mau akad nikah. Lengkap dengan referensi ilmiahnya.
Apa arti nama El Shirazy ?
(Urwah, Tangerang)
El Shirazy adalah nisbat untuk ayah saya. Namanya, Saerozi. Nama itu saya tulis dengan ejaan cara orang Mesir menulis jadilah El Shirazy. Shiraz sendiri adalah sebuah nama kota di Iran di mana seorang ulama besar penulis fiqh madzhab Syafi`i dilahirkan, yaitu Imam Abu Ishaq El Shirazy, beliau penulis kitab Al Muhadzdzab yang sangat terkenal. Jadi tuduhan sebagian orang yang tidak bertanggung jawab bahwa Shiraz adalah kotanya orang Yahudi itu keliru. Dengan menggunakan ujung nama El Shirazy saya berharap bisa meneladani Imam Abu Ishaq El Shirazy yang melahirkan banyak karya yang bermanfaat bagi manusia.
Mohon bantuan saya butuh informasi lembaga pendidikan pesantren di indonesia yang mempunyai akses beasiswa bagi santri-santrinya untuk kuliah di Universitas Al Azhar Cairo, supaya bisa luar biasa seperti Kang Abik.
(Usman, Yogyakarta)
Akses beasiswa kuliah di Universitas Al Azhar setahu saya ada di Departemen Agama RI dan Kedutaan Mesir di Jakarta. Mas Usman bisa mengaksesnya lewat internet.
Semua karya Kang Baik sangat mengagumkan, termasuk Novel Ketika Cinta Bertasbih. Saya sangat puas dengan keahlian Kang Abik yang menerjemahkan novel KCB ke film. Terinspirasi dari mana sehingga tercipta bakso cinta di film KCB 2? Butuh waktu berapa lama untuk menghasilkan satu karya novel?
(Nur Fauzyah, Tangerang)
Terima kasih Mbak Nur atas apresiasinya. Terima kasih sudah nonton film KCB 2 sampai 3 kali. Coba Mbak Nur tulis kesannya dan kirim beserta karcisnya ke Sinemart. Siapa tahu bisa dapat hadiah umroh. Detail infonya ada di www.filmketikacintabertasbih.com. Kesempatan ini juga terbuka untuk seluruh pembaca Kompas lho.
Inspirasi lahirnya novel KCB sudah saya jelaskan di depan. Bakso Cinta dalam novel KCB lahir karena dalam berbisnis harus ada inovasi, tiba-tiba berkelebat bakso dengan bentuk love begitu saja. Lalu saya namai Bakso Cinta, dan saja jadikan judul dalam salah satu bab novel KCB. Untuk merempungkan KCB 1 dan 2 saya perlu waktu satu setengah tahun setengah.
Saya mau tanya, secara Islam, bagaimana cara kita menanggapi cinta ketika cinta itu tiba-tiba datang? Sekarang kalau orang sedang jatuh cinta, ujung-ujungnya psti pacaran. Nah, pacaran itu kan bisa menjurus ke perbuatan zina.
(Bunga Ramona, Jakarta Barat)
Jika siap menikah, ketika cinta datang segeralah menikah dengan orang yang dicintai. Jika tidak siap menikah bersabarlah dengan tetap menjaga kesucian hati. Demikian Islam mengajarkan agar tidak terjerumus dalam kerusakan.
Dalam Ayat Aayat Cinta, diceritakan mengenai cinta seorang wanita non-Muslim kepada tokoh utama novel tersebut. Kang Abik menggambarkannnya dengan indah. Apakah Kang Abik berencana menulis novel dalam hubungan cinta antar agama seperti itu dengan setting Indonesia, mengingat di negeri tercinta yang beragam ini, kejadian seperti itu sering terjadi? Apakah cinta seperti itu cinta terlarang?
(Jimmy Gede, Gaplek, Tangerang)
Rencana khusus untuk nulis itu belum, tetapi kemungkinan bisa saja ada. Cinta, selama dalam koridor yang dibenarkan agama, syariat dan etika, tidak ada yang terlarang. Itu sependek yang saya ketahui dan saya hayati. Sebab cinta yang benar itu positif dan mendatangkan manfaat.
Novel-novel Kang Abik, menurut saya, bisa dibilang novel islami. Dalam kehidupan nyata, dikenal pula apa yang disebut Islam radikal, moderat, hingga liberal. Bagaimana pandangan Kang Abik mengenai hal ini mengingat tak terbantahkan Islam adalah agama rahmatan lil alamin?
(Songsong Bayu, Arteri Pondok Indah, Jakarta)
Menurut saya Islam itu cuma satu, yaitu Islam yang rahmatan lil `alamin. Tidak ada Islam radikal, Islam moderat, atau Islam liberal. Yang radikal, moderat, dan liberal adalah pemahaman dan penghayatan manusia atas Islam. Seluruh ajaran Islam membawa manfaat bagi manusia, kalau ada yang beranggapan membawa mudarat itu pasti bukan dari Islam, bisa jadi dari pemahaman dan pengamalannya yang salah. Atau bukan dari Islam, tapi ditempel-tempelkan pada Islam. Jadi saya sepakat dengan Mbak Songsong Bayu, tak terbantahkan Islam adalah agama rahmatan lil `alamin.
Ada rencana menulis novel mengenai kejahatan korupsi yang meluluhlantakkan negeri ini, Kang Abik? Mungkin menarik pandangan-pandangan Islam mengenai kejahatan ini, mengingat demikian latenya korupsi di negeri ini dan lembaga-lembaga hukum yang ada pun masih memprihatinkan.
(Suwarja, Garut)
Mohon doanya Pak Suwarja. Semoga saya bisa ikut andil memerangi korupsi dengan karya saya. Semoga novel seperti yang bapak usulkan itu bisa saya tulis dan Allah meridai. Saya hampir setiap hari menangis melihat negeri ini menderita penyakit yang sangat kronis dan mematikan, dan penyakit itu adalah korupsi. Bahkan, korupsi seolah sudah meracuni DNA penduduk negeri ini, kecuali mereka yang diselamatkan oleh Tuhan. Semoga kita termasuk yang diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Rahman. Amin. (ush) (Kompas, 2 Oktober 2009)

