ESAI: Pekerjaan Rumah dari Gus Dur

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , ,

Garin Nugroho
Direktur Yayasan Sains Estetika dan Teknologi (SET)

Barang siapa yang menghina agama orang lain, ia menghina agamanya sendiri.” Demikianlah pernyataan Gus Dur dalam iklan layanan masyarakat yang penulis buat pada saat beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Pernyataan di atas terasa sederhana, namun merefleksikan kenegarawanan dalam beragam perspektif. Pertama, ketegasan kepemimpinan terhadap nilai pluralisme. Kedua, sikap tidak tawar-menawar melawan ekstremitas beragama yang menginginkan salah satu agama menjadi dasar negara. Ketiga, nilai beragama diletakkan dalam bentuknya yang paling dasar sekaligus mulia, yakni dalam tata nilai hubungan sehari-hari antarumat manusia.

Sepeninggal Gus Dur, sesungguhnya pekerjaan rumah semacam apa yang ditinggalkannya?

Daya hidup, tindakan, dan pikiran Gus Dur, sesungguhnya hidup dan menghidupi bangsa dari periode menurunnya kekuatan Soeharto hingga sepuluh tahun pasca-Reformasi. Pada dua periode ini, Gus Dur melakukan dua kerja kebangsaan yang sangat penting. Pertama, periode Soeharto, dengan caranya yang khas, Gus Dur mengelola religiositas sebagai daya hidup kebebasan berpikir dan berorganisasi guna melakukan perlawanan terhadap militerisme dan anrakisme. Kedua, era Reformasi, Gus Dur terus melakukan kerja tanpa tawar-menawar terhadap berbagai bentuk ekstremitas beragama, yang tumbuh di masa transisi sekaligus mencoba melakukan terobosan-terobosan kenegaraan yang sangat tidak mudah yang melahirkan kontroversi. Termasuk upaya Gus Dur mencoba membangun generasi baru dalam sebuah dunia baru, yang tidak mudah baginya, di tengah kesehatannya yang melemah serta dunia politik baru dalam pemilu langsung dalam kerja suara terbanyak, serta tumpang-tindih konflik kekuasaan intern serta dalam lingkup berbangsa.

Yang harus dicatat, kenegarawanan Gus Dur mampu tumbuh didasari beberapa aspek dasar pertumbuhan. Pertama, tumbuh dan lahir dari tradisi keluarga dan organisasi keagamaan Islam terbesar yang memiliki relasi kebangsaan yang kuat dengan nasionalisme sejarah Indonesia. Kedua, pemikirannya mampu memiliki daya hidup dalam berbagai ruang hidup berbangsa, dari seni, teknologi, pendidikan, partai, keagamaan, serta kebangsaan sekaligus dialog keagamaan global. Oleh karena itu, Gus Dur dikenal mampu berdialog dengan bergam kalangan hingga disiplin ilmu serta profesi. Ketiga, daya hidup kepemimpinannya mampu hidup dalam beragam waktu krisis, yang tentu saja, bisa dipahami, melemah seiring melemahnya kesehatannya.

Oleh karena itu, Gus Dur adalah guru bangsa di tengah arus perubahan besar masa-masa Soeharto hingga Reformasi. Guru bangsa yang tidak dalam gaya kepemimpinan yang birokrasi, formal, dan jumawa. Layaknya wayang, Gus Dur adalah tokoh semar ataupun punokawan yang selalu menjaga nilai-nilai serta para kesatria melewati berbagai tantangan, dengan lelucon, kenakalan, dan pemikiran, serta kerja kebangsaan yang sangat egaliter. Dengan kata lain, Gus Dur adalah pengawal Pancasila di berbagai bentuk transisi dan krisis.

Pengawal Baru
Pasca-Reformasi , seperti layaknya masa transisi, melahirkan beragam gejolak serta kerja kebangsaan dan pemikiran-pemikiran, disertai beragam perubahan tata cara bernegara, Baik itu, pemikiran ke depan maupun pemikiran ulang terhadap nilai-nilai kebangsaan, yang tidak bisa bertumbuh pada era Soeharto serta masa proklamasi. Sebutlah, tafsir sejarah peristiwa September 1965 hingga upaya kembali meletakkan agama sebagai dasar negara, yang sesungguhnya sudah selesai dengan lahirnya Pancasila dan UUD 1945.

Bisa diduga, seluruh pemikiran yang tidak bisa tumbuh pada era Soeharto, maupun yang mati oleh pemikiran pluralis Pancasila, berupaya ditumbuhkan kembali dalam era yang penuh transisi serta dibuka lewat pemilu langsung dan suara terbanyak. Era yang memungkinkan berbagai dimensi pemikiran masuk lewat partai, parlemen hingga yudikatif, eksekutif, serta berbagai bentuk proses berbangsa lainnya.

Catatan sederhana di atas, memberikan suatu isyarat bahwa Gus Dur memberikan pekerjaan rumah yang sangat besar. Yakni, di tengah era demokrasi suara terbanyak dan langsung, maka diperlukan kepemimpinan baru yang tidak tawar-menawar terhadap daya hidup Pancasila dengan ketegasan hukum, serta keberanian nilai kritis, untuk senantiasa melawan segala bentuk anarkisme minoritas maupun mayoritas keagamaan. Di sisi lain, kepemimpinan itu dituntut mampu hidup dalam demokrasi suara terbanyak dan langsung, yang penuh paradoks kekuasaan, cita-cita, kegagapan , serta politik sebagai primadona baru.

Pada sisi lain, pekerjaan rumah terbesar yang diberikan Gus Dur adalah lahirnya kepemimpinan yang mampu memandu masyarakat untuk menjadi penjaga kritis Pancasila dalam hidup sehari-hari, di tengah era informasi dan komunikasi baru, serta migrasi besar politik aliran, ideologi, hingga peran kepartaian, organisasi masyarakat dan politik, yang dipenuhi ketimpangan, krisis dan bencana serta kepemimpinan yang serba baru dan gamang, dipenuhi euforia kekuasaan ketimbang menjadi pelayan Pancasila.

Selamat jalan Gus Dur, Pekerjaan rumah ini adalah sebuah proses dialog panjang dan memerlukan keberanian kenegarawanan. (Harian Suara Pembaruan, 31 Desember 2009)

ESAI: Gus Dur dan Cak Nur

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , , , ,

Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Wafatnya Gus Dur tiba-tiba mengingatkan saya akan sosok Cak Nur. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Cak Nur (Nurcholish Madjid) adalah dua sosok santri par excellent yang sama-sama dari Jombang.

Keduanya sangat memengaruhi dunia pemikiran kaum santri di Indonesia. Mereka berdua juga pemikir sekaligus aktivis sosial yang sangat berjasa menarik gerbong dunia pesantren yang semula berada di pinggiran masuk ke gelanggang percaturan intelektual dan politik di Indonesia kontemporer, bahkan ke level internasional.

Dua sosok pemikir ini mampu mengintegrasikan pemikiran tradisional dan modern, lokal dan nasional, dalam semangat dan komitmen keindonesiaan sehingga semangat Islamisme, modernisme, dan nasionalisme tidak relevan lagi diperhadapkan. Khususnya bagi dunia pesantren,Gus Dur dan Cak Nur telah mendongkrak sikap percaya diri secara kultural dan intelektual sehingga pesantren yang semula dianggap eksotik, kumuh, terbelakang, lalu berubah menjadi pusat kaderisasi intelektual dan pemikir kebangsaan dengan paham keagamaannya yang moderat dan inklusif.