ESAI: Holopis Kuntul Baris

Posted 2 Oktober 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , ,

Kasijanto Sastrodinomo
Udara dingin mendekap Dusun Kubang pagi itu. Namun, sekelompok warga dusun berbukit di tepian hutan sekitar 70 kilometer selatan Kota Pekalongan itu malah bersimbah keringat memperbaiki jalan utama yang menghubungkan mereka dengan ”dunia luar”. Sekuat tenaga mereka menarik dan mendorong alat berat untuk meratakan dan memadatkan jalan yang tak mampu menanjak pada kemiringan medan nyaris 45 derajat. Berulang kali mereka mendorong dan menarik mesin besi ratusan kilogram itu sambil meneriakkan ha-ho-ha-ho secara bersahutan. (Kompas, 2 Oktober 2009)
Dari segi semantik kita tentu sulit mengartikan ha-ho-ha-ho selain melihatnya sebagai kata seru untuk menumbuhkan semangat dan, karena diucapkan secara berirama, ia menyerupai lagu. Pakar etnomusikologi dari Universitas Sumatera Utara, Setia Dermawan Purba, menemukan sejenis lagu kerja yang disebut orlei pada masyarakat desa di Simalungun. Orlei didendangkan untuk membangkitkan semangat saat warga desa menarik kayu gelondongan berukuran besar—disebut manogu losung—sebagai bahan baku lumpang. Nyanyian itu berisi pujian kepada dewi kayu, Puang boru Manik, sekaligus permohonan izin mengangkut kayu dari hutan.
Jenis lagu serupa tentu banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Di Jawa Timur teriakan holopis kuntul baris terdengar ketika orang mengangkat atau mendorong benda sangat berat dalam kegiatan kerja bakti. Diteriakkan secara ritmis, holopis kuntul baris menjelma bagai irama lagu mars. Dari tiga kata itu, holopis tampak paling aneh, barangkali ditarik dari hola, kata seru (tussenwerpsel) dalam bahasa Belanda, seperti ”hai” yang diucapkan secara spontan. Kuntul adalah jenis burung dari keluarga Ardeidai, berbulu putih, berleher dan berkaki panjang, pemakan ikan atau katak di sawah. Keistimewaan kuntul adalah saat terbang berkelompok dalam formasi berjajar rapi dan kompak mirip konfigurasi pasukan udara Red Arrows dari Kerajaan Inggris.
Formasi seperti itulah yang menjadikan holopis kuntul baris sebagai daya ungkap energik dalam kerja sama. Ketika berpidato di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan, 1 Juni 1945, Bung Karno mengutip holopis kuntul baris untuk membayangkan ”negara gotong royong” yang bakal merdeka. Gotong royong, katanya, adalah ”konsep yang dinamis yang menggambarkan satu usaha, satu amal, satu karyo, satu gawe… Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong.”
Holopis kuntul baris mengingatkan kita kepada semangat gotong royong yang konon telah lama memudar. Profesor Koentjaraningrat dalam monografinya (1961) mempercanggih pengertian gotong royong sebagai the cooperation springs from a spontaneous attitude of the participants. Meski demikian, pakar antropologi itu mengingatkan bahwa tidak semua aspek gotong royong bersifat sukarela. Ada yang mengandung pamrih karena berharap balasan, bahkan bisa membelenggu inisiatif individual yang mungkin lebih kreatif dan, karena itu, tak layak dikembangkan.
Tatkala bencana datang beruntun, gotong royong yang tulus sangat diperlukan untuk membantu sesama yang bermusibah. Alang tulung beret bebantu, meminjam kebajikan orang Gayo, ”yang perlu ditulung dan dibantu harus ditolong”.