Gus Dur sendiri dengan bercanda sering mengatakan bahwa Jombang telah melahirkan “orang-orang gila” di negeri ini dengan menyebut Cak Nur, Emha Ainun Najib,Wardah Hafidz, dan dirinya sendiri. Mereka adalah sosok-sosok pribadi yang berani berbeda dan siap menerima risiko. Oleh karenanya Gus Dur dan Cak Nur akan tercatat dalam sejarah sebagai pejuang demokrasi yang tumbuh dari rahim dunia pesantren.

Cak Nur lahir 17 Maret 1939, meninggal 29 Agustus 2005, sedangkan Gus Dur lahir 4 Agustus 1940,meninggal 30 Desember 2009. Bagi para pejuang demokrasi dan kemanusiaan, dua sosok intelektual-aktivis ini serasa masih hidup meski keduanya telah lebih dahulu kembali ke kampung Ilahi untuk selamanya. Beruntunglah pikiran-pikiran mereka sebagian sudah terabadikan dalam buku sehingga kita lebih leluasa dan objektif untuk membaca dan menilainya.

Di hari pemakamannya, seorang teman berkirim SMS kepada saya: Gus Dur memang luar biasa !!! Amplitudo getarannya baru terasa penuh pada detik-detik ini. Benarlah kata orang bijak, dengan memberi kamu menerima, dengan memaafkan kamu dimaafkan, dengan mati kamu hidup abadi. Tentu tak akan habis-habis orang membicarakan Gus Dur karena pemikiran dan sepak terjangnya yang multidimensi, kontroversial, dan di luar dugaan orang.

Telah banyak buku terbit yang isinya mengulas pemikirannya. Sebagai orang kampus tentu saya akan mendorong mahasiswa saya, khususnya program pascasarjana, untuk meneliti dan mengkajinya kembali secara ilmiah karena begitu banyak tesis atau pemikiran Gus Dur yang masih dan sangat relevan untuk membangun wacana keislaman dan keindonesiaan hari ini. Selamat jalan Gus, yakin dan berdoa, kehidupan di kampung Ilahi pasti jauh lebih indah dan damai. (www.seputar-indonesia.com, 1 Januari 2009)

ESAI: Dia adalah Jendela kepada Dunia

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , , , ,

Moeslim Abdurrahman

Yang paling berkesan, saya lihat Gus Dur itu menjadi jendela bagi Nahdlatul Ulama (NU) kepada dunia. Karena di awal tahun 1970, dia sebagai orang muda pulang dari Timur Tengah, tiba-tiba bicara soal hak asasi manusia, demokrasi, dan seterusnya. Ini luar biasa. Orang ini bukan pulang dari Amerika Serikat seperti anak-anak muda sekarang ini yang sekolah di sana. Ia lama di Baghdad, pernah di Mesir.

Gus Dur ini sangat impresif karena dari rumpun subkultur pesantren, tapi dia bicara dalam wacana yang sang kontemporer,

Di Gondangdia Lama, Jakarta, tahun 1975, saya kenal dengan Gus Dur. Dikenalkan oleh Cak Nur (Nurcholish Madjid). Sejak itu saya berkawan dengan Gus Dur.

Kami bertiga sesama dari Jawa Timur. Gus Dur suka guyon, sementara Cak Nur orangnya serius. Dalam pergaulan selanjutnya saya lebih dekat dengan Gus Dur. Karena Gus Dur itu orangnya memang begitu, gampangan.

Yang berkesan lagi, Gus Dur ikut mempromosikan saya. Sehingga saya beberapa waktu disebut sebagai intelektual muda Islam, bila diwawancara oleh berbagai surat kabar. Itu salah satu jasa Gus Dur bagi saya.

Gus Dur tahu saya seorang dari Muhammadiyah. Akan tetapi, dia tidak pernah melihat itu. Dan banyak pendapat-pendapatnya menakjubkan saya, karena orang ini kemudian—kasarnya—jualan pesantren. Jualan pesantren di dunia masyarakat politik. Sehingga pesantren ini menarik perhatian di dunia, selain menjadi isu nasional. Pesantren sering menjadi bahan penelitian orang-orang luar negeri. Gus Dur ini seperti memasarkan idealisme pesantren.

Gus Dur punya karisma di depan para kiai, apalagi di depan umatnya. Umat NU ketika itu sedang mencari tokoh yang menjadi jendela untuk ke dunia modern. Ada kebanggaan di kalangan orang NU terhadap Gus Dur. Karena Gus Dur membawa pesantren ke dunia luar yang luas. Dia membuka masyarakat NU untuk sadar bahwa kita hidup dalam dunia global.

Gus Dur berdarah biru. Akan tetapi, pandai menggunakan bahasa populis. Gus Dur bukan hanya bahasa, Akan tetapi, juga bisa merekonstruksi sehingga tiba-tiba muncul kelompok Kiai Khos Ini kan menata legitimasi. Juga kelompok Kiai Langitan. Jadi kalau ada persoalan-persoalan tertentu, dia bisa merujuk dengan mengatakan, ”Saya ini kan diperintah Kiai Khos.”

Dia saya kagumi bukan karena pemikiran politiknya. Akan tetapi, sebagai pemikir Islam, dia berani pikiran-pikiran Gus Dur seperti pergulatan. Seperti pergulatan hidupnya. Maka di kala orang berdebat soal Islam dan kebangsaan, maka Gus Dur mengatakan, ”Memang kita ini lahir sebagai orang Islam atau sebagai orang Indonesia dulu?”

Gus Dur mewakili Islam ketika bangkitnya ilmu sosial di Indonesia. Di sinilah Gus Dur jualan tentang pesantren. Dia bilang kepada saya, ”Kang kalau kita bertemu dengan orang- orang pintar ilmu sosial, kita jangan ikut terjun dalam ilmu sosial, kita omong pesantren dong.”

Dari dulu Gus Dur konsisten pada tiga hal. Yakni kalau negeri ini sudah memilih demokrasi, maka implikasinya harus tidak ada diskriminasi. Ini sangat mendasar. Dua itu tidak bisa dipisahkan. Kemudian tentang hak asasi manusia. Yang ketiga pluralisme. Banyak orang mengklaim soal itu. Akan tetapi, bagi saya, Gus Dur adalah pionirnya.

Dia bukan mengantar saya hingga berkenalan dengan banyak orang. Dia betul-betul membuka dan jadi jendela sehingga banyak orang NU melihat demokrasi dari Barat. Dia memberi inspirasi. Dia yang menjamin ketika banyak orang ragu terhadap keragaman. Dia tegas sehingga bisa jadi jendela kaum minoritas untuk melihat ada jaminan di Indonesia. (Kompas, 31 Desember 2009)

ESAI: Pejuang Demokrasi yang Tangguh

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , ,

Taufik Kiemas
Ketua MPR RI

Saya dan Gus Dur sudah seperti saudara karena memang sudah kenal semenjak muda. Bahkan dalam bahasa akrabnya Gus Dur mengibaratkan jika Megawati Soekarnoputri adalah temannya,Taufik Kiemas adalah sedulurnya (saudaranya).

Karena akrabnya dengan saya, perseteruan yang pernah terjadi antara Gus Dur dengan Mega tidak mengganggu hubungan saya dengan Gus Dur.Susah untuk menggambarkan bagaimana keunikan hubungan saya dengan Gus Dur. Gus Dur yang juga terkenal kontroversinya itu juga sering membuat orang jengkel karena pernyataannya. Namun jika itu ditujukan ke saya, maka saya diamkan saja.

Akan tetapi,anehnya,satu atau dua hari saja setelah itu seperti tidak ada apa-apa lagi.Pernah saat Gus Dur masih menjadi presiden, beliau mengatakan, “Itu Taufik Kiemas ditangkap saja karena sudah melakukan penyelundupan mobil.”Saat itu Gus Dur menyatakan hal itu secara terbuka kepada media.Namun saya diamkan saja dan saya juga tidak jengkel atau dendam karena memang saya sudah tahu bagaimana Gus Dur.

Terbukti, tiga hari berikutnya saya bertemu dengannya dan nggak ngomong apa-apa. Itulah keunikan Gus Dur dalam hubungan pertemanannya dengan saya. Saking akrabnya, saat Gus Dur bertengkar dengan Mega, ke saya juga tetap baik-baik saja. Karena memang Gus Dur itu orang yang bisa menempatkan posisinya.Namun suatu keanehan juga bahwa hubungan antara Gus Dur dan Mega juga mengalami pasang surut meski sebagai sama-sama aktivis Reformasi.

Namun karena Gus Dur itu bukan orang yang pendendam, hubungannya dengan Mega juga kembali membaik.Bahkan pada saat pilpres hingga wafatnya, hubungan antara Gus Dur dan Mega sedang sangat baik. Sering kali Gus Dur menyempatkan sarapan bareng dengan Mega. Inilah yang saya merasa ikut bahagia bagaimana di akhir hidupnya antara Gus Dur dan Mega sangat dekat sekali.

Mengenang saat kehidupannya, saya secara pribadi sebenarnya cukup bangga dengan Gus Dur karena beliau itu kedekatannya dengan saya melebihi kedekatannya dengan teman-teman yang lain. Saya bukan mau menyombongkan diri, tetapi ini adalah menceritakan kenangan bersama Gus Dur bahwa beliau itu paling berani minta sesuatu hanya kepada saya. Nah,itu tidak akan bisa terjadi jika tidak ada kedekatan yang lebih antara saya dengan Gus Dur.

Jadi kalau dengan saya, Gus Dur itu sudah blak-blakan jika minta pertolongan sesuatu kepada saya. Mungkin itu sama halnya juga orang lain yang tidak sungkan untuk meminta pertolongan Gus Dur karena Gus Dur memang sebagai teman tidak pernah perhitungan. Namun, meski sangat akrab, saya dari dulu jika bertemu Gus Dur tetap mencium tangannya sebagaimana yang dilakukan banyak orang kepadanya.

Memang itulah hebatnya Gus Dur, dia selain disegani dan berwibawa, banyak orang yang juga menganggap kelebihannya sehingga memang patut mendapat kehormatan. Sekarang Gus Dur telah pergi. Saya sebagai orang nasionalis sangat merasa kehilangan.Apalagi, Gus Dur bukan saja tokoh nasionalis yang selalu mengajarkan pluralisme, tetapi Gus Dur juga pejuang NKRI dan Pancasila yang tangguh dan sangat susah dicari padanannya.

Bagi Gus Dur yang kenegarawanannya tidak diragukan itu, NKRI, pluralisme, demokrasi adalah harga mati dan itu ditunjukkan saat menjadi presiden dengan berbagai langkahnya untuk memajukan demokrasi. Gus Dur adalah pemimpin yang bisa diandalkan, pemimpin yang luar biasa, pemimpin bagi semua golongan,dan pemimpin yang bisa menerima perbedaan. Sebagai pemimpin yang jenaka, Gus Dur juga terbukti paling berani meski harus memihak yang minoritas.

Terlepas dari kontroversinya, Gus Dur terbukti diakui ketokohannya dan kepemimpinan nya. Bahkan tidak hanya bagi Indonesia dan Islam Indonesia, dunia pun ikut melihat bagaimana peranan Gus Dur baik dalam demokrasi dan pluralisme maupun perdamaian. Banyak tokoh dan ilmuwan yang sudah mengakui itu dan menyatakan bahwa tidak ada tokoh sekelas Gus Dur lagi di bangsa ini yang selain unik,nyentrik,tetapi kualitas pemikirannya sangat orisinal dan menyejukkan bangsa yang umatnya menganut keyakinan berbeda.

Sekarang semua orang bisa melihat dan merasakan bagaimana kehilangan guru bangsa, tokoh dunia,yang selalu punya ide brilian. Namun saya yakin meski Gus Dur telah pergi, ajarannya, pemikirannya, serta prinsipnya dalam memperjuangkan kepentingan bangsa akan menjadi inspirasi dan akan diikuti oleh generasi berikutnya. Sekali lagi, sebagai teman dekat, sahabat,yang bahkan Gus Dur mengakuinya sebagai sedulur, saya pribadi merasa terpukul dan sangat merasa kehilangan.

Apalagi, pemakaman Gus Dur bersamaan dengan hari lahir saya. Ini kado perpisahan secara fisik antara saya dengan Gus Dur. Semoga semua amal perbuatannya diterima di sisi Allah SWT dan diberikan tempat yang layak. Selamat jalan Gus Dur, banyak yang telah engkau berikan bagi bangsa ini dan banyak juga pelajaran yang engkau ajarkan kepada generasi penerusmu. (www.seputar-indonesia.com, 1 Januari 2009)

ESAI: Gus Dur Sebenarnya Sedang Tidur

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , , , ,

Arswendo Atmowiloto
Budayawan

Gus Dur, barangkali sebutan yang paling demokratis, paling bersahabat, sekaligus paling hormat dan paling hangat menggambarkan persaudaraan dengan tokoh yang luar biasa, yang menjila, sang pemilik nama. Semua mulut bisa menyebutkan nama Gus Dur, semua telinga mengerti siapa yang dimaksud, dan semua hati menaruh rasa kagum dan rasa hormat yang tinggi. Gus Dur menggambarkan semua yang terangkum dalam sebutan KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI, atau jabatan apa pun, yang beragam yang pernah digenggam.

Tanyakan kepada semua posisi atau tokoh masyarakat, baik agamawan, politisi, seniman, negarawan, tukang ojek, maupun pemulung, mereka bisa menceritakan pengalamannya. Tanyakan kepada angin, kepada hujan, atau pepohonan, mereka bisa mengatakan hal yang sama. Tanyakan kepada debu atau batu, jawaban mereka tak jauh berbeda. Dalam budaya Jawa, Gus Dur adalah lakone, sang tokoh utama dalam segala perkara yang boleh apa saja, dan bisa. Segala yang luar biasa pantas disandangkan padanya. Sebaliknya, segala yang biasa menjadi luar biasa. Maka kepergiannya yang abadi, Rabu, 30 Desember 2009, di RSCM Jakarta, dalam usia 69 tahun, sesungguhnya diterima sebagai tidur sementara. Tidur tanpa mendengkur, seperti kebiasannya selama ini.