ESAI: Nasib Tan Malaka

Posted 25 September 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , , ,

Zulhasril Nasir

Penulis Buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia, dan Singapura; FISIP UI

Beberapa hari lalu, kubur Tan Malaka di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, dibongkar. Ibrahim Datuk Tan Malaka sejak tewas 60 tahun lalu hampir tidak ada yang peduli, termasuk negara. Orang yang berjasa menyelidiki dan menemukan makam Tan Malaka adalah Dr Harry A Poeze, sejarawan Belanda.

Sejak 37 tahun lalu, Poeze meneliti Tan Malaka (seperti sering dikatakan) mulai dari menulis skripsi. Dengan metodologi sejarah, Poeze menemukan makam Bapak Republik Indonesia itu meski disambut dingin pemerintah. Berkali-kali Poeze datang dan berusaha mengambil perhatian pemerintah dan publik. Terakhir, Poeze mengadakan diskusi tentang Tan Malaka di Megawati Institute (Kompas, 21/8).

Apa yang kita pikirkan? Apa yang sebenarnya kita pikirkan tentang Tan Malaka? Ada beberapa kemungkinan yang mengganjal hati kita dan pemerintah untuk memberi perhatian kepada (kuburan) Tan Malaka. Pertama, faktor psikologi sosial; kedua, kemauan politik dari pemerintah dan elite politik; ketiga, kesadaran bersejarah publik.

Faktor psikologi-sosial telah mengubur gagasan Tan Malaka, khususnya sejak Soeharto berkuasa. Imunitas publik pada ideologi kerakyatan seolah melayang dan haram dalam wacana publik, berganti kepada rezim pragmatis otokrasi-feodal yang membawa negeri ini nyaris kehilangan identitas sebagai negara-bangsa. Pengikisan ideologi kiri kerakyatan Soekarno (desoekarnoisasi) tahun 1966 berimbas pada desjahririsasi, dehattaisasi, dan detanmalakaisasi, berganti menjadi militerislistik otoriter.