Tradisi
Guru bangsa yang memperjuangkan demokrasi, pluralisme budaya, dan hak-hak kemanusiaan ini, mempunyai riwayat yang dekat dengan siapa saja, mempunyai jalan awal yang tak berbeda dari kita pada umumnya. Pada awal tahun 70-an, saya masih ingat Gus Dur datang dengan Vespa -kemudian lebih sering diboncengkan, ke redaksi Kompas di Palmerah Selatan, Jakarta. Menunggu mesin ketik yang kosong, kemudian mengetik apa saja: komentar film, pertandingan sepak bola, atau soal politik. Yang unik bukan apa yang dituliskan, melainkan pembicaraan yang mengganggunya saat mengetik. Para wartawan mengerumuni, bertanya apa saja. Dan dijawab dengan ringan menawan. Jauh sebelum idiom, “gitu aja kok repot”, Gus Dur telah menjalaninya dengan sederhana, dengan biasa. Kalau hanya begitu, kurang seru. Karena “tradisi” ini juga terjadi pada majalah Zaman, yang diterbitkan oleh grup Tempo. Padahal, sebenarnya kedatangannya ke sana untuk menjemput istrinya yang menjadi redaktur di situ. Sambil menunggu, bisa mengetik artikel dan memberikan pembekalan kepada wartawan-wartawan yang masih terlalu hijau dalam bekerja. Tapi, begitulah Gus Dur, tak membedakan senior-yunior, tak membedakan kelompok mana.

Saya juga pernah menikmati satu-dua kali, dengan mobil kecil datang ke berbagai seminar -pernah bertiga dengan Goenawan Mohammad. Kalau tak salah, usulan karcis tol berlangganan muncul di sini. Karena seringnya menggunakan jalan tol -terutama ke bandara, Gus Dur menuliskan atau mengusulkan melalui surat pembaca. Kadang kami menggoda dengan sengaja menanyakan nomor telepon seseorang, yang dihapal Gus Dur di luar kepala, bahkan sambil tiduran sekali pun. Tujuh angka bisa disebutkan, dan bukan hanya tujuh belas tokoh yang ditanyakan. Kadang, Gus Dur ngomel, bukan karena dikerjai, melainkan karena terganggu tidurnya.

Soal tidur ini merupakan hal yang extraordinary betulan. Dalam sebuah diskusi teater pada 1993, di mimbar panel diskusi, Gus Dur benar-benar tertidur sampai mendengkur. Bahkan ketika sampai gilirannya, harus disenggol dan dibangunkan. Tapi, ya itulah lakone, terbangun seketika, bisa menanggapi pembicara sebelumnya dan tetap membuat pendengarnya tertawa. Saya ingat tahun itu, karena itu saat saya keluar dari penjara. Adalah Gus Dur sendirian yang membela “kasus Monitor”, yang menghebohkan, yang membuatnya “diadili” kaum ulama, tiga tahun sebelumnya. Saya khusus menemui dan mengucapkan terima kasih, mencium tangannya. Gus Dur menerima, seperti juga menerima salam dan ciuman tangan dari yang lain, sambil terus jalan. Saya agak kecewa dan terucap.”Yaaah, Gus Dur lupa sama saya….” Di tengah jalan menuju mimbar, Gus Dur berhenti dan berpaling: “Kalau baumu, saya masih ingat…” Selalu ada yang mencengangkan dari sikap yang biasa-biasa. Bagi saya, pembelaan Gus Dur sesuatu yang luar biasa, tapi bagi Gus Dur itu selalu yang biasa, yang dilakukannya. Juga bukan hal yang pribadi -karena yang dibela soal kebebasan berpendapat.

Soal cium tangan ini Gus Dur kemudian sekali menolak. Bukan karena apa, melainkan saat itu Gus Dur mulai sering cuci darah dan tangannya masih sakit terkena infus. “Nanti saja kalau sudah sembuh.” Sayangnya, tangan kiri-kanan tak segera membaik.

Tanggung Jawab
Semasa menjabat sebagai Presiden RI pun gaya Gus Dur tak banyak berubah. Masih selalu terbuka -dan ini tidak biasa- menerima teman-teman seniman, di Istana Negara. Kadang pengawal direpotkan, karena para tamu tidak tercantum namanya dalam daftar undangan. Kalaupun kemudian dikonfirmasikan, ya tetap diterima. Kadang pertemuannya pun tak berbeda dengan di luar Istana. Pernah waktu buka puasa bersama, Umar Kayam, almarhum, yang waktu itu sudah agak sakit, duduk di kursi. Sementar Gus Dur duduk lesehan di bawah. Pembicaraan tetap terbuka, berlangsung tanya jawab ke sana kemari dengan orang nomor satu di republik ini.

Kadang sedemikian terbuka. Dalam rangka menyambut Hari Anak, saya mewawancarai bersama penyanyi cilik, Yoshua. Gus Dur bicara berapi-api, situasi politik sedang memanas, dengan menyebut nama-nama tokoh lain. Saya berusaha mengingatkan. “Gus, ini direkam, kamera tv masih nyala.” Jawabannya? “Sekarang menjadi tanggung jawabmu. Kamu yang menentukan disiarkan atau tidak.”

Begitulah, dengan gayanya, Gus Dur’s way, hal -hal yang mendasar ditularkan, dibagi, tanpa ketegangan.

Terakhir kali bertemu Gus Dur, di kediamannya di Ciganjur, saat berbuka bersama anak-anak yatim piatu, dan saya diminta memberikan sambutan. Pada akhir acara, Gus Dur memuji dan saya berbisik: “Gus, itu tadi kan dari tulisan Gus Dur. Saya sudah katakan di depan, waktu Gus Dur belum datang.”

Masih banyak kisah sesungguhnya dari Gus Dur, yang dialami siapa saja. Dengan segala kearifan, kejenakaan -satu-satunya presiden di dunia yang memiliki koleksi humor terbanyak dan diutarakan terbuka, menyapa, bahkan menghibur. Segala debu segala batu pun akan bercerita, betapa sesungguhnya Gus Dur adalah berkah, adalah kasih, bagi bangsa Indonesia, tanpa terbedakan agama, keyakinan, suku, atau nama asal, atau pakaian yang dikenakan. Gus Dur adalah anugerah bagi bangsa Indonesia yang utuh, yang bisa disentuh.

Saya lebih berharap saat ini Gus Dur sedang tidur tanpa dengkur, dan setiap saat akan terbangun pada mereka -cantrik-cantriknya, santri-santri, anak didik- yang memahami karunianya yang karismatis. (Harian Suara Pembaruan, 31 Desember 2009)

ESAI: Dua Tahun Bersama Gus Dur di Istana

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Esai

Tags: , , , , , ,

Wahyu Muryadi
Mantan Staf Khusus Bagian Protokoler Istana Negara dan Redaktur Eksekutif Tempo

Abdurrahman Wahid yang saya kenal adalah presiden yang tak hanya membuat meriah iklim politik. Dia juga mengubah banyak wajah Istana yang selama ini dianggap sakral. Saya sebagai staf khusus bagian protokoler Istana Negara di masanya sering kerepotan.

Salah satu yang ia ubah adalah protokoler, yang selama ini membuat Istana Negara sangat selektif terhadap tamu dan wartawan. Sebagai orang yang punya jaringan luas, dari politikus perlente sampai kiai teklek (kiai desa), pengamanan sering dianggap menghambat tamu yang hendak menemuinya. Gus Dur meminta aturan itu lebih dilonggarkan. “Istana Negara itu istana rakyat,” kata Gus Dur soal sikapnya itu. Abdurrahman Ad-Dakhil, artinya Abdurrahman sang pendobrak. Karena itu, banyak aturan yang ia dobrak.