Gagasan pembangunan bangsa dari para pendiri bangsa pelan- pelan terkubur dalam memori bangsa. Usaha membangkitkan kembali gagasan itu menjadi sia- sia di tengah gemuruh arus kapitalisme global dan neoliberalisme. Bangsa ini telah telanjur menjadi sekrup mekanisme pasar dan budaya global, lalu menjadikan negeri ini tak berdaya dan jalan yang dianggap aman ialah tidak melawan arus itu. Ketika kesadaran tumbuh bahwa kapitalisme dan neoliberalisme bukan tujuan bangsa ini, maka tidak banyak orang sadar betapa pentingnya rujukan yang diberikan para pendiri bangsa 64 tahun lalu. Tan Malaka bahkan tegas menandaskan, ”Indonesia harus merdeka 100 persen karena itu kemerdekaan hakiki.”

Iklim sosial warisan Orde Baru yang tumbuh dan berkembang selama 32 tahun akibatnya masih terasakan hingga kini. Beberapa generasi dicekoki pemikiran atau gagasan otoritarian dan koruptif yang kemudian menjadi perilaku keseharian, jauh dari pemikiran ideal berbangsa.

Tak ada kemauan politik

Peringatan hari kemerdekaan beberapa waktu lalu seharusnya diarahkan kepada penyegaran dan introspeksi bangsa pada apa yang telah mereka (para pemimpin) laksanakan dan apa yang perlu dilaksanakan untuk mencapai cita-cita bangsa. Jika tidak, negeri ini bagai layang-layang putus, melayang tak tentu arah.

Tiadanya kemauan politik pemerintah terlihat dari persepsi mereka atas tokoh Tan Malaka. Bagaimanapun, para elite kuasa tak ingin terlibat sesuatu yang masih dianggap kontroversi. Ini akibat didikan Soeharto, yang berbau kiri belum diterima.

Dari sisi lain, bagi pejabat terkait, mereka ingin selamat dan menjadi bagian elite kuasa. Maka, nasib makam dan eksistensi kepahlawanan Tan Malaka sulit diwujudkan dalam waktu dekat.

Ketidakmenentuan dan tidak adanya komitmen negara ini sebenarnya hal yang amat janggal. Seharusnya pemerintah membantu dan bertanggung jawab atas ditemukannya makam Tan Malaka karena negara, melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963, telah menyatakan sebagai pahlawan nasional.

Sebagai anak bangsa, kita patut miris dan kehilangan muka, justru yang ngotot dan meneliti ketokohan dan kepahlawanan Tan Malaka adalah sejarawan dari negeri Belanda, Harry Poeze. Ia telah meneliti dan menulis buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1925-1945 dan terakhir dalam buku setebal 2.200 halaman, Verguisd en Vergeten Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945- 1949, yang dibahasa-indonesiakan menjadi enam jilid: Tan Malaka Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, 1945-1949. Berbagai kegiatan diskusi di Bukittinggi dan beberapa tempat belum mampu mencairkan pikiran elite bangsa dan hanya hinggap di beberapa intelektual di kampus. Catatan terpenting bagi bangsa ini ialah, Poeze meneliti sejarah dan menemukan makam Tan Malaka setelah pemimpin bangsa ini tidak peduli. Sumbangsih kepakaran itu seharusnya memperoleh dukungan opini publik, cendekiawan, dan pemerintah.

Kita pun merasa yakin masyarakat sudah mulai bangkit kesadaran bersejarahnya terutama sejak jatuhnya Orba. Hanya saja mereka masih belum yakin apakah membenahi sejarah sebagai suatu yang amat penting dewasa ini. Maka, saya pun beranggapan para tokoh politik dan intelektual wajib membangkitkan semangat bersejarah ini karena sejarah adalah cermin masa lalu kita yang menentukan masa kini dan pedoman masa depan bangsa. Ketika kita mengacuhkan sejarah, maka kita pun tidak tahu akan ke mana bangsa ini berjalan. (Kompas, 25 September 2009)

ESAI: Biarkan Ratusan Sungai Menuju Samudra

Posted 19 September 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , ,

Komaruddin Hidayat

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ketika Rumi, sang sufi, meniup seruling, hatinya merasa sedih dan pilu karena yang terdengar dari seruling itu adalah tangis kerinduan untuk kembali bergabung dengan rumpun bambu tempat dia berasal.