Berbeda dengan presiden lainnya, tamu Gus Dur itu macam-macam. Sebagian juga memberi nasihat yang kadang mistik. Wahyu mengingat ada tamu yang menyarankan agar tanah Istana diambil dari tanah yang berasal dari seluruh Nusantara. Untuk menyejukkan suasana Istana, Gus Dur pernah disarankan mengambil air dari sebuah tempat di Jawa Barat. Tak semua nasihat itu ia jalani, tentunya.

Kebiasaannya bertemu dengan banyak orang itu membuat Gus Dur kerap mengabaikan nasihat, termasuk dari dokter yang karena alasan kesehatan melarangnya menemui tamu di atas pukul 10 malam.

Kebijakan ini pula yang membuat jumlah wartawan di Istana Negara melonjak drastis dari sebelumnya, yang kurang dari 100. Pada masa Gus Dur, jumlahnya sampai 800-an. Jumlah wartawan dan tamu yang banyak itu tak membuat Istana seperti “pasar malam”.

Wajah berbeda lainnya dari Istana di masa Gus Dur adalah sentuhan humornya –bahkan dalam saat genting sekalipun. Salah satunya adalah celetukannya tentang jenderal yang sangat berbahaya. Ini disampaikan saat jumpa pers tentang sikap Kepala Polri Bimantoro, yang dianggap membangkang perintahnya untuk meletakkan jabatan.

Seusai konferensi pers, Gus Dur setengah berbisik memanggil para wartawan. “Saya mau sebutkan nama seorang jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja,” ujar Gus Dur dengan mimik serius. “Wah, siapa itu, Gus?” kata wartawan, dengan ekspresi penasaran. “Jenderal itu adalah Jenderal… (General) Electric….”

Kalau soal Bimantoro, Gus Dur nyeletuk begini saat diberi tahu tentang sikap Bimantoro yang tak mau menyerahkan tongkat komandonya. “Golek ae neng (cari saja di) Pasar Turi atau Senen,” kata Gus Dur saat itu.

Gus Dur suatu kali pernah melawat ke Kuba. Saat sedang bersantai di ruangnya, hanya memakai celana pendek, kaus oblong, tiba-tiba pemimpin Kuba Fidel Castro datang. Pejuang gerilya itu pun ditemui Gus Dur dengan pakaian seadanya. (Ditulis ulang oleh Abdul Manan & Ismi Wahid) (Koran Tempo, 31 Desember 2009)

BERITA: Kita Kehilangan Gus Dur, Pejuang Toleransi

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Aktivis Forum Demokrasi, Todung Mulya Lubis, melalui layanan pesan singkat, menuliskan, ”Kita kehilangan sosok Negarawan yang memperjuangkan pluralitas bangsa. Seorang yang berjuang untuk moderasi dan toleransi sosial, beragama, dan berbangsa. Gus Dur adalah pilar pluralisme dan benteng bangsa melawan fundamentalisme. Gus Dur adalah seorang demokrat sejati yang menghormati lawan politiknya.”

Sesaat setelah Presiden Indonesia periode 1999-2001 KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, diwartakan meninggal, puluhan SMS dan e-mail menandakan dukacita yang mendalam dari berbagai kalangan mengalir ke Redaksi Kompas. Kepergian Gus Dur tidak hanya kehilangan besar bagi negeri ini, tetapi juga bagi seluruh umat beragama. Gus Dur adalah simbol kebersamaan dan toleransi.

Umat Kristen Sulawesi Utara kehilangan atas wafatnya Gus Dur. ”Ia adalah tokoh perdamaian dan ’pahlawan’ minoritas. Kami benar-benar kehilangan. Belum ada tokoh setara Gus Dur,” kata Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa Pendeta AO Supit, Rabu (30/12) di Manado. Ia pergi meninggalkan semerbak melati. (zal/tra)

***

Luthfi Hasan Ishaaq

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Lutfhi Hassan Ishaaq berpandangan, seluruh keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama atas wafatnya Hadratussyech Abdurrahman Wahid.

Abdurrahman Wahid merupakan seorang ulama dan tokoh nasional yang cukup berani dan terbuka dalam menyatakan berbagai pandangannya tentang Islam dan umat Islam. Dalam pandangannya yang sangat beragam itu, meskipun juga sering berbeda, PKS cukup bisa memahaminya. ”Pandangan beliau yang sangat beragam tentang Islam dan umat Islam itu kami hargai dan cukup bisa kami pahami,” ujar Lutfhi. (MAM)
Prabowo Subianto

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mengaku sangat dekat dengan sosok Gus Dur, bahkan sejak ia masih kecil. Kediaman keluarga Prabowo di Matraman, Jakarta, bertetangga dengan kediaman Gus Dur.

”Beliau mewariskan sifat inklusif dalam sosoknya. Sebagai pemimpin umat Islam, ia juga diterima banyak golongan. Sebagai guru bangsa, beliau bisa jadi pengayom bagi semua unsur di Indonesia. Hal itu yang membuat saya terkesan. Pemikirannya sangat berani walau kadang sulit diikuti,” ujarnya.

Prabowo terakhir bertemu saat Gus Dur menikahkan putri keduanya, Yenny Wahid, beberapa waktu lalu. (dwa)

Soetrisno Bachir

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir menilai, bangsa ini kehilangan tokoh demokrasi dan humanisme. Hingga saat ini, belum ada tokoh sekelas KH Abdurrahman Wahid yang telah berjasa membuka wawasan masyarakat. Kepergian Abdurrahman Wahid tidak hanya kepergian bagi kalangan Nahdliyin, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia.

Bangsa ini memang patut memberikan penghargaan bagi Gus Dur, tidak saja karena pernah menjadi presiden yang memimpin rakyat negeri ini, tetapi juga telah memberikan pencerahan bagi semua orang. ”Kita tidak pernah meragukan komitmen kebangsaan dan sikap toleransi Gus Dur,” ujarnya. (MAM)

Muhaimin Iskandar

Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), mengaku sangat terpukul dengan wafatnya Gus Dur. ”Beliau itu ayah, guru, dan pemimpin yang selalu mendidik dengan berbagai caranya agar kita selalu mandiri dan kuat. Tiga hari lalu, saya masih terima SMS. Beliau mengatakan kondisinya baik-baik saja dan tidak usah khawatir,” paparnya.

Menurut Muhaimin, Gus Dur memang guru segala hal. Cara hidupnya sederhana serta selalu memberikan keteladanan dan pengayoman kepada semua. ”Beliau itu tidak pernah memikirkan diri sendiri,” kenangnya.

Dalam politik, lanjutnya, Gus Dur selalu menanamkan untuk mengayomi, menghormati, dan mencintai sesama. (sut)
Sri Pannyavaro Mahathera

Bhikku Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Sangha Theravada Indonesia, merasakan kehilangan yang besar dengan wafatnya Gus Dur.

”Saya merasakan ketulusan hati Gus Dur dalam setiap kesempatan bertemu dan berdiskusi dengannya. Bagi saya, ketulusan itu sesuatu yang teramat mulia dari Gus Dur,” ungkap Sri Pannyavaro.