Begitulah Rumi mengingatkan, bisikan rohani terdalam kita selalu merindukan kampung asal bersama teman-teman di surga firdaus, mirip kerinduan hati untuk pulang mudik ke kampung halaman setiap Lebaran tiba.

Entah sudah berapa juta tahun anak-cucu Adam tinggal di bumi dan berapa nabi dan agama terlahir menyampaikan panggilan dan petunjuk untuk menapaki jalan lurus menuju Tuhan. Telah muncul ratusan agama, semua menawarkan jalan terdekat menuju Tuhan. Namun, yang terkenal dan memiliki banyak pengikut saat ini mungkin hanya lima rumpun agama, Hindu, Buddha, Yahudi, Katolik/Kristen, dan Islam, meski di luar yang lima itu ada ratusan agama menurut definisi dan keyakinan pendukungnya.

Ibarat air dan sungai

Andaikan Anda tanyakan kepada air minum yang terhidang di atas meja, ke mana gerangan dia hendak bepergian, jawabnya dia sedang bergulat dengan nasib meneruskan perjalanan menuju samudra luas berkumpul dengan yang lain. Begitupun setetes embun yang menempel di daun pada pagi hari, atau air yang tergenang di kolam, mereka senantiasa damba menemukan lorong sungai yang mengantarkan pulang ke samudra. Air hujan yang tumpah ke bumi membawa berita untuk sesamanya yang sudah lama tinggal di perut bumi, di kolam dan danau, bahwa samudra, bak sang ibu, senantiasa menunggu dan merindukan kepulangan mereka untuk berkumpul kembali.

Maka muncul ribuan sungai berpawai sambil meneriakkan tangis rindu serta kegembiraan untuk kembali menyatu dengan samudra luas, jernih, dan indah tempat asal mereka. Di antara sungai-sungai itu mungkin ada yang kesal dan marah karena seribu macam kotoran dan penyakit ditimpakan kepadanya oleh manusia sehingga jalannya lamban dan menjadi cemohan orang. Namun, banyak juga yang tertawa karena airnya yang jernih dengan ikannya yang cantik-cantik hidup berseliweran, sementara sawah yang dilewati menyampaikan terima kasih karena menjadi subur.

Namun, bagaimanapun kondisi sungai itu, semua airnya memiliki target akhir yang sama, kembali ke samudra, meski mungkin di antara serombongan air itu ada yang berputar-putar dan entah berapa ratus tahun baru sampai ke tujuan akhir.

Meski jumlah sungai mencapai ribuan, namun saat didekati, tiap sungai itu unik, masing-masing memiliki nama, kedalaman, panjang, dan wilayah sendiri. Jenis ikan dan sampahnya pun berbeda-beda. Namun, jika Anda menaiki pesawat terbang lalu berputar-putar melihat dari atas, akan terlihat semua sungai itu memiliki kesamaan, berjuang menuju samudra.

Demikianlah, mungkinkah ratusan agama yang dipeluk jutaan, bahkan miliaran penduduk bumi itu ibarat sungai-sungai yang menghimpun kerinduan rohani manusia untuk mendekat dan bergabung dengan Tuhan? Bukankah Tuhan bagai samudra kasih yang senantiasa menampung dan merindukan semua roh manusia untuk bergabung kembali dengan-Nya? Dari mana pun arahnya, apa pun yang terbawa olehnya, samudra tak pernah menolak kehadiran sungai. Berbagai virus yang dibawa bahkan dinetralisir, tetapi sebagian kotoran akan diempaskan kembali ke daratan.

Di balik keunikan tiap agama dengan segala ragam karakter, wajah, dan penampilannya—di antaranya ada yang ramah dan yang menakutkan—saat diurai, pada lapisan terbawah ada riak dan arus kerinduan tiap anak cucu Adam yang bergabung di dalamnya untuk kembali kepada Tuhan. Tiap agama mengajarkan kidung pujian pada-Nya. Dan tiap jiwa pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Menuju samudra

Jika saja semua agama—sebagaimana sungai-sungai itu—dijaga kejernihannya dan ditata rapi, semua orang akan merasa senang memandangnya. Bahkan, di berbagai negara, sungai di tengah kota dipandang warganya sebagai hiasan. Sungai itu menjadi kesayangan. Warga kota ramai-ramai menjaga kebersihan dan keindahannya karena menjadi tempat rekreasi yang sedap dipandang mata.

Sekali lagi, jika ratusan agama itu bisa dianalogkan dengan ratusan sungai, biarlah semua mengalir menuju samudra dari arah berbeda-beda dengan karakter masing-masing. Biarlah para pemeluknya merawat baik-baik agar menyuburkan semua tanah yang dilalui dan indah dipandang mata.

Suka atau tidak, di muka bumi ini ada ratusan sungai—sebagaimana ratusan agama—yang semuanya menampung himpunan air, ingin kembali ke samudra.

Alangkah damainya jika kita mampu dan berlapang hati menatap keragaman itu sebagai realitas kehidupan yang pantas dirayakan. Namun, selalu saja ada orang yang bertengkar membuat kapling-kapling nama lautan, padahal saat air bertemu samudra, dia tidak memedulikan lagi apakah bergabung di Laut Jawa, Lautan Hindia, Selat Sunda, Pasifik, atau tempat lain karena hakikat samudra adalah satu. Samudra itu satu dengan beragam nama, sebagaimana esensi air sama tetapi bergabung ke sungai dengan beragam nama?

Setelah satu bulan melaksanakan ibadah puasa, semoga kita menemukan kembali kefitrian sehingga menjadi pribadi yang lapang, penyebar damai, dan bisa merayakan keragaman hidup. (Kompas, 19 September 2009)

ESAI: Budaya Ketupat

Posted 19 September 2009 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , ,

Saifur Rohman

Peneliti Filsafat; Bekerja dan Menetap di Semarang

Fenomena kebudayaan Indonesia mendapati kekhasan dalam ketupat. Karena ketupat, ritual keagamaan tidak lagi persoalan hukum agama, tetapi telah merasuk pada kebiasaan, pranata sosial, hingga instrumen komunikasi virtual maupun aktual.

Seorang sarjana bidang kajian budaya tidak dapat dikatakan paham secara emik latar masyarakat Indonesia jika tidak mampu membelah makna ketupat. Persoalan yang dihadapi para ahli, seberapa jauh makna ketupat relevan dalam pembentukan kebudayaan Indonesia modern?

Selama ini, kita baru tahu dari kajian antropologi struktural Claude Levi-Strauss tentang hubungan makanan dan kebudayaan. Buku Myth and Meaning (1978) mampu menjelaskan hasil-hasil kajiannya tentang kode-kode kebudayaan melalui makanan tertentu yang dipilih sebuah suku. Raymond Thallis (1996) meneliti hubungan antara makanan, pembentukan kosakata, dan identitas kebudayaan.

Sebagai contoh, dibandingkan dengan Barat yang minim, kekayaan kosakata untuk buah kelapa kecil sampai tua menunjukkan, kebudayaan Indonesia amat terkait dengan lingkungan pantai tempat pohon kelapa tumbuh.

Fase kehidupan

Berdasar perspektif itu, tidak sulit dipahami adanya menu makanan yang berbeda untuk mengenang aneka peristiwa penting dalam hidup manusia. Kelahiran bayi ditandai menu makanan dari dedaunan hijau dan biji-bijian. Bayi itu tumbuh dan saat menyelesaikan hal-hal penting dalam fase kehidupan, acara selamatan akan digelar dengan menu makanan yang berasal dari pasar. Masyarakat kebanyakan menyebut jajan pasar.

Saat dewasa, seorang individu menyatakan lamaran dengan bahan makanan yang penuh simbol. Tebu, hasil palawija, kelapa, dan makanan pokok ditata di ruang tamu. Manakala saatnya tiba sebuah keluarga kecil sudah mampu membuat rumah, maka topping off ditandai makanan simbolik yang diletakkan di ketinggian. Padi dan ketela untuk kemakmuran, kelapa untuk kekuatan, bubur merah dan putih untuk keseimbangan, dan bendera Merah-Putih sebagai identitas kebangsaan. Akhirnya kematian ditandai dengan nasi tumpeng dibelah dua.