Ia menambahkan, Gus Dur adalah pribadi yang sangat menghargai setiap orang. Bagi Gus Dur, yang layak menjadi Bapak Bangsa, perbedaan adalah denyut kehidupannya. ”Kebajikan dan kearifan Gus Dur akan tetap bersama kita,” imbuh pimpinan agama Buddha ini. (sut)

AA Yewangoe

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe bertemu Gus Dur tiga bulan lalu ketika ada sebuah gereja yang izinnya dicabut wali kota. ”Beliau datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan. Itu adalah salah satu bukti, beliau menginginkan semua orang di Indonesia memperoleh haknya, hak beribadah,” katanya.

Dia melanjutkan, Gus Dur adalah tokoh bangsa yang tidak tergantikan. ”Beliau sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia,” katanya lagi. (sie)

Din Syamsuddin

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengakui, kepergian Gus Dur adalah kehilangan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Betapapun, selama hidupnya Gus Dur menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa berharga bagi bangsa.

Walaupun banyak ide dan sikapnya yang kontroversial, kata Din, banyak pula idenya yang bermanfaat, seperti tentang pengembangan kemajemukan dan penguatan demokrasi. ”Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan bangsa segera tergantikan dengan tokoh lain,” harapnya. (nta)

Idrus Marham

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya Idrus Marham menilai, siapa pun yang obyektif dan jujur pasti merasa kehilangan dengan wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Idrus, KH Abdurrahman Wahid adalah tokoh bangsa yang punya kontribusi besar bagi pengembangan demokratisasi di Indonesia. Gus Dur banyak mendorong lahirnya demokratisasi dan kemanusiaan di negeri ini.

Menurut Idrus, banyak orang mengatakan, Gus Dur juga orang yang sering melawan arus. Namun, sesungguhnya Gus Dur justru membuat arus. Gus Dur membuat arus demokratisasi. Gus Dur membuat arus pluralisme di negeri ini. (sut)

KH Hasyim Muzadi

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi mengatakan, wafatnya Gus Dur merupakan kehilangan besar bagi warga NU dan bangsa. Gus Dur, yang merupakan mantan Ketua Umum PBNU, dinilai sebagai tokoh besar dalam NU. ”Dalam dekade terakhir ini, belum ada gantinya orang yang sekelas Gus Dur,” katanya.

Bangsa Indonesia, lanjut Hasyim, kehilangan dua hal besar dan mahal dengan meninggalnya Gus Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam. Tetapi, humanismenya itu melintasi agama, etnis, teritorial, dan negara. (MZW)

Benny Susetyo

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) A Benny Susetyo Pr mengakui kaget dengan kepergian Gus Dur. ”Tiga hari lalu, sebelum operasi, Gus Dur masih telepon dan kami bercanda. Saya tak menduga, ia pergi begitu cepat,” katanya.

Diakui Benny. Gus Dur adalah tokoh yang sangat menghargai pluralisme dan kesatuan Indonesia. ”Terakhir, ia memesankan, fundamentalisme itu jangan dimusuhi, tetapi harus dicintai. Ini jelas menunjukkan kecintaannya pada kesatuan Indonesia,” katanya lagi. (tra)

KH Ma’ruf Amin

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengakui, Gus Dur adalah seorang pejuang demokrasi yang cerdas. Ia berani dalam segala hal meskipun banyak yang tak sama pendapatnya dengan dia. Bila melakukan perubahan, jika menurut dia benar, tidak akan mau mengubah pendapatnya.

Wafatnya Gus Dur adalah kehilangan besar bagi Bangsa Indonesia. Kehilangan seseorang yang peranannya besar dalam perubahan di Indonesia.

Ma’ruf pernah menjabat Sekjen PBNU ketika Gus Dur menjadi ketua umum. (idr)

Amir Syamsuddin,

Amir Syamsuddin, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, mengesankan Gus Dur adalah orang besar yang dilahirkan di republik ini. ”Kita tidak bisa melupakan peranan Gus Dur yang terukir dalam sejarah sebagai tokoh yang menempatkan pluralisme, melindungi pluralisme, dan menghapus sekat-sekat. Dia pula yang berperan menghentikan dominasi militer,” katanya lagi.

Ini kehilangan besar bagi negeri ini. ”Kita harus belajar dalam ketegasan bersikap dalam hal-hal seperti ini. Kalaupun ada kekurangan dalam dirinya, itu sangatlah tidak ada artinya dibandingkan peran dan jasanya. Dia putra terbaik. Dia harus ditempatkan di tempat yang terkemuka,” paparnya. (ana) (Kompas, 31 Desember 2009)

BERITA: Gus Dur yang Saya Kenal…

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , ,

Telepon berkali-kali berdering, SMS berdatangan. Pertanyaannya satu: Benarkah Gus Dur meninggal dunia?

Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena saya harus menjawab ”ya”. Dan, mereka semua menangis.

Mereka adalah orang-orang biasa dengan latar agama yang berbeda. Mereka tak pernah mengenal Gus Dur secara pribadi, tetapi merasa dekat dengan tokoh ini.

Bagi mereka, Gus Dur adalah pembela kaum minoritas, Gus Dur pejuang Islam moderat, Gus Dur pembela demokrasi … dan masih banyak lagi.

Bagi saya, Gus Dur adalah tokoh besar yang sangat membumi. Perkenalan kami dimulai tahun 1992 ketika Gus Dur masih menjabat Ketua Tanfidziyah PB Nahdlatul Ulama di bawah rezim Soeharto. Secara intens kami sering berdiskusi di kamar kerjanya yang kecil dan bersahaja di Kantor PBNU di Kramat Raya.

Di antara buku-buku, kertas, tumpukan kaset dan CD musik klasik yang memenuhi meja kerjanya, Gus Dur kerap ”menyembunyikan” makanan lorju’ (kacang bercampur ikan kecil). Ia senang mengobrol sambil mengudap.

”Jangan bilang-bilang ya, nanti Mbak Nur (Shinta Nuriyah, sang istri) marah, saya kan disuruh diet. Tapi, ini makanan enak,” katanya sambil terkekeh.

Sudah sejak lama Gus Dur mengidap diabetes sehingga sebetulnya ia dilarang untuk makan seenaknya. Tapi, Gus Dur memang susah dilarang. Lagi pula, siapa di lingkungan PBNU yang berani melarangnya? ”Yang berani cuma Mbak Nur,” katanya.

Topik diskusi yang sering kami singgung—kadang bersama tamu-tamu lain—antara lain tentang masa depan Nahdlatul Ulama. Sejak belasan tahun lalu Gus Dur sudah memproyeksikan bahwa akan ada tiga corak di tubuh NU.

Yaitu corak kiai fikih yang dirangsang pikiran modern (Gus Dur saat itu mencontohkan Kiai Ishomudin), corak LSM (ia mencontohkan Masdar Mas’udi), dan corak gado-gado, yaitu masyarakat biasa maupun politisi yang memiliki pengabdian di NU.

Dialog dari ketiga corak inilah, kata Gus Dur, yang akan menentukan wajah transformatif NU di masa depan.

Perkembangan Islam di Indonesia, toleransi terhadap agama lain, perlindungan terhadap kaum minoritas, dan demokrasi juga merupakan topik yang bisa membuatnya semangat berbicara sampai berjam-jam.

Mengenai wajah Islam Indonesia, misalnya, Gus Dur kala itu mendukung pandangan almarhum Nurcholish Madjid. ”Tolong Cak Nur dibela ya. Kasihan, saat ini dia sedang mendapat banyak tentangan,” pesannya kala itu.

Setiap hari, warga NU dari berbagai daerah setia menunggu di ruang tunggu Kantor PBNU (yang masih belum direnovasi) untuk bertemu dengannya. Mereka datang untuk meminta petunjuk tentang persoalan di daerah dan Gus Dur melayani mereka satu per satu.