Semiotika ketupat

Konfirmasi atas fakta-fakta itu hendak membuktikan betapa eksistensi makanan ketupat dalam kultur masyarakat Indonesia tidak dapat diabaikan. Bila kita meminjam perangkat metode semiologi Charles Sanders Peirce, proses produksi pemaknaan ketupat dapat dilihat sebagai ikon, lambang, dan simbol. Ikon adalah penunjuk langsung; lambang adalah proses pengangkatan ikon ke dalam norma-norma keseharian; simbol adalah lapis pemaknaan reflektif atas lambang yang terkait struktur kebudayaan.

Sebagai ikon, ketupat dideskripsikan sebagai makanan berbahan beras yang dibungkus daun muda pohon kelapa atau janur. Tidak setiap orang mampu membuat anyaman janur sebagai wadah beras. Ikonografis ketupat lalu dimunculkan sebagai romantisme menyambut Lebaran.

Sebagai lambang, ketupat memberi arti penting dalam proses perayaan. Sebagai bukti, sebagian masyarakat pesisir Jawa membagi perayaan Lebaran menjadi dua, Idul Fitri dan Lebaran Ketupat. Idul Fitri jatuh 1 Syawal, sedangkan Lebaran Ketupat adalah satu minggu setelahnya (7 Syawal). Ketupat tidak ada dalam Idul Fitri karena hanya hadir dalam Lebaran Ketupat.

Sebagai simbol, secara historis ketupat lahir dari sebuah pergulatan kebudayaan pesisiran. Sumber dari Malay Annal (1912) oleh HJ de Graaf menyebutkan, ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Demak yang dipimpin Raden Fatah pada awal abad ke-15.

Bungkus ketupat dipilih dari janur. Mengapa janur? De Graaf menduga-duga secara antropologis bahwa hal itu berfungsi sebagai identitas budaya pesisiran karena pohon kelapa kebanyakan tumbuh di dataran rendah. Selain itu, warna kuning memberi arti khas untuk membedakan dari warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.

Saling kunjung

Kebiasaan berkunjung dan bersalaman bisa dijelaskan melalui etimologi kata ketupat, yakni kupat (Jw) (Sumber: Slamet Mulyono Kamus Basa Jawa, 2008: 199). Para frase kupat adalah ngaku lepat, mengaku bersalah. Kata itu menuntut kita menghilangkan rasa benci, tersinggung, dan introspeksi diri agar bisa saling memaafkan. Ketupat membimbing manusia pada fase pemahaman paling ultim tentang hakikat manusia.

Kini, budaya ketupat tidak bisa tergantikan. Memang ada gambar ketupat di kartu pos, e-mail, SMS, MMS, dan aneka jejaring sosial. Namun, karena makan ketupat itu tidak bisa secara virtual, ketupat mengundang kita untuk hadir, bertatap muka, saling bercerita. Kita disadarkan, betapa kehidupan sehari-hari menjauhkan kita dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Kita menjadi makhluk asing yang terlempar dari budaya ketupat.

Ada pula ketupat sayur di Jakarta. Namun, meski kita bisa makan kapan saja, sebetulnya menu itu ingin menghadirkan budaya ketupat dalam kehidupan sehari-hari, bukan setahun sekali. (Kompas, 19 September 2009)

BERITA: Buku Digital: Revolusi dalam Membaca

Posted 12 September 2009 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , , , , ,

Rasa cemas terpancar dari mata pemuda yang dengan setengah membungkuk, menyerahkan secarik kertas lusuh ke tangan penjual. “Anda masih punya?’, tanyanya berbisik.

Bagi pemuda kutu buku ini, perburuan terhadap buku langka, nikmatnya hampir sama dengan buku itu sendiri. ‘Saya bersedia membunuh untuk mendapatkan buku yang saya ingingkan’, katanya bercanda.

Tidak jauh dari toko buku bekas empat lantai di pusat kota Brussel, Belgia, eksekutif Google sedang memaparkan visinya mengenai kerajaan global buku digital yang akan bisa mengubah total cara kita membaca.