Gus Dur tak pernah membedakan kelas sosial. Warga NU yang menikah atau meninggal dunia akan dicoba untuk disambanginya. Meskipun ia harus masuk ke gang-gang kecil atau berkendaraan berjam-jam.

Saya masih ingat ketika ayahanda meninggal dunia tahun 1999, Gus Dur datang melayat dan ikut menshalati. Ia pun beberapa kali menelepon untuk menghibur dan memberi penguatan. ”Saya mengerti bagaimana kesedihan Anda. Saya juga sangat kehilangan ketika ibu dulu pergi,” kata Gus Dur tentang almarhumah ibunda, Ny Hj Solichah Wahid Hasyim.

Bahkan, Gus Dur masih menyempatkan menjenguk ketika saya terbaring di rumah sakit. Sungguh sebuah bentuk perhatian yang mengharukan dari tokoh bersahaja ini.

Indra keenam

Banyak yang meyakini Gus Dur memiliki indra keenam. Terlepas dari benar atau tidaknya, tetapi suatu siang pada tahun 1998 Gus Dur menelepon. Kali ini cukup lama, sekitar satu jam. Ia menceritakan tentang berbagai hal, termasuk mimpinya. Singkatnya, mimpi itu memberikan isyarat yang nyata bagi Gus Dur.

”Mbak, saya akan menjadi presiden,” katanya tenang.

Saya tidak menanggapi dengan serius, tetapi saya mencatat obrolan itu. Sekitar setahun kemudian, Gus Dur benar-benar menjadi presiden.

Ketika saya menemuinya di Istana Negara, Gus Dur hanya tertawa terkekeh ketika diingatkan akan mimpinya tersebut.

Wajah Istana Negara pada masa kepemimpinan Gus Dur berubah total, tidak lagi angker dan formal. Wartawan maupun masyarakat bisa memiliki akses yang leluasa. Hubungan pun lebih cair dan penuh guyon.

Pertemuan saya terakhir adalah pada hari ulang tahunnya bulan Agustus 2009. Tercekat rasanya melihat Gus Dur dibaringkan di ruang tamu. Gus Dur berusaha menyambut setiap tamu dengan mengangkat tangan dan menganggukkan kepala. Meskipun suaranya sudah lirih, Gus Dur tetap semangat bercerita tentang Indonesia.

Dari karangan bunga dan banyaknya tamu yang datang hari itu, jelas bahwa tokoh besar ini sangat disayang masyarakat. Seorang sahabat bahkan sampai menitikkan air mata ketika mendoakan kesehatan Gus Dur. ”Saya mendoakan dia berumur panjang. Karena dialah pembela kaum minoritas,” katanya.

Tuhan memiliki rencana sendiri. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Tokoh besar ini meninggal dunia, Rabu (30/12), di tengah keluarga yang mencintainya. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Seorang demokrat yang gigih memperjuangkan kebebasan dan demokrasi.

Selamat jalan Gus, semoga kami bisa meneladani dan meneruskan semua perjuanganmu…. (Myrna Ratna) (Kompas, 31 Desember 2009)

BERITA: Guru Bangsa Itu Telah Pergi

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , , , ,

Laa Ilaaha illa Allah…, Laa Ilaaha illa Allah…, Laa Ilaaha illa Allah…, Muhammad ar Rasulullah….

Gema bacaan tahlil yang menyatakan keesaan Allah dan pengakuan atas kerasulan Muhammad SAW itu menggema di lorong-lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (30/12) malam, saat jenazah mantan Presiden Abdurrahman Wahid dibawa dengan keranda dari Gedung Ruang Pacu Jantung Terpadu RSCM menuju ambulans yang diparkir di depan Gedung A RSCM.

Tahlil itu diucapkan ratusan orang yang berdesakan mengiringi keranda jenazah guru bangsa yang akrab dipanggil Gus Dur.

Semua ingin melepas kepergian Gus Dur. Tokoh agama, politisi, menteri, pejabat negara, hingga rakyat biasa mengantar kepergian Gus Dur. Semua tumpah ruah memenuhi lorong-lorong rumah sakit.

Mereka menunggu hingga ambulans milik Garnisun dengan nomor 6703-00 melaju menuju rumah duka di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Gus Dur meninggal dunia sekitar pukul 18.45 di RSCM. Tidak berapa lama, kabar wafatnya presiden keempat itu pun tersiar luas.

Sejumlah tokoh bangsa pun berbondong-bondong datang ke RSCM untuk memberikan penghormatan. Lorong menuju ruang Pusat pacu Jantung Terpadu, tempat Gus Dur dirawat, penuh sesak. Penjagaan di pintu-pintu masuk langsung diperketat.

Satu per satu kerabat, kolega, pejabat, dan tokoh bangsa berdatangan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, mantan menteri Alwi Shihab, dan banyak tokoh lain berdatangan ke rumah sakit.

Tidak hanya tokoh Islam, tokoh lintas agama juga datang untuk memberikan ungkapan dukacita.

Selama menunggu jenazah Gus Dur keluar dari ruang perawatan, warga dan simpatisan menggelar doa tahlil di Lantai 5 Ruang Pacu Jantung Terpadu RSCM. Doa-doa dilantunkan dengan tulus dan khusyuk.

Sempitnya ruangan membuat siapa pun warga yang ada di ruang itu berdesakan, tak peduli jabatan atau kedudukannya. Semua warga masyarakat dari berbagai lapisan tunduk dalam kedukaan yang mendalam.

Saat jenazah Gus Dur dibawa keluar, sempat terjadi dorong-dorongan antara awak media, petugas keamanan, dan masyarakat yang ingin melihat keranda Gus Dur dari dekat.

Sejumlah pelayat yang berhasil memegang keranda Gus Dur tak kuasa membendung tangis.

Pendorong demokrasi

Bagi Indonesia, Gus Dur adalah guru bangsa. Ia bukan hanya tokoh multikulturalisme, tetapi juga pendorong demokrasi di Indonesia. Mengawinkan demokrasi dengan nilai-nilai Islam yang dipelajarinya sejak kecil.

Pendapat itu di antaranya diungkapkan Staf Ahli Presiden Daniel Sparringa dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie setelah mengantar jenazah Gus Dur keluar rumah sakit.

Daniel kembali mengingat peristiwa tahun 1991 saat ia menyusun disertasi. ”Saya punya rekaman panjang hasil wawancara dengan beliau soal demokratisasi di Indonesia,” tuturnya.

Jauh sebelum reformasi digaungkan, Gus Dur telah lebih dahulu memikirkan bagaimana mendorong demokratisasi di Indonesia.

Cucu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama itu bahkan menjadi perekat hubungan antarumat beragama.

Saat itu, lanjut Daniel, Gus Dur telah memikirkan bagaimana cara merekonstruksi bangsa.

Saat menjabat presiden, buah pikiran itu diterjemahkan Gus Dur dengan menyatukan perbedaan agama, suku, dan bangsa di bawah bingkai demokrasi.

Ia berhasil meyakinkan bangsa bahwa demokrasi bisa dikembangkan bersama-sama dalam masyarakat yang majemuk.

”Gus Dur membantu saya untuk mengerti negeri ini, pelajaran yang sangat berharga,” kenangnya.