“Kalau terletak pada saya maka 15 tahun dari sekarang seyogyanya saya bisa ke toko buku dan membeli buku apa saja yang pernah dicetak, baik digital ataupun berwujud buku. Sebagian orang akan lebih banyak membeli buku digital, sebagian buku cetak, dan sebagian lagi dua-duanya’, kata Dan Clancy, direktur Google Books Engineering.

Pekan ini Clancy mengungjungi Komisi Eropa dan mengadakan pertemuan kunci untuk membujuk penerbit dan perpustakaan Eropa yang masih ragu-ragu, untuk berpartisipasi dalam Proyek Buku Google. Banyak pihak di Eropa khawatir, kasus hukum di Amerika Serikat akan bisa membuka jalan bagi Google menjadi raksasa yang memiliki kekuasaan terlalu besar terhadap dunia buku.

Raksasa buku
Di bawah penyelesaian yuridis yang diajukan, Google akan memiliki hak eksklusif untuk menjual buku-buku cetak dan buku-buku berhak cipta- yang jumlahnya mencapai sembilan juta buku secara global. Perjanjian itu dikhawatirkan akan berdampak langsung terhadap buku-buku Eropa.

‘Apabila satu salinan buku yang diterbitkan di Eropa sampai ke perpustakaan Amerika, maka Google bisa memindai (maksudnya ’scan’) buku tersebut bahkan sebelum hak ciptanya dijual di pasar Amerika Serikat, ini bisa merugikan peluang penerbit bersangkutan untuk menjual hak cipta itu,” wanti-wanti Angela Mills Wade dari Dewan Penerbit Eropa.

Awal pekan, Google berupaya menenangkan keresahan itu dengan mengeluarkan semua buku yang masih dijual di Eropa dari pasar online Amerika. Walau demikian, banyak penerbit yang masih was-was.

“Masalahnya sangat kompleks bagi seorang penerbit untuk mengecek buku-buku mana yang sudah di-online-kan oleh Google”, kata Bernard Gerard atas nama toko-toko buku Belgia, dan menambahkan Google butuh waktu ‘bertahun-tahun’ untuk memenuhi tuntutan hak cipta Eropa, yang beda dari satu negara ke negara lain.

“Hak untuk mendigitalkan buku pada akhirnya terletak di tangan penulis’, jelas Gerard. ‘Tidak ada buku yang bisa online tanpa kesepakatan terlebih dulu dengan penulis. Kalau ini tidak terjadi, maka jelas pelanggaran”.

Pahlawan budaya?
Walau demikian, ada juga yang menyambut tawaran proyek, termasuk raksasa penerbit Macmillan dan perpustakaan universitas seperti Gent dan Bodlean di Oxford. Mereka mencatat naiknya penggunaan. ‘Apabila Anda seorang mahasiswa dan ingin membaca satu bab saja, yang seringkali memang demikian, maka lebih mudah untuk mencarinya secara online. Anda tidak perlu ke perpustakaan dan membuang-buang waktu mencarinya’, kata Dan Clancy dari Google.

Yang mengejutkan, banyak toko buku menanggapinya secara antusias dan mengatakan Google bisa menyumbang pada warisan budaya.

Tapi pecinta buku di toko buku bekas di Brussel tadi, kurang antusias. “Saya suka sentuhan, rasa, dan aroma sebuah buku. Saya ingin bisa meraihnya dari rak buku saya. Ini ibarat cinta. Membaca secara online tidak akan berdampak sama”.

Google si raksasa buku
-Google mencapai kesepakatan class action tahun lalu dengan perkumpulan penerbit Amerika mengenai sengketa hak cipta yang diajukan oleh mereka pada tahun 2005.
-Di bawah kesepakatan itu, Google setuju membayar 125 juta dolar untuk menyelesaikan semua klaim yang masih ada dan menyerahkan 63% dari hasil pendapatannya kepada penerbit dan penulis. Google mendapat sisanya.
Buku-buku yang sudah tidak dijual- dalam 400 bahas- dapat dibeli online, jumlahnya mencapai 3% dari total penjualan buku. (www.rnw.nl, Jumat, 11 September 2009)