Bahkan, Jimly menilai Gus Dur sebagai pahlawan pluralisme dan demokrasi Indonesia. Menurut dia, Gus Dur adalah satu-satunya presiden yang bisa mengarahkan opini publik, bukan larut mengikuti opini publik, seperti dilakukan pemimpin bangsa saat ini.

”Gus Dur itu tidak tunduk kepada massa, tetapi selalu bisa mengarahkan massa. Orang seperti Gus Dur sangat dibutuhkan bangsa ini,” katanya.

Totalisme Gus Dur dalam memikirkan nasib bangsa terlihat dari obrolan-obrolannya sebelum meninggal. Beberapa saat sebelum pergi, Gus Dur masih sempat memikirkan masalah bangsa.

Ia terus berdiskusi tentang bagaimana masa depan bangsa ke depan.

”Tadi, sekitar jam 17.00 saat kami berkumpul di ruangan, beliau masih ngobrol soal bangsa ke depan. Bercerita panjang lebar,” kata Achid Yaqub, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur yang dekat dengan Gus Dur.

Gus Dur telah mencurahkan segenap pemikiran, tenaga, dan harapan untuk masa depan bangsa. Terus berpikir bagaimana mengubah bangsa agar menjadi lebih baik.

Kini, guru bangsa itu telah pergi. Selamat jalan Gus Dur….(Anita Yossihara/ M Zaid Wahyudi) (Kompas, 31 Desember 2009)

BERITA: Dunia Apresiasi Gus Dur

Posted 1 Januari 2010 by Bintang Writing School
Categories: Berita

Tags: , , , , , , , , , ,

WASHINGTON (SI) – Para pemimpin dunia menyatakan duka cita yang mendalam atas wafatnya tokoh pluralisme KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).Gus Dur dinilai sebagai salah satu tokoh demokrasi yang patut diteladani. Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama kemarin menyatakan ungkapan turut berduka atas wafatnya mantan Presiden Keempat RI ini.

Gedung Putih memuji Gus Dur sebagai suri teladan dalam toleransi beragama yang memainkan peranan penting dalam transisi demokrasi. “Rakyat Amerika Serikat (AS) bersamasama dengan rakyat Indonesia turut berduka atas kematian mantan Presiden Abdurrahman Wahid,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs dalam pernyataan resminya kemarin. Gibbs menilai Gus Dur sebagai salah satu sosok terpenting dalam dunia demokrasi, terutama di kawasan negara-negara berkembang.“

Tokoh penting dalam transisi demokrasi di Indonesia, Presiden Wahid, akan selalu dikenang atas komitmennya terhadap prinsip demokrasi,politik inklusif,dan toleransi beragama,”imbuhnya. Gibbs memuji Gus Dur sebagai sosok yang selalu bekerja keras demi perdamaian dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Dia juga mengungkapkan bahwa Gus Dur berusaha menjadi jembatan di antara orang yang berbeda keyakinan. “Kami menyampaikan duka cita terdalam kami bagi keluarga mantan Presiden Wahid dan rakyat Indonesia,”jelas dia. Dari Kuala Lumpur, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak juga menyampaikan ucapan duka kepada keluarga Gus Dur dan rakyat Indonesia atas wafatnya mantan Presiden RI itu.

“Pengaruh kuat Gus Dur dalam menentukan Indonesia tidak dapat dianggap remeh. Gus Dur merupakan negarawan dan ilmuwan, dia berjuang untuk membawa perubahan dan reformasi yang didasari nilai-nilai Islam,”ujar Najib ketika memuji koleganya dalam blog pribadinya,www.1malaysia. com.my. Lebih lanjut Najib mengungkapkan Gus Dur merupakan tokoh yang memiliki pemikiran lebih maju pada masanya.

Selain itu, dia seorang penganut teguh akan pentingnya toleransi dan persatuan dalam kebutuhan untuk melindungi kaum lemah, termasuk kelompok minoritas. Menurutnya, Gus Dur selalu menekan pemerintah agar menyederhanakan semua proses demi kepentingan orang banyak. “Dari kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama hingga mendirikan Wahid Institute, kerja sosialnya seharusnya menjadi contoh bagi kita semua untuk diikuti,” papar Najib.

“Saya berharap pemikiran dan nilai-nilai Gus Dur akan terus berkembang pesat dalam benak banyak orang,” imbuhnya seperti dikutip dari kantor berita Bernama. Tidak ketinggalan mantan PM Mahathir Mohamad juga mengekspresikan kesedihannya kepada keluarga Gus Dur. “Saya paham bahwa Gus Dur merupakan seorang patriot dan nasionalis yang berjuang untuk Indonesia dan Islam.

Meskipun ada kalanya ketika saya tidak sepakat dengan mantan presiden, saya masih menghargai pandangannya,” papar Mahathir setelah menandatangani buku duka di Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengucapkan duka atas meninggalnya Gus Dur. Dalam sebuah surat yang disampaikan kepada istri Gus Dur, Lee mengatakan mantan Presiden RI itu akan selalu diingat sebagai tokoh Islam moderat dan pembela kamu minoritas.

Sejumlah pejabat senior Singapura lain, termasuk Menteri Luar Negeri George Yeo, juga menuliskan surat kepada istri Gus Dur. Presiden Singapura S R Nathan, Penasihat Menteri Lee Kuan Yew juga menulis surat kepada istri Gus Dur. Dari Australia, rakyat Negeri Kanguru itu juga memberikan penghormatan kepada Gus Dur, presiden pertama Indonesia yang dipilih secara demokratis.Australia mengenal sosok Gus Dur sebagai cendekiawan dan demokrat sekuler yang menjadi presiden setelah kejatuhan Presiden Soeharto pada Mei 1998.

“Mantan Presiden Wahid sangat dihargai dan dihormati bukan hanya di Indonesia,tetapi juga oleh banyak orang Australia dan banyak lainnya di negara kita,” kata PM Australia Kevin Rudd dalam sebuah pernyataannya. Kevin Rudd menilai Gus Dur merupakan tokoh penting dalam sejumlah agenda reformasi penting yang dilaksanakan Indonesia untuk menuju sebuah demokrasi yang modern.

Dia juga merupakan tokoh berpengaruh sebagai pemimpin Islam moderat di Indonesia dan memiliki keberpihakan yang kuat terhadap etnik dan toleransi beragama. Gus Dur pernah mengunjungi Australia pada 2001, merupakan presiden pertama Indonesia yang melakukan kunjungan sejak sebuah lawatan singkat yang dilakukan Presiden Soeharto pada 1975.

Dalam pandangan cendekiawan Australia Greg Barton yang juga penulis biografi Gus Dur, warisan mantan pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu adalah meningkatkan harapan dalam demokrasi yang seharusnya dilakukan dan ekspektasi harus bagaimana bangsa Indonesia? “Dia melakukan hal itu tanpa modal politik,” ujar Barton. “Dalam caranya,dia mencapai apa yang dia lakukan meskipun dia bukan seorang politikus,”imbuhnya.

Dari Beijing,Pemerintah China juga mengungkapkan rasa duka atas meninggalnya Gus Dur. Juru Bicara Departemen Luar Negeri Jiang Yu mengutarakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemerintah dan rakyat China berduka atas meninggalnya Gus Dur. Presiden China Hu Jintao juga telah mengirimkan sebuah surat ungkapan duka kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (AFP/Xinhua/CNA/andika hm)  (www.seputar-indonesia.com, 1 Januari 2010